Kenapa Orang India di Luar Negeri Tak Pulang: Jawaban dari Irlandia

timesofindia.indiatimes.com

timesofindia.indiatimes.com

Money & Career

ORBITINDONESIA.COM – Kenapa orang India di luar negeri tak pulang sering dijawab dengan uang dan status, tetapi video Sanket Salke di Irlandia menawarkan alasan yang lebih mendasar. Sub-keyword seperti kualitas hidup dan work-life balance muncul sebagai inti cerita, ketika ia menggambarkan pulang kerja lalu bersepeda 15–20 menit menuju alam dengan polusi nyaris nol.

Salke, analis SAP yang tinggal di Irlandia hampir dua tahun, menyebut perubahan terbesar bukan kenaikan gaji, melainkan cara hidup yang lebih manusiawi. Ia menekankan suasana tanpa kebisingan dan udara bersih, sebuah kemewahan yang di banyak kota besar India terasa makin mahal.

Konteksnya bukan sekadar pengalaman personal, karena Irlandia kembali memuncaki European Life-Work Balance Index untuk tahun kedua dengan skor 82,89 dari 100. Data itu memperkuat klaim bahwa keseimbangan hidup-kerja di sana bukan slogan perusahaan, melainkan ekosistem sosial yang nyata.

Di sisi lain, percakapan publik di India kerap berputar pada pajak, infrastruktur, dan jam kerja panjang. Ketegangan antara “mencari penghidupan” dan “mendapat kehidupan” menjadi latar yang membuat video semacam ini mudah viral.

Argumen Salke bertumpu pada satu detail yang sederhana namun tajam: setelah jam kerja, kota tidak menuntut Anda tetap “online.” Irlandia memperkenalkan Code of Practice on the Right to Disconnect pada April 2021, yang melindungi pekerja dari sanksi karena tidak merespons pesan di luar jam kerja.

Di titik ini, work-life balance berubah dari wacana menjadi kebiasaan kolektif. Salke menggambarkan orang memancing pada pukul delapan malam, ada yang merapikan perahu, dan ada yang berolahraga, seolah hidup punya babak kedua setelah kantor.

Ia juga jujur soal ongkos sosialnya: pajak tinggi dan krisis perumahan. Namun ia menilai problem itu tidak menghapus esensi kualitas hidup, karena waktu luang yang terlindungi membuat tekanan harian lebih terkendali.

Reaksi warganet memperlihatkan pola yang konsisten, yakni keluhan jam kerja panjang dan kesenjangan upah meski jam kerja lebih banyak. Ada pula kritik soal “pajak tinggi tanpa imbal balik,” yang mengarah pada isu tata kelola, layanan publik, dan kepercayaan sosial.

Di saat yang sama, komentar kontra mengingatkan sisi yang sering tak masuk kamera: kesepian, jarak budaya, dan rasa “bukan rumah.” Perdebatan ini menegaskan bahwa migrasi bukan hanya kalkulasi ekonomi, tetapi juga pertaruhan psikologis dan identitas.

Video Salke bekerja karena ia menyodorkan bukti paling meyakinkan: pengalaman sehari-hari yang terasa konkret. Ketika seseorang bisa menyentuh alam dalam 20 menit setelah kerja, “kualitas hidup” berhenti menjadi konsep abstrak dan berubah menjadi standar baru.

Namun, ada risiko besar jika narasi ini dipahami sebagai vonis tunggal bahwa “India tak layak ditinggali.” Masalahnya bukan pada India semata, melainkan pada desain kota, penegakan jam kerja, dan budaya organisasi yang sering menormalisasi keterhubungan tanpa batas.

Irlandia menunjukkan bahwa kebijakan seperti right to disconnect dapat membentuk norma, bukan sekadar melindungi individu. Jika jam kerja dihormati, ruang publik aman, dan udara bersih lebih mudah diakses, maka loyalitas pada “pulang kampung” tidak lagi kalah oleh kebutuhan untuk bernapas.

Di titik ini, pertanyaan “kenapa tidak pulang” berubah menjadi “apa yang harus dibenahi agar pulang menjadi pilihan yang masuk akal.” Migrasi lalu tampak sebagai referendum diam-diam atas layanan publik, kualitas lingkungan, dan martabat waktu.

Salke menutup pesannya dengan imbauan yang terdengar sederhana: ambil calculated risk, coba beberapa tahun, lalu putuskan sendiri. Pernyataan itu penting, karena ia menggeser diskusi dari glorifikasi luar negeri menjadi literasi pilihan hidup.

Pada akhirnya, kualitas hidup bukan sekadar pemandangan hijau, melainkan hak atas waktu, udara, dan ketenangan. Jika sebuah negara ingin warganya pulang, ia harus lebih dulu membuat warganya merasa hidup, bukan sekadar bertahan. (Orbit dari berbagai sumber, 27 September 2026)