World Day for Safety and Health at Work 2026: Makna 28 April

ORBITINDONESIA.COM – World Day for Safety and Health at Work 2026 diperingati 28 April, tetapi angka kecelakaan kerja global tetap mengintai di balik target produktivitas. Di tengah kerja hibrida, gig economy, dan otomatisasi, “keselamatan kerja” kembali menjadi kata kunci yang menentukan martabat pekerja.

World Day for Safety and Health at Work lahir dari dorongan gerakan buruh dan kemudian dipopulerkan secara global oleh Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) sebagai momen kampanye pencegahan kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Tanggal 28 April juga beririsan dengan hari peringatan pekerja yang gugur, sehingga dimensi moralnya kuat dan tidak sekadar seremoni.

Di banyak negara, keselamatan kerja masih diperlakukan sebagai biaya tambahan, bukan investasi yang menyelamatkan nyawa. Padahal perubahan pola kerja membuat risiko bergeser, dari pabrik dan proyek konstruksi ke ruang digital, logistik cepat, dan pekerjaan informal.

ILO memperkirakan sekitar 2,9 juta pekerja meninggal setiap tahun akibat kecelakaan kerja dan penyakit terkait kerja, sebuah angka yang menunjukkan krisis kesehatan publik di tempat kerja. Angka itu sering tidak terasa karena tersebar, tetapi dampaknya menumpuk dalam keluarga yang kehilangan penghasilan dan negara yang kehilangan produktivitas.

Risiko terbesar justru muncul pada sektor yang paling sulit diawasi, seperti rantai pasok subkontrak, pekerjaan platform, dan usaha kecil. Ketika target pengiriman dipercepat dan jam kerja memanjang, keselamatan berubah menjadi variabel yang mudah dikorbankan.

Budaya kerja baru ikut menciptakan bahaya yang lebih senyap, seperti stres kronis, kelelahan, dan gangguan muskuloskeletal akibat kerja berulang di depan layar. WHO dan ILO juga pernah menyoroti beban jam kerja panjang yang berkorelasi dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular, sehingga isu ini tidak bisa dipersempit menjadi “alat pelindung diri” semata.

Teknologi menjanjikan perbaikan, tetapi juga membawa dilema baru. Sensor, AI, dan pelacakan kinerja dapat mencegah insiden, namun dapat pula berubah menjadi pengawasan yang menekan pekerja dan mendorong perilaku berisiko demi mengejar metrik.

Di titik ini, peringatan 28 April menjadi pengingat bahwa keselamatan adalah sistem, bukan poster di dinding. Ia membutuhkan pelatihan, audit, pelaporan tanpa takut dihukum, serta kepastian bahwa pekerja berhak menolak pekerjaan yang berbahaya.

World Day for Safety and Health at Work 2026 seharusnya dibaca sebagai kritik terhadap cara ekonomi modern memindahkan risiko ke individu. Ketika pekerja diminta “tangguh” dan “adaptif,” perusahaan dan negara kerap lupa bahwa adaptasi tanpa perlindungan hanya memindahkan beban ke tubuh pekerja.

Keselamatan kerja juga bukan sekadar kepatuhan, melainkan ukuran keadilan. Jika sektor informal dan pekerja kontrak paling sering terpapar bahaya, maka persoalannya bukan cuma teknis, tetapi juga politik distribusi perlindungan.

Yang paling berbahaya adalah normalisasi insiden sebagai “bagian dari pekerjaan.” Begitu kecelakaan dianggap wajar, organisasi berhenti belajar dan masyarakat berhenti marah, padahal nyawa yang hilang tidak pernah bisa diganti.

Peringatan 28 April membuka pertanyaan sederhana yang sering dihindari, berapa nilai satu nyawa dalam neraca bisnis dan kebijakan publik. World Day for Safety and Health at Work 2026 semestinya mengubah percakapan dari “berapa biaya K3” menjadi “berapa harga kelalaian.”

Jika tempat kerja adalah ruang di mana orang menghabiskan sebagian besar hidupnya, maka keselamatan adalah bentuk paling dasar dari penghormatan. Barangkali ukuran kemajuan suatu negara bukan seberapa cepat ekonominya bergerak, melainkan seberapa sedikit pekerjanya yang pulang dalam keadaan terluka atau tidak pulang sama sekali. (Orbit dari berbagai sumber, 9 Juni 2026)