Sanksi Baru AS ke Iran, Perang Ekonomi dan Selat Hormuz
ORBITINDONESIA.COM – Sanksi baru AS ke Iran kembali menjadi pusat ketegangan, meski serangan militer langsung mereda dalam beberapa hari terakhir. Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan tekanan ekonomi akan membuat operasi militer besar “tidak perlu,” sementara Teheran menyebut langkah itu sebagai “perang ekonomi” yang melampaui batas kedaulatan negara lain. (Orbit dari berbagai sumber, 23 Agustus 2026)
Terjemahan akurat artikel sumber: AS dan Iran tetap beradu retorika meski serangan kinetik terhadap target masing-masing berhenti dalam beberapa hari terakhir. AS berencana menerapkan putaran sanksi baru yang keras terhadap Iran, dan rincian langkah ekonomi itu dijadwalkan diumumkan pada hari Senin. (Orbit dari berbagai sumber, 23 Agustus 2026)
Iran mempertahankan retorika keras pada Sabtu terhadap rencana AS tersebut. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei menulis di X bahwa sanksi baru “lebih dari sekadar kelanjutan ‘perang ekonomi’ ilegal,” dan merupakan klaim “kedaulatan ekstrateritorial” atas setiap negara anggota PBB yang independen. (Orbit dari berbagai sumber, 23 Agustus 2026)
Scott Bessent mengatakan kepada CNBC pada Kamis bahwa rencana pemerintahan Trump untuk “menghancurkan” ekonomi Iran kemungkinan akan meniadakan kebutuhan operasi militer besar AS terhadap Republik Islam itu. Ia berjanji AS akan menciptakan “isolasi ekonomi terkoordinasi terbesar dalam sejarah dunia” terhadap Iran, serta akan menjelaskan “secara persis” langkahnya pada konferensi pers Senin. (Orbit dari berbagai sumber, 23 Agustus 2026)
Dalam pratinjau rencana itu, Bessent mengatakan AS akan memberi tahu sekutu-sekutunya: “Kalian bersama kami atau melawan kami.” Wakil Presiden JD Vance menyebut tekanan ekonomi sebagai “alat paling efektif” AS terhadap Iran, dan menggambarkan situasi sebagai “tarian yang rumit” ketika kedua pihak saling menekan. (Orbit dari berbagai sumber, 23 Agustus 2026)
Ketua parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf dalam acara di Baghdad pada Jumat mengatakan negara-negara Muslim harus membuat rencana untuk mengatasi sanksi yang “kejam,” menurut ringkasan pemerintah atas komentarnya. Pernyataan ini muncul setelah Presiden Donald Trump menyebut AS akan meluncurkan “operasi ekonomi paling menghancurkan” yang pernah dilakukan terhadap negara mana pun terhadap Iran. (Orbit dari berbagai sumber, 23 Agustus 2026)
Trump juga mengancam hukuman finansial berat bagi negara mana pun yang membantu Teheran menghindari sanksi. Ia menambahkan bahwa ini akan menjadi “Perang Ekonomi dan Isolasi” dalam skala yang belum pernah terjadi. Di saat yang sama, meski kedua pihak menahan diri dari serangan, pelayaran melalui Selat Hormuz tetap jauh di bawah level sebelum AS meluncurkan perang terhadap Iran pada 28 Februari. (Orbit dari berbagai sumber, 23 Agustus 2026)
Negosiasi untuk membuka kembali selat itu dilaporkan mandek. Lalu lintas kapal yang teramati tetap rendah, dengan 10 penyeberangan pada Senin dan dua pelayaran pada Minggu, menurut data dari perusahaan intelijen perdagangan Kpler. Harga minyak sedikit berubah pada Jumat setelah Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengisyaratkan Teheran ingin perang dengan AS berakhir lebih cepat. (Orbit dari berbagai sumber, 23 Agustus 2026)
Pezeshkian menyebut nota kesepahaman (MOU) Iran-AS yang ditandatangani 17 Juni sebagai kemenangan bagi Republik Islam. Ia mengatakan “lebih baik mengakhiri perang hari ini” ketika Iran berada “dalam posisi berkuasa dan bermartabat,” menurut PressTV. MOU itu memungkinkan Teheran menentukan bagaimana Selat Hormuz akan dikelola melalui negosiasi dengan Oman dan negara-negara Teluk lainnya. (Orbit dari berbagai sumber, 23 Agustus 2026)
Seorang analis mempertanyakan efektivitas putaran sanksi baru ini. Helima Croft dari RBC Capital Markets mengatakan Iran sudah termasuk negara yang paling banyak dikenai sanksi di dunia, dan belum jelas apakah AS akan menarget China dan Rusia yang menjadi mitra Iran. Pertanyaannya, apakah sanksi tambahan akan mengubah perilaku Iran, karena Teheran tampak yakin bisa bertahan lebih lama daripada AS. (Orbit dari berbagai sumber, 23 Agustus 2026)
Sanksi baru AS ke Iran pada dasarnya adalah upaya mengganti “biaya perang” dengan “biaya ekonomi,” tanpa menghilangkan unsur paksaan. Pernyataan Bessent bahwa isolasi ekonomi dapat meniadakan kebutuhan operasi militer besar adalah sinyal bahwa Washington ingin kemenangan strategis tanpa eskalasi kinetik yang berisiko. (Orbit dari berbagai sumber, 23 Agustus 2026)
Namun, sanksi bukan sekadar angka di neraca, melainkan juga alat untuk memaksa negara lain memilih kubu. Kalimat “kalian bersama kami atau melawan kami” mengubah kebijakan Iran menjadi ujian loyalitas bagi sekutu, dan ini berpotensi menciptakan friksi baru dalam hubungan dagang serta energi. (Orbit dari berbagai sumber, 23 Agustus 2026)
Dampak paling nyata terlihat pada Selat Hormuz, jalur yang secara ekonomi krusial dan sensitif secara geopolitik. Data Kpler yang menyebut 10 penyeberangan pada Senin dan dua pelayaran pada Minggu menunjukkan gangguan yang belum pulih, sehingga pasar membaca risiko pasokan energi secara berlapis. (Orbit dari berbagai sumber, 23 Agustus 2026)
Di titik ini, “perang ekonomi” dan “perang logistik” bertemu di satu tempat: akses pelayaran. Ketika negosiasi pembukaan kembali selat mandek, sanksi menjadi kurang efektif jika jalur perdagangan sendiri masih tersumbat, karena tekanan sudah terjadi lewat ketidakpastian arus barang dan premi risiko. (Orbit dari berbagai sumber, 23 Agustus 2026)
Pernyataan Pezeshkian bahwa “lebih baik mengakhiri perang hari ini” dapat dibaca sebagai upaya mengunci narasi kemenangan domestik. Ia menyebut MOU 17 Juni sebagai kemenangan dan menekankan “martabat,” yang biasanya dipakai untuk menutup ruang kompromi agar tidak tampak menyerah. (Orbit dari berbagai sumber, 23 Agustus 2026)
Di sisi lain, MOU yang memberi Teheran peran dalam menentukan administrasi Selat Hormuz melalui negosiasi dengan Oman dan negara Teluk membuka ruang diplomasi teknis. Ini penting karena stabilitas jalur pelayaran sering lebih cepat dipulihkan lewat mekanisme operasional, bukan lewat pidato politik. (Orbit dari berbagai sumber, 23 Agustus 2026)
Kritik Helima Croft menyentuh inti masalah: Iran sudah “kebal parsial” terhadap sanksi karena pengalaman panjang beradaptasi. Jika AS tidak menekan jaringan mitra utama seperti China dan Rusia, maka isolasi “terbesar dalam sejarah” bisa berhenti sebagai slogan, bukan realitas. (Orbit dari berbagai sumber, 23 Agustus 2026)
Jika AS justru menekan lebih keras pihak ketiga, risikonya melebar menjadi konflik ekonomi global. Sanksi sekunder dapat memukul rantai pasok, asuransi pelayaran, pembiayaan perdagangan, dan pada akhirnya harga energi, sehingga biaya politiknya kembali ke pemilih dan industri di negara-negara yang ikut terdampak. (Orbit dari berbagai sumber, 23 Agustus 2026)
Pernyataan JD Vance bahwa tekanan ekonomi adalah alat “paling efektif” juga mengandung asumsi bahwa Iran lebih rentan pada ekonomi daripada pada simbol kedaulatan. Tetapi respons Baqaei menunjukkan Teheran membingkai sanksi sebagai pelanggaran tatanan internasional, yang justru dapat memperkuat solidaritas internal dan mengundang simpati di sebagian negara Global South. (Orbit dari berbagai sumber, 23 Agustus 2026)
Strategi sanksi baru AS ke Iran terlihat seperti upaya “menang tanpa menembak,” tetapi ia tetap membawa logika perang. Ketika sanksi dipromosikan sebagai pengganti operasi militer, publik perlu bertanya: siapa yang menanggung dampak paling besar, elite pengambil keputusan atau warga biasa yang menghadapi inflasi dan kelangkaan. (Orbit dari berbagai sumber, 23 Agustus 2026)
Bahaya lain adalah ilusi kontrol, seolah ekonomi bisa diatur seperti tombol volume. Iran sudah lama belajar hidup di bawah pembatasan, dan keyakinan bahwa Teheran “bisa bertahan lebih lama” menunjukkan permainan ini lebih mirip adu daya tahan politik daripada kalkulasi ekonomi murni. (Orbit dari berbagai sumber, 23 Agustus 2026)
Selat Hormuz menjadi pengingat bahwa geopolitik selalu punya titik sempit yang tidak bisa disanksi begitu saja. Bahkan tanpa serangan, penurunan penyeberangan kapal saja sudah cukup mengunci ketakutan pasar, dan ketakutan sering lebih mahal daripada kerusakan fisik. (Orbit dari berbagai sumber, 23 Agustus 2026)
Pada akhirnya, retorika “bersama kami atau melawan kami” berisiko mengubah diplomasi menjadi ultimatum. Dalam dunia multipolar, ultimatum sering memaksa negara-negara mengambil jalan memutar, membangun kanal alternatif, dan mempercepat fragmentasi sistem keuangan serta perdagangan global. (Orbit dari berbagai sumber, 23 Agustus 2026)
Sanksi baru AS ke Iran mungkin akan diumumkan rinciannya pada Senin, tetapi efeknya sudah terasa lewat bahasa ancaman dan ketidakpastian di Selat Hormuz. Jika tujuan Washington adalah menghindari perang besar, maka ukuran keberhasilan bukan hanya seberapa keras sanksi dijatuhkan, melainkan seberapa cepat stabilitas pelayaran dan ruang diplomasi pulih. (Orbit dari berbagai sumber, 23 Agustus 2026)
Pertanyaan yang tersisa sederhana namun menentukan: apakah “isolasi ekonomi terbesar” akan mengubah perilaku Iran, atau justru mengubah perilaku dunia dalam menyiasati dominasi sanksi. Dan jika perang bisa diganti dengan ekonomi, apakah kita sedang menyaksikan perdamaian, atau hanya bentuk perang yang lebih sunyi. (Orbit dari berbagai sumber, 23 Agustus 2026)