Ellen Imasa Bentuk Budaya Kerja Inklusif Berbasis Growth

Philstar.com

Philstar.com

Money & Career

ORBITINDONESIA.COM – Ellen Imasa mendorong budaya kerja inklusif yang menautkan growth mindset, tujuan, dan rasa aman psikologis di kantor. Di tengah tren karyawan mencari makna kerja, pendekatan ini membuat pertumbuhan tidak lagi sekadar target, tetapi pengalaman bersama.

Budaya kerja sering dipersempit menjadi slogan di dinding dan daftar nilai di intranet. Padahal, yang menentukan adalah kebiasaan harian: cara rapat dipimpin, cara kritik disampaikan, dan cara keputusan diambil.

Dalam beberapa tahun terakhir, isu burnout, quiet quitting, dan kesenjangan kesempatan membuat perusahaan berlomba-lomba bicara tentang wellbeing dan inclusion. Namun banyak program berhenti di pelatihan satu kali, tanpa perubahan sistem yang menyentuh promosi, evaluasi, dan distribusi beban kerja.

Artikel tentang Ellen Imasa menempatkannya sebagai figur yang membantu membentuk kultur tempat kerja berbasis growth, inclusion, dan purpose. Itu terdengar ideal, tetapi justru di situlah pertaruhan nyata: apakah nilai itu hidup dalam proses, atau hanya menjadi narasi korporat.

Secara global, dorongan menuju budaya yang lebih manusiawi bukan tren kosong. Laporan Gallup State of the Global Workplace 2024 mencatat engagement karyawan global masih rendah, dan stres harian tetap tinggi di banyak negara, menandakan masalah sistemik pada pengalaman kerja.

Di sisi lain, riset Deloitte Global Human Capital Trends beberapa tahun terakhir berulang kali menekankan pergeseran dari “pekerjaan” ke “pengalaman kerja”, dengan fokus pada makna, fleksibilitas, dan keadilan. Ini menjelaskan mengapa kata kunci seperti budaya kerja inklusif, growth mindset, dan purpose-driven leadership semakin sering dicari publik.

Dalam kerangka itu, peran seperti yang disorot pada Ellen Imasa biasanya bekerja pada dua level sekaligus: perilaku pemimpin dan desain sistem. Perilaku tanpa sistem akan rapuh, sedangkan sistem tanpa teladan akan dianggap sekadar kepatuhan.

Budaya growth menuntut ruang untuk mencoba dan salah secara aman. Tanpa psychological safety, karyawan cenderung memilih strategi bertahan: diam saat rapat, menghindari risiko, dan menyamarkan masalah sampai terlambat.

Budaya inclusion juga tidak selesai dengan pernyataan “kami menghargai keberagaman”. Ia harus terlihat pada akses informasi, kesempatan proyek strategis, dan mekanisme umpan balik yang melindungi suara minoritas dari pembalasan terselubung.

Purpose, sementara itu, mudah berubah menjadi jargon jika tidak diterjemahkan ke prioritas kerja. Tujuan yang hidup terlihat ketika tim bisa menjawab pertanyaan sederhana: mengapa pekerjaan ini penting, dan siapa yang diuntungkan selain angka kuartalan.

Di banyak organisasi, titik rawan ada pada middle management. Jika manajer menengah tidak dilatih mengelola konflik, memberikan coaching, dan menilai kinerja secara adil, maka program budaya akan “bocor” di lapisan eksekusi.

Karena itu, figur seperti Ellen Imasa menjadi menarik bukan karena karismanya, melainkan karena kemampuan mengubah kebiasaan menjadi standar. Ukuran keberhasilan yang lebih jujur adalah: apakah rapat menjadi lebih setara, apakah promosi lebih transparan, dan apakah karyawan berani menyampaikan masalah sebelum meledak.

Yang patut diapresiasi dari narasi Ellen Imasa adalah keberanian menempatkan growth, inclusion, dan purpose sebagai satu paket. Banyak perusahaan memilih salah satu, lalu mengorbankan yang lain demi kecepatan atau efisiensi.

Namun ada risiko besar ketika “growth” diterjemahkan sebagai tuntutan produktivitas tanpa batas. Growth mindset yang sehat seharusnya memperluas kapasitas manusia, bukan memerasnya dengan target yang terus naik tanpa pemulihan.

Inclusion juga bisa disalahgunakan menjadi kosmetik reputasi. Jika organisasi memamerkan keberagaman di materi publik, tetapi tetap menutup data kesenjangan gaji atau jalur promosi, maka inclusion berubah menjadi alat pemasaran.

Purpose pun sering dipakai untuk menutupi keputusan sulit, seolah-olah semua pengorbanan karyawan sah demi misi besar. Di sini, kepemimpinan berbasis purpose seharusnya justru lebih transparan tentang trade-off dan lebih adil dalam membagi beban.

Sudut tajamnya adalah ini: budaya kerja bukan urusan “baik hati”, melainkan urusan kekuasaan dan distribusi kesempatan. Ketika Ellen Imasa membantu membentuk kultur, pertanyaannya bukan hanya apa yang ia katakan, tetapi perubahan apa yang ia institusikan.

Jika perubahan itu nyata, dampaknya akan terasa pada hal sederhana tetapi menentukan. Karyawan akan lebih cepat berkembang karena mendapat umpan balik yang jernih, lebih aman karena konflik ditangani, dan lebih terarah karena tujuan diterjemahkan menjadi prioritas.

Kisah Ellen Imasa mengingatkan bahwa budaya kerja inklusif dan growth mindset tidak lahir dari poster nilai. Ia lahir dari keputusan kecil yang konsisten, dari cara pemimpin mendengar hingga cara organisasi memberi ruang untuk belajar.

Pada akhirnya, purpose di tempat kerja hanya bermakna jika ia melindungi martabat manusia yang menjalankannya. Pertanyaan untuk setiap organisasi sederhana tetapi menohok: apakah budaya yang Anda bangun membuat orang bertumbuh, atau hanya membuat mereka bertahan?

(Orbit dari berbagai sumber, 21 Agustus 2026)