Denny JA: NU dan Kisah Batu Bara di Halaman Pesantren

Ilustrasi warga NU dan tradisinya.

Ilustrasi warga NU dan tradisinya.

Opini

NU DAN KISAH BATU BARA DI HALAMAN PESANTREN

- Ketika Tradisi Bertemu Konsesi: Sebuah Pengantar Buku Nahdlatul Ulama dalam Bingkai Puisi

Oleh Denny JA

ORBITINDONESIA.COM - Di sebuah desa, seorang perempuan mendengar berita dari radio. Nahdlatul Ulama mendapat konsesi tambang. Jauh di bawah tanah, batu bara menunggu digali.

Ia memandang pohon jati di halaman. Tiba-tiba berita ekonomi itu berubah menjadi pertanyaan moral. Berapa harga sebuah kemajuan jika bumi harus membayarnya?

Ia teringat pesantren. Di sana, kiai pernah mengajarkan bahwa tanah bukan sekadar benda, sungai bukan sekadar air, dan bumi adalah amanah yang dititipkan untuk anak cucu.

Malam datang. Perempuan itu pergi ke masjid. Ia tidak membawa jawaban, hanya doa dan kegelisahan yang terlalu besar untuk dipendam sendirian.

-000-

Kisah itu terdapat dalam puisi Sri Sunarti berjudul “Batu Bara di Halaman Pesantren”. Puisi tersebut termasuk dalam antologi Nahdlatul Ulama dalam Bingkai Puisi.

Buku ini bukan sekadar kumpulan sajak mengenai organisasi. Ia mencoba sesuatu yang lebih sulit: menangkap NU sebagai pengalaman kebudayaan, ingatan, kegelisahan, doa, dan harapan.

Antologi ini lahir dari kerja sama PWNU Jawa Tengah dan Satupena Jawa Tengah, dengan tim editor Gunoto Saparie, Mufid Rahmat, dan Mohammad Agung Ridlo.

Di dalamnya terdapat 209 puisi dari sekitar tujuh puluh kontributor. Justru banyaknya suara itu menentukan watak buku.

Ini bukan konser seorang penyanyi. Ia seperti paduan suara sebuah kampung besar bernama Nahdlatul Ulama.

Ada kiai dan santri. Ada Muslimat dan guru mengaji. Ada tahlil, qunut, shalawat, kitab kuning, kematian, politik, kekuasaan, teknologi, lingkungan, bahkan pertambangan.

Gaya puisinya juga beragam. Sebagian liris, sebagian naratif. Ada yang religius dan nostalgik, ada pula yang kritis, satiris, sosial, bahkan eksperimental.

Karena itu, NU dalam buku ini tidak diletakkan di podium. Ia diturunkan ke halaman rumah, sawah, masjid, dapur, pesantren, dan kegelisahan manusia biasa.

Kekuatan bentuknya, pada sebagian puisi, terletak pada metafora yang tajam dan ritme liris yang terjaga, mengubah persoalan sosial-politik yang rumit menjadi pengalaman estetik yang menyentuh kesadaran pembaca.

-000-

Kekuatan Pertama: NU Diubah dari Organisasi Menjadi Pengalaman

Membaca buku ini berulang-ulang, saya merasakan tiga kekuatan utama.

Kekuatan pertama justru terletak pada perubahan sudut pandang. NU tidak terutama dibaca sebagai struktur organisasi, melainkan sebagai pengalaman manusia.

Organisasi mempunyai kantor, ketua, muktamar, keputusan, dan anggaran dasar. Tetapi kebudayaan mempunyai sesuatu yang lebih dalam: ingatan yang diwariskan tanpa dokumen resmi.

Seorang anak mungkin mengenal NU sebelum mengetahui kepanjangan namanya. Ia mendengar tahlil, melihat sarung ayahnya, dan mengikuti ibunya menghadiri pengajian.

Ia melihat orang sekampung datang ketika seseorang meninggal. Mereka tidak membawa teori tentang solidaritas sosial. Mereka membawa nasi, doa, dan waktu.

Dalam bahasa antropologi, agama memang tidak hidup hanya sebagai doktrin. Ia menjadi sistem makna ketika menjelma simbol, ritual, kebiasaan, hubungan, dan pengalaman bersama.

Di titik inilah karya klasik Clifford Geertz, The Religion of Java, membantu kita melihat sesuatu yang sering luput dari dokumen organisasi.

Geertz memahami kehidupan keagamaan Jawa melalui ritual, struktur sosial, keyakinan, dan keseharian.

Kita boleh memperdebatkan kategorisasi Geertz. Mark Woodward, misalnya, dalam Islam in Java (1989) menunjukkan bahwa batas antara santri, abangan, dan priyayi tidak setegas yang dibayangkan Geertz, sebab arus sufistik telah lama menyatu ke dalam praktik keseharian.

Tetapi satu warisan Geertz tetap bertahan: agama harus dilihat sebagaimana ia sungguh-sungguh dijalani manusia.

Antologi ini melakukan hal serupa melalui sastra. Bedanya, puisi mampu merekam wilayah yang kadang lolos dari etnografi, yaitu getaran batin ketika tradisi berubah menjadi kenangan.

Karena itulah saya menyebut buku ini bukan hanya arsip sastra. Ia adalah arsip perasaan, dokumentasi mengenai bagaimana sebuah komunitas mengalami dirinya sendiri.

Seratus tahun lagi, orang dapat membaca keputusan muktamar dari arsip. Tetapi dari puisi, mereka mungkin akan mengetahui bagaimana suara shalawat terasa ketika senja turun di halaman langgar.

-000-

Kekuatan Kedua: Tradisi Tidak Dijadikan Museum

Kekuatan kedua antologi ini adalah keberaniannya mempertemukan tradisi dengan perubahan. Ia mencintai masa lalu, tetapi tidak meminta masa depan berhenti datang.

Ini penting, sebab tradisi dapat mati melalui dua cara. Pertama, ketika ia dibuang. Kedua, ketika ia dipuja sedemikian rupa sehingga tidak boleh berubah sedikit pun.

Tradisi yang hidup berbeda. Ia seperti pohon. Akarnya harus dalam. Tetapi justru karena akarnya dalam, cabangnya berani menyentuh langit yang baru.

NU dalam antologi ini hadir bersama kitab kuning dan teknologi, pesantren dan modernitas, khittah dan politik, shalawat dan persoalan lingkungan hidup kontemporer.

Pertanyaan terpenting bukan lagi apakah tradisi harus dipertahankan. Pertanyaannya adalah: nilai apa yang harus dipertahankan ketika bentuk kehidupan terus berubah?

Di sinilah puisi batu bara memperoleh tempat istimewa. Ia membawa kosakata baru ke halaman pesantren: konsesi, tambang, kekayaan bumi, manfaat ekonomi, dan kerusakan ekologis.

Kosakata ini tidak jatuh dari langit. Ia hadir dalam konteks konkret, ketika pemerintah pada 2024 membuka pintu bagi ormas keagamaan untuk mengelola Wilayah Izin Usaha Pertambangan Khusus, dan NU menjadi ormas pertama yang menerima kesempatan itu.

Kebijakan tersebut memantik perdebatan luas, termasuk di kalangan Nahdliyin sendiri, dan puisi Sri Sunarti tumbuh dari kegelisahan itu.

Namun pertanyaan di balik kebijakan tersebut sesungguhnya sangat tua. Apakah kekuasaan tetap menjadi khidmah ketika ia mulai menghasilkan keuntungan material yang sangat besar?

Pertanyaan itu tidak hanya berlaku bagi NU. Ia berlaku bagi gereja, negara, perusahaan, universitas, partai, bahkan organisasi kebudayaan seperti yang saya pimpin.

Setiap institusi akhirnya menghadapi ujian serupa. Semakin besar kekuasaan yang diperoleh, semakin besar kemampuan berbuat baik, sekaligus semakin besar kemungkinan tersesat.

Karena itu, modernisasi tidak cukup diukur dari kemampuan sebuah organisasi memasuki sektor baru. Modernisasi moral terlihat dari kemampuan membangun pagar terhadap dirinya sendiri.

-000-

Kekuatan Ketiga: Cinta yang Berani Menyediakan Cermin

Kekuatan ketiga buku ini paling saya sukai. Antologi ini tidak mengubah kecintaan kepada NU menjadi kewajiban untuk mengatakan bahwa NU selalu benar.

Ada puisi tentang politik, ada kritik terhadap kekuasaan, ada kegelisahan mengenai khittah. Bahkan ada pertanyaan mengenai keputusan organisasi memasuki bisnis pertambangan.

Bagi saya, ini tanda kesehatan kebudayaan. Organisasi yang hanya mengizinkan pujian mungkin memperoleh tepuk tangan, tetapi organisasi yang mengizinkan kritik memperoleh sesuatu yang jauh lebih berharga, yaitu kesempatan memperbaiki diri.

Sri Sunarti sendiri menyediakan keseimbangan yang dewasa. Ia tidak mengatakan tambang pasti jahat. Ia mengakui bahwa manfaat ekonomi dapat sungguh-sungguh menghasilkan maslahat sosial. Simaklah baris-baris ini:

“Mungkin, di balik hitamnya batu bara,

ada cahaya bagi madrasah,

ada jalan bagi anak-anak desa,

ada rumah sakit yang lebih layak,

ada beasiswa yang menyelamatkan masa depan.”

Tetapi ia segera menambahkan syarat. Keadilan harus dijaga. Kelestarian harus dijaga. Kekayaan bumi tidak boleh membuat manusia lupa bahwa dirinya hanyalah penjaga.

Tentu ada kontra argumen. Mengapa organisasi keagamaan harus terus-menerus dicurigai ketika memasuki ekonomi? Bukankah kemandirian ekonomi justru dapat memperbesar pelayanan kepada umat?

Argumen itu sah. Bahkan penting. Kemiskinan bukan kebajikan. Organisasi sosial memerlukan sumber daya untuk sekolah, rumah sakit, beasiswa, dakwah, kebudayaan, dan pemberdayaan masyarakat.

Tetapi justru karena tujuannya mulia, standar pertanggungjawabannya harus lebih tinggi. Nama besar tidak boleh menjadi pengganti tata kelola. Niat baik tidak menggantikan transparansi.

Persoalannya bukan apakah NU boleh memasuki kegiatan ekonomi. Persoalannya adalah bagaimana kekuatan ekonomi tetap tunduk kepada etika yang melahirkan khidmah.

Cinta yang matang memang berbeda dari fanatisme. Fanatisme menutup jendela agar wajah keluarga tidak terlihat cacat. Cinta membuka jendela supaya rumah dapat diperbaiki.

-000-

Dua Buku untuk Membaca NU Lebih Dalam

Ada dua buku yang membantu saya melihat mengapa puisi-puisi dalam antologi ini mempunyai makna yang melampaui sastra.

Yang pertama, The Religion of Java karya Clifford Geertz, diterbitkan Free Press pada 1960, lahir dari penelitian mendalam mengenai kehidupan keagamaan masyarakat Jawa.

Geertz memperlihatkan agama bukan hanya kumpulan dalil. Agama menjelma slametan, hubungan sosial, pendidikan, simbol, status, konflik, dan cara masyarakat memberi makna kepada kehidupan sehari-hari.

Pelajarannya sederhana tetapi penting. Untuk memahami NU, kita tidak cukup membaca keputusan organisasi. Kita perlu memasuki kampung dan pesantren.

Kita perlu mendengar tahlil, melihat kenduri, mengenali hubungan santri dengan kiai, bahkan memahami humor, kecemasan, persahabatan, kehilangan, serta cara mereka membayangkan Tuhan.

-000-

Buku kedua adalah Nahdlatul Ulama and the Struggle for Power within Islam and Politics in Indonesia karya Robin Bush, diterbitkan Institute of Southeast Asian Studies pada 2009.

Bush membawa kita ke sisi lain NU: dinamika kekuasaan, khittah 1926, masyarakat sipil, Reformasi, pluralisme, demokrasi, serta ketegangan antara ideal keagamaan dan realitas politik.

Jika Geertz membantu memahami agama sebagai kebudayaan hidup, Bush membantu memahami organisasi keagamaan ketika memasuki arena kekuasaan, tempat niat, kepentingan, idealisme, dan kompromi bertemu.

Membaca keduanya bersama antologi ini memberikan perspektif yang lebih utuh. NU adalah kebudayaan, tetapi juga institusi. Ia rumah perasaan, sekaligus aktor dalam gelanggang kekuasaan.

Di antara dua dunia itulah puisi menjadi penting. Ia mengingatkan bahwa di balik organisasi yang besar selalu ada manusia yang dapat berharap, mencintai, ragu, dan keliru.

-000-

Sebuah Catatan yang Lebih Personal

Saya membaca buku ini juga sebagai penulis. Karena itu, perhatian saya bukan hanya tertuju kepada NU, melainkan kepada kemampuan sastra menyimpan pengalaman manusia.

Saya telah lama percaya bahwa angka menjelaskan banyak hal, tetapi tidak semuanya. Survei dapat menunjukkan sikap masyarakat. Statistik dapat memotret perubahan secara presisi.

Tetapi angka tidak selalu mampu menjelaskan bagaimana rasanya kehilangan. Statistik sulit merekam aroma tanah sesudah hujan, suara doa ibu, atau kerinduan kepada seorang kiai.

Di situlah puisi mengambil alih. Ia memasuki ruangan yang tidak dapat dimasuki tabel. Ia membuat pengalaman pribadi memperoleh kemungkinan menjadi ingatan bersama.

Sebagai Ketua Umum Satupena, saya membaca antologi ini dengan kegembiraan khusus. Asosiasi penulis memang seharusnya memperbanyak ruang agar suara yang berbeda dapat terdengar.

Kita tidak harus sepakat dengan setiap puisi. Justru ketidaksepakatan adalah bagian dari kebudayaan. Sastra yang sehat bukan paduan suara yang diwajibkan menyanyikan nada sama.

Saya hidup cukup lama di wilayah riset, politik, kebudayaan, dan dunia korporasi. Dari semuanya, saya belajar bahwa keputusan besar hampir selalu mempunyai sisi yang tidak terlihat.

Spreadsheet memperlihatkan keuntungan. Hukum menunjukkan batas. Politik menghitung dukungan. Tetapi kebudayaan bertanya: manusia seperti apakah yang sedang kita bentuk melalui keputusan itu?

Karena itu saya terhenti pada puisi Sri Sunarti. Bukan karena ia menawarkan jawaban sempurna. Justru karena ia mempunyai keberanian membiarkan pertanyaan tetap hidup.

-000-

Pada akhirnya, buku ini penting bukan karena semua puisinya sama kuat. Nilainya justru pada keberaniannya menghadirkan NU sebagai manusia, lengkap dengan cinta, doa, kritik, dan kegelisahannya.

Di sini, batu bara bukan lagi sekadar mineral hitam di bawah bumi. Ia menjadi metafora tentang godaan yang selalu datang bersama kekuasaan dan kemakmuran.

Batu bara dapat menjadi sekolah, rumah sakit, dan lapangan kerja. Karena itu, menolaknya secara otomatis terlalu sederhana. Tetapi menerimanya tanpa pagar moral juga berbahaya.

Sebab setiap kekayaan mempunyai dua kemungkinan. Ia dapat memperbesar maslahat. Ia juga dapat meninggalkan lubang, bukan hanya pada bumi, tetapi pada nurani manusia.

Di sinilah puisi Sri Sunarti menemukan kekuatannya. Ia tidak memberi vonis. Ia menjaga sebuah pertanyaan agar kekuasaan tidak terlalu cepat merasa benar.

Seratus tahun kemudian, orang mungkin lupa perdebatan politik hari ini. Tetapi puisi dapat menyimpan sesuatu yang lebih panjang umurnya: kegelisahan moral sebuah zaman.

Kemajuan akhirnya bukan hanya soal seberapa banyak kekayaan berhasil kita gali. Ia juga tentang apakah kita masih mampu menatap anak cucu tanpa menundukkan muka.

Sebab peradaban tidak diukur dari seberapa dalam manusia mampu menggali bumi, tetapi dari seberapa dalam ia menjaga nuraninya ketika menemukan harta di dalamnya.

Jakarta, 10 September 2026

REFERENSI

Clifford Geertz. The Religion of Java. Free Press, 1960.

Mark R. Woodward. Islam in Java: Normative Piety and Mysticism in the Sultanate of Yogyakarta. University of Arizona Press, 1989.

Robin Bush. Nahdlatul Ulama and the Struggle for Power within Islam and Politics in Indonesia. Institute of Southeast Asian Studies, 2009.

-000-

Ratusan esai Denny JA mengenai filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, minyak dan energi, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, serta ulasan buku, film, dan lagu dapat dibaca di Facebook Denny JA's World.

https://www.facebook.com/share/1A1LmdrReh/?mibextid=wwXIfr