Budaya Kerja Lembur dan Produktivitas: Survei Ungkap Paradoks Workaholic
ORBITINDONESIA.COM – Budaya kerja lembur dan produktivitas kembali dipertanyakan setelah survei Gulfshore Business menunjukkan 69% responden mengaku agak atau jelas workaholic. Ironisnya, hanya 17,2% yang percaya jam kerja panjang benar-benar meningkatkan produktivitas, sementara hampir separuh menilai dampaknya kecil atau malah menurunkan kinerja.
Di banyak kantor, jam kerja panjang masih dianggap tanda loyalitas, bukan sekadar konsekuensi beban kerja. Cara pandang ini membentuk ekspektasi karier: yang pulang cepat sering dipersepsikan kurang serius, meski target terpenuhi.
Survei tersebut menegaskan bahwa lembur bukan hanya pilihan individu, melainkan bagian dari sistem nilai di tempat kerja. Sebanyak 34,4% responden menyebut ambisi pribadi mendorong kerja di atas 40 jam per minggu, dan 32,8% menunjuk budaya perusahaan atau ekspektasi atasan.
Angka-angka survei memperlihatkan kontradiksi yang sulit diabaikan. Jika hanya 17,2% menilai lembur signifikan menaikkan produktivitas, mengapa norma kerja panjang tetap bertahan sebagai “standar emas”?
Jawabannya tampak pada persepsi organisasi yang belum berubah. Sebanyak 60,9% responden mengatakan perusahaan mereka masih memandang pekerja berjam-jam panjang sebagai lebih berkomitmen atau berkinerja tinggi.
Di sinilah budaya kerja lembur bekerja seperti mata uang sosial. Jam yang terlihat di layar dan kursi yang masih terisi saat malam menjadi sinyal “nilai” yang mudah dibaca, meski tidak selalu sejalan dengan output.
Data survei juga memberi petunjuk bahwa produktivitas tidak linier dengan durasi kerja. Sebanyak 48,5% responden menyebut jam tambahan membuat sedikit perbedaan atau justru mengurangi produktivitas, yang sejalan dengan literatur manajemen modern tentang penurunan fokus dan meningkatnya kesalahan saat kelelahan.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan ILO pernah menyoroti risiko jam kerja panjang terhadap kesehatan, termasuk meningkatnya risiko penyakit kardiovaskular pada pola kerja ekstrem. Dalam praktik sehari-hari, burnout sering muncul lebih dulu sebagai penurunan empati, sinisme, dan hilangnya rasa kendali, sebelum akhirnya terlihat sebagai performa yang merosot.
Namun, sistem penilaian kerja di banyak tempat masih mengutamakan “kehadiran” ketimbang “hasil”. Ketika promosi, bonus, dan reputasi lebih dekat pada siapa yang paling lama terlihat bekerja, maka insentifnya jelas: bertahan lebih lama, meski efektivitas menurun.
Budaya kerja lembur dan produktivitas kini berada dalam hubungan yang nyaris toksik: lembur dipuja, tetapi manfaatnya diragukan oleh pekerja sendiri. Ini bukan sekadar problem manajemen waktu, melainkan problem makna—apa yang sebenarnya dihargai oleh organisasi.
Workaholic sering dibingkai sebagai teladan, padahal bisa menjadi gejala dari desain kerja yang tidak sehat. Ketika 69% responden mengidentifikasi diri sebagai workaholic, itu dapat dibaca sebagai normalisasi, bukan kebanggaan.
Ambisi pribadi memang nyata, tetapi ambisi juga dibentuk oleh ekosistem. Jika 34,4% menyebut ambisi sebagai pendorong, pertanyaannya: apakah ambisi itu lahir dari dorongan berkembang, atau dari ketakutan tertinggal dalam budaya yang mengukur dedikasi lewat jam?
Perusahaan kerap menginginkan produktivitas tinggi sekaligus ketersediaan tanpa batas. Di titik ini, lembur menjadi “asuransi” psikologis bagi pekerja: lebih aman terlihat sibuk daripada berisiko dinilai kurang komitmen.
Paradoksnya, budaya seperti itu dapat menggerus inovasi. Ide segar biasanya lahir dari ruang jeda, bukan dari kalender yang penuh rapat dan malam yang habis untuk mengejar ketertinggalan.
Jika organisasi ingin memutus lingkaran ini, ukuran keberhasilan harus digeser. Ukur output yang terverifikasi, kualitas keputusan, dan dampak kerja, bukan sekadar durasi online atau lampu kantor yang menyala sampai larut.
Survei Gulfshore Business menyampaikan pesan yang sederhana namun tajam: budaya kerja lembur masih diagungkan, sementara produktivitasnya justru diragukan oleh mayoritas pekerja. Selama jam panjang tetap menjadi simbol komitmen, lembur akan terus dipilih meski tubuh dan pikiran membayar mahal.
Pertanyaan yang tersisa bukan apakah kita mampu bekerja lebih lama, melainkan apakah kita berani menilai kerja dengan cara yang lebih jujur. Di era ketika efisiensi dan kesehatan mental sama-sama dibicarakan, mungkin ukuran “pekerja terbaik” perlu diubah: bukan yang paling lama bertahan, melainkan yang paling tepat menghasilkan. (Orbit dari berbagai sumber, 15 Juni 2026)