Talkshow Hubungan Sehat dan Toxic di Yogyakarta, Anak Muda Diminta Peka
ORBITINDONESIA.COM – Talkshow hubungan sehat dan toxic di Yogyakarta kembali menegaskan satu hal: banyak anak muda bertahan dalam relasi yang melukai karena tidak mengenali tandanya. Di RPCB Syantikara, tema “Stay or Run? Kenali Tanda Hubungan Sehat & Toxic” dibuka dengan pesan sederhana, bahwa relasi tidak boleh mengikis harga diri. “Kami menyusun tema ini, karena memang fenomena sosial di sekitar kita anak muda banyak yang berada dalam hubungan dan lingkungan yang toxic,” kata Elvira Beleza dari Dejavu Agency.
Acara yang digelar Minggu, 7 Juni 2026 itu diselenggarakan RPCB Syantikara bersama Dejavu Agency. Forum ini memosisikan edukasi relasi sebagai kebutuhan harian, bukan sekadar topik psikologi yang jauh dari realitas.
Panca Satriadi dari ZEAL Community Jogja hadir sebagai Youth Speaker. Ia mengajak peserta membaca ciri hubungan sehat, alasan orang bertahan, dan langkah membangun relasi yang lebih bertanggung jawab.
Isu relasi dipilih karena dekat dengan rutinitas anak muda, dari pacaran sampai pertemanan dan keluarga. Di ruang sosial yang serba cepat, standar relasi sering dibentuk oleh tekanan kelompok, bukan oleh kesadaran diri.
Talkshow ini menarik karena menempatkan “toxic” sebagai masalah pola, bukan sekadar label untuk orang tertentu. Dalam banyak kasus, relasi menjadi toxic ketika kontrol, manipulasi, dan ketimpangan kuasa dibiarkan menjadi kebiasaan.
Di Indonesia, literasi kesehatan mental memang meningkat, tetapi pemahaman relasi sehat sering tertinggal. Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 dari Kementerian Kesehatan menunjukkan masalah kesehatan jiwa pada remaja cukup menonjol, dan relasi sosial kerap menjadi faktor pemicu maupun pelindung.
Di level praktik, anak muda sering keliru mengartikan posesif sebagai perhatian. Mereka juga kerap menormalisasi “uji kesetiaan”, silent treatment, atau ancaman putus sebagai dinamika yang wajar.
Sesi diskusi dan tanya jawab dalam acara ini memperlihatkan isu tersebut nyata, bukan teori. Interaksi yang aktif menandakan banyak peserta membawa pengalaman pribadi, tetapi belum punya bahasa untuk menamainya.
Di sinilah fungsi talkshow menjadi penting, karena memberi kerangka berpikir yang lebih terukur. Relasi sehat biasanya ditandai batas yang jelas, komunikasi dua arah, rasa aman, dan ruang tumbuh yang setara.
Sebaliknya, relasi toxic sering memaksa seseorang mengecilkan diri demi “damai”. Ia membuat orang ragu pada persepsi sendiri, takut menolak, dan merasa bersalah ketika ingin menjaga batas.
Acara ini juga menegaskan bahwa relasi sehat tidak hanya soal romantis. Dalam keluarga, komunitas, dan organisasi, pola toxic bisa muncul lewat perundungan halus, gaslighting, atau budaya menyalahkan korban.
Talkshow seperti ini patut diapresiasi, tetapi juga perlu dibaca secara kritis. Kata “toxic” sering dipakai terlalu longgar, sehingga orang terburu-buru menyimpulkan tanpa memahami konteks dan proses perubahan.
Relasi tidak selalu harus “stay” atau “run” secara instan, karena ada spektrum situasi. Namun, spektrum itu berhenti ketika ada kekerasan, ancaman, atau kontrol yang menghilangkan otonomi, karena keselamatan harus menjadi prioritas.
Yang sering luput adalah faktor yang membuat orang bertahan, seperti takut kesepian, tekanan sosial, atau ketergantungan ekonomi. Jika faktor struktural ini tidak dibahas, edukasi relasi mudah jatuh menjadi nasihat moral yang menyalahkan individu.
Karena itu, program edukatif perlu menambah rujukan praktis, seperti akses konseling, rute bantuan, dan panduan menyusun batas yang aman. Upaya ini akan membuat peserta tidak hanya “paham”, tetapi juga “mampu bertindak” ketika menghadapi situasi nyata.
RPCB Syantikara menawarkan diri sebagai ruang pembinaan bagi sekolah dan komunitas, dan itu bisa menjadi pengungkit. Jika ruang seperti ini rutin memfasilitasi lokakarya, retret, dan pelatihan, maka literasi relasi bisa naik kelas menjadi budaya.
Talkshow “Stay or Run?” di RPCB Syantikara menunjukkan bahwa hubungan sehat dan toxic bukan isu remeh, melainkan penentu kualitas hidup anak muda. Ketika seseorang peka pada tanda-tanda awal, ia punya peluang lebih besar untuk memilih relasi yang memulihkan, bukan menguras.
Pertanyaannya kini bergeser dari “aku harus bertahan atau pergi” menjadi “apa yang membuatku merasa aman dan dihargai”. Jika relasi menuntut kita kehilangan diri sendiri, mungkin yang perlu diselamatkan pertama kali adalah keberanian untuk menetapkan batas. (Orbit dari berbagai sumber, 7 Agustus 2026)