Samsung AX AI Transformation: AI Jadi Tulang Punggung Organisasi

starnewskorea.com

starnewskorea.com

Money & Career

ORBITINDONESIA.COM – Samsung AX (AI Transformation) bukan sekadar program adopsi chatbot, melainkan upaya menjadikan AI sebagai infrastruktur kerja dari R&D hingga layanan. Pada 9 Agustus, Samsung mengumumkan peluncuran penuh AX untuk merombak cara kerja dan budaya organisasi dengan AI di seluruh rantai nilai.

Langkah ini dibaca sebagai kelanjutan dari pesan Tahun Baru Chairman Lee Jae-yong yang menuntut perombakan metode kerja dan “DNA organisasi” agar AI terintegrasi di semua value chain. Samsung sudah memimpin narasi produk lewat Galaxy S24 sebagai “AI phone”, lalu memperluasnya ke perangkat rumah dan kacamata AI.

Namun, perusahaan tampaknya menyadari satu hal: keunggulan produk tidak otomatis berarti keunggulan organisasi. Di era ketika kompetitor bisa meniru fitur dalam hitungan kuartal, kecepatan keputusan dan efisiensi proses internal menjadi medan perang yang lebih menentukan.

Samsung menyebut AX sebagai desain ulang manajemen berbasis AI, bukan pemakaian generative AI sebagai alat bantu. AI akan diterapkan pada delapan proses kunci: pengembangan, pengadaan, manufaktur, logistik, pemasaran, penjualan, layanan, dan dukungan administrasi.

Ini penting karena delapan proses itu mencerminkan titik-titik di mana biaya, waktu, dan kualitas saling mengunci. Jika AI hanya berhenti di presentasi pemasaran atau ringkasan rapat, produktivitas naik kecil dan risiko “AI theater” membesar.

Samsung juga akan menggelar layanan generative AI eksternal seperti Google Gemini, OpenAI ChatGPT, dan Anthropic Claude ke seluruh afiliasi pada akhir bulan ini. Ekspansi ini menandai pergeseran dari penggunaan “kantoran” ke penggunaan “on-site” di pengembangan dan manufaktur.

Keputusan memakai layanan eksternal mempercepat adopsi, tetapi membuka pertanyaan klasik: data apa yang boleh keluar, dan apa yang harus tinggal di dalam pagar perusahaan. Samsung menjawabnya dengan membangun kerangka keamanan “canggih” agar pemakaian meluas tetap sejalan dengan kontrol risiko.

Yang paling politis sekaligus strategis adalah penekanan bahwa “AI literacy CEO menentukan sukses-gagal AX.” Karena itu, Samsung menggelar “AX Bootcamp” dua hari untuk sekitar 50 presiden afiliasi di Hoam Hall, sebuah sinyal bahwa transformasi ini dipaksa turun dari puncak.

Setelah presiden, giliran sekitar 2.300 eksekutif mengikuti pelatihan tiga hari dua malam hingga 12 Agustus di institusi pengembangan talenta Samsung. Seorang eksekutif mengaku terkejut bahwa pendidikan AI yang sistematis membuat kemampuan kerja “mudah dan luas,” sekaligus memunculkan rasa krisis untuk mengubah kerja lini depan.

Targetnya ambisius: pelatihan AI untuk seluruh karyawan selesai akhir tahun ini. Jika tercapai, itu akan membentuk “bahasa bersama” tentang AI, sehingga eksperimen tidak terpecah menjadi proyek-proyek kecil yang saling tidak kompatibel.

Samsung juga membentuk organisasi AI khusus di seluruh afiliasi untuk merancang strategi AX per bisnis, mengelola data dan model, serta menumbuhkan talenta AI. Struktur ini penting karena AI tanpa tata kelola data hanya akan mempercepat kekacauan, bukan mempercepat keputusan.

AX Samsung tampak seperti upaya mengubah AI dari fitur menjadi kebiasaan, dari “alat” menjadi “cara berpikir.” Ini langkah yang masuk akal karena nilai AI terbesar justru muncul saat ia menempel pada proses, bukan saat ia dipajang sebagai demo.

Namun, ada risiko yang sering luput: ketergantungan pada model eksternal bisa menciptakan “vendor gravity” dan kebocoran konteks bisnis. Jika guardrail keamanan hanya formalitas, perusahaan bisa membayar mahal melalui kebocoran data, bias keputusan, atau kepatuhan regulasi yang tertinggal.

Risiko lain adalah ilusi produktivitas, ketika output teks meningkat tetapi kualitas keputusan menurun karena orang berhenti memverifikasi. Karena itu, pelatihan eksekutif seharusnya tidak hanya mengajarkan prompt, tetapi disiplin evaluasi: kapan AI benar, kapan ia mengarang, dan bagaimana audit jejak keputusan dilakukan.

Di sisi budaya, deklarasi “AX Vision” yang bernuansa krisis juga punya dua sisi. Rasa genting bisa mempercepat perubahan, tetapi juga bisa mendorong kepanikan metrik: semua unit merasa harus “ber-AI” meski data belum siap dan proses belum stabil.

Jika Samsung berhasil, kompetisi akan bergeser dari siapa punya fitur AI paling ramai ke siapa punya organisasi paling cepat belajar. Jika gagal, AX bisa menjadi lapisan baru birokrasi yang mahal, penuh dashboard, tetapi miskin dampak di lantai pabrik dan meja layanan pelanggan.

AX Samsung memperlihatkan bahwa pertaruhan terbesar AI bukan pada chip atau aplikasi, melainkan pada desain organisasi dan keberanian mengubah kebiasaan kerja. Pelatihan presiden hingga karyawan, pembentukan tim AI, dan pembukaan akses ke Gemini, ChatGPT, serta Claude adalah sinyal bahwa mereka mengejar perubahan yang menyeluruh.

Pertanyaannya kini sederhana namun menentukan: apakah AI akan membuat keputusan lebih tajam, atau hanya membuat kesalahan lebih cepat. Pada akhirnya, transformasi bukan diukur dari seberapa sering orang memakai AI, tetapi seberapa jujur organisasi mengaudit hasilnya dan memperbaiki cara kerjanya setiap hari. (Orbit dari berbagai sumber, 9 Agustus 2026)