AI dan Otomasi Ubah Peta Kerja: 36 Juta Pekerjaan Tergeser
ORBITINDONESIA.COM – AI dan otomasi diproyeksikan memangkas permintaan sekitar 36 juta pekerjaan di AS pada 2035, tetapi pertumbuhan sektor lain akan menciptakan sekitar 41 juta pekerjaan baru. Laporan McKinsey Global Institute menegaskan masalahnya bukan kekurangan kerja, melainkan mobilitas tenaga kerja dan reskilling agar orang bisa pindah ke pekerjaan yang tumbuh.
McKinsey menulis, “tantangan dekade berikutnya adalah mobilitas, bukan kelangkaan,” sebuah kalimat yang terdengar optimistis sekaligus mengancam. Pekerjaan baru ada, tetapi jalur menuju pekerjaan itu tidak otomatis terbuka bagi pekerja yang terdorong keluar dari profesinya.
Dalam skenario dasar, sekitar 11 juta pekerja atau 7% angkatan kerja perlu meninggalkan okupasinya sepenuhnya, dengan rentang 6–16 juta. Angka ini sejalan dengan proyeksi McKinsey pada 2023 tentang 12 juta perpindahan karier pada 2030.
Perpindahan yang dimaksud bukan sekadar pindah kantor, melainkan lintas bidang, misalnya dari ritel ke layanan kesehatan. McKinsey memperkirakan sekitar 770 ribu orang per tahun harus melakukan lompatan semacam itu, kira-kira 3,6 kali rata-rata historis.
Laporan itu mencatat, selama 2019–2022 pada masa pandemi, sekitar 788 ribu pekerja per tahun melakukan perpindahan besar serupa tanpa kerusakan jangka panjang yang menetap. Namun pandemi juga pengecualian, karena ada guncangan dan stimulus yang tidak selalu terulang.
Di luar periode pandemi, pekerja AS justru lebih jarang berpindah pemberi kerja dibanding akhir 1990-an dan awal 2000-an. Artinya, budaya mobilitas melemah ketika tuntutan mobilitas justru naik.
Pekerjaan yang menyusut terkonsentrasi pada dukungan perkantoran dan administrasi, ritel, serta transportasi. Banyak di antaranya adalah pekerjaan bergaji lebih rendah, sehingga dampak AI dan otomasi terasa sebagai tekanan kelas pekerja, bukan sekadar isu teknologi.
McKinsey menyebut pekerja berupah rendah 7,6 kali lebih mungkin membutuhkan okupasi baru dibanding pekerja berupah tinggi. Sementara itu, pertumbuhan pekerjaan ada di layanan kesehatan, konstruksi, dan manajemen.
Urbanis Richard Florida mengingatkan bahwa pergeseran besar semacam ini pernah terjadi, dari pertanian ke manufaktur lalu ke jasa. Ia mencontohkan, dahulu mayoritas orang bekerja di pertanian, kini hanya sekitar 1% angkatan kerja, dan manufaktur turun menjadi sekitar 5–6%.
Florida memprediksi pekerja jasa yang terdorong keluar akan masuk ke “ember besar” pekerjaan wellness, dari kebugaran dan dermatologi hingga studio Pilates. Ia mengakui ada displacement, tetapi ia juga melihat sektor inilah yang akan menciptakan banyak pekerjaan baru.
Namun data McKinsey menegaskan tidak semua orang punya jalan mulus menuju pekerjaan yang tumbuh. Hanya satu dari tujuh pekerja yang tergeser memiliki jalur langsung ke pekerjaan berkembang yang butuh sedikit pelatihan ulang dan membayar setidaknya sama.
Hampir separuh menghadapi jalur “belum diaspal,” terhalang kesenjangan keterampilan besar atau syarat kredensial. Sekitar 85% pekerjaan yang tumbuh membutuhkan kredensial, sehingga sertifikat, lisensi, dan gelar menjadi gerbang baru pasar kerja.
Florida menilai perusahaan mengubah cara merekrut, dari sekadar mencari orang “pintar” menjadi mencari orang yang bisa membangun bisnis dan bekerja dengan pelanggan. Ini menandai pergeseran dari seleksi berbasis potensi ke seleksi berbasis kesiapan operasional.
Hambatan kedua adalah geografi, karena sekitar 76% pekerjaan yang tumbuh tidak bisa dikerjakan jarak jauh. McKinsey menyebut contohnya pekerjaan di rumah sakit, lokasi konstruksi, dan pusat data, yang menuntut kehadiran fisik.
Florida menjelaskan kerja manual cenderung tersebar, sedangkan kerja kognitif terkonsentrasi di kota besar. Ketika pekerjaan tumbuh banyak yang “hadir fisik,” maka perpindahan karier sering berarti perpindahan tempat tinggal.
Ia memberi contoh orang pindah dari Toronto ke Miami meski tidak sejalan secara politik, karena pajak lebih rendah dan peluang ekonomi lebih besar. Di Nashville, ia mendengar alasan serupa: hidup di kota “biru” dalam negara bagian “merah” terasa menguntungkan secara biaya dan gaya hidup.
Florida mengakui, ketika menulis The Rise of the Creative Class (2002), ia tidak membayangkan teknologi akan memungkinkan penyebaran kerja seperti sekarang. Namun AI justru membuat paradoks: sebagian kerja bisa menyebar, sementara banyak pekerjaan yang tumbuh tetap menuntut kedekatan fisik.
Kota-kota kemudian berlomba menarik talenta dengan membangun jangkar pendidikan. Pendiri Citadel, Ken Griffin, berkomitmen US$3 miliar untuk Carnegie Mellon University, dengan US$2 miliar untuk kampus baru di Miami yang menargetkan mahasiswa pertama pada 2028.
Vanderbilt juga membangun kampus pascasarjana di West Palm Beach berfokus pada bisnis, AI, dan data science, didukung US$50 juta dari pengembang Stephen Ross. Florida, yang bergabung dengan Vanderbilt, menyebut Griffin menyadari kota butuh “talent anchor,” bukan sekadar relokasi modal.
Di balik narasi “41 juta pekerjaan baru,” ada pertanyaan yang lebih tajam: siapa yang benar-benar bisa mengakses pekerjaan itu. Jika 85% pekerjaan tumbuh mensyaratkan kredensial, maka AI bukan hanya mengganti tugas, tetapi juga mempertebal pagar masuk pasar kerja.
Mobilitas yang diminta McKinsey terdengar rasional di atas kertas, tetapi mahal di dunia nyata. Pekerja upah rendah yang paling terdampak sering kali paling sulit menanggung biaya pelatihan, kehilangan pendapatan sementara, dan relokasi keluarga.
Paradoks lain muncul pada kerja jarak jauh, yang sering dipuji sebagai solusi pemerataan kesempatan. Ketika 76% pekerjaan tumbuh tidak remote, maka “kebebasan” kerja jarak jauh lebih banyak dinikmati kelas pekerjaan tertentu, sementara yang lain tetap terikat lokasi.
Optimisme Florida tentang ledakan pekerjaan wellness menarik, tetapi juga mengundang skeptisisme. Jika pekerjaan wellness menjadi lebih bergaji tinggi, apakah itu karena produktivitas meningkat, atau karena layanan kesehatan preventif dan gaya hidup menjadi komoditas bagi kelas menengah atas.
Di titik ini, AI dan otomasi tampak seperti akselerator ketimpangan, bukan penyebab tunggal. Mereka mempercepat perpindahan nilai ekonomi ke sektor yang mensyaratkan lisensi, jejaring, dan kota-kota yang mampu membangun universitas sebagai magnet talenta.
Karena itu, isu inti bukan sekadar reskilling, melainkan desain jalur transisi yang adil. Tanpa beasiswa mikro, pengakuan pengalaman kerja, magang berbayar, dan kredensial modular yang murah, “mobilitas” berubah menjadi slogan yang menyalahkan individu.
Laporan McKinsey memberi pesan ganda: pekerjaan tidak hilang total, tetapi berpindah alamat, berpindah syarat, dan berpindah kelas sosial. AI dan otomasi memaksa jutaan orang menyeberang, sementara jembatan menuju pekerjaan baru sering berupa kredensial dan geografi.
Pertanyaannya bukan apakah kita bisa menciptakan pekerjaan, melainkan apakah kita mau membangun aksesnya. Jika kota, kampus, dan perusahaan menjadi “jangkar talenta,” maka negara dan industri perlu memastikan jangkar itu tidak hanya menarik yang sudah siap, tetapi juga mengangkat yang terdorong keluar.
Pada 2035, kita mungkin melihat ekonomi yang lebih produktif, tetapi juga lebih selektif. Yang menentukan arah akhirnya adalah apakah transisi tenaga kerja diperlakukan sebagai proyek publik yang serius, atau dibiarkan menjadi perlombaan individu melawan mesin.
(Orbit dari berbagai sumber, 5 Oktober 2026)