Literasi Keuangan Anak Muda Kanada: Cemas Kartu Kredit, Bingung TFSA

Money.ca

Money.ca

Money & Career

ORBITINDONESIA.COM – Literasi keuangan anak muda Kanada kembali disorot setelah seorang mahasiswa 24 tahun mengaku takut pada kartu kredit dan bingung soal TFSA. Ia punya skor kredit 752, tetapi tetap cemas karena beberapa kali telat bayar hanya gara-gara lupa tanggal jatuh tempo.

Ia menulis bahwa orang tuanya tidak memberi dukungan finansial maupun edukasi, meski hubungan mereka baik. Ia baru memiliki kartu kredit tahun lalu karena saran mantan pacar, setelah sebelumnya ibunya melarang karena trauma utang.

Di atas kertas, kondisinya tampak stabil untuk ukuran mahasiswa yang bekerja paruh waktu sebagai bartender. Ia membayar sewa 650 dolar Kanada per bulan, menyimpan 1.739 dolar di rekening giro RBC, dan memiliki 6.100 dolar di TFSA.

Namun stabilitas angka tidak otomatis menjadi stabilitas emosi. Ia mengaku tidak benar-benar paham cara kerja pembayaran kartu kredit, dan ketakutan “merusak skor” justru membuatnya hiperwaspada.

Kasus ini memperlihatkan paradoks literasi keuangan: generasi muda bisa “tampak mampu” tetapi tetap tersesat secara konsep. Ia bahkan menulis tentang TFSA, “masih tidak yakin apa itu atau tujuannya, tapi katanya bagus,” sebuah kalimat yang terdengar lucu sekaligus mengkhawatirkan.

Di TFSA, ia menaruh 3.089 dolar pada Vanguard S&P 500 Index ETF (VFV) dan mengklaim untung sekitar 288,48 dolar dalam setahun. Ia menargetkan 100 dolar per bulan, tetapi setornya tidak konsisten dan ia ragu apakah itu buruk.

Secara teknis, ketidakkonsistenan setoran bukan dosa finansial, tetapi cermin ketidakpastian pengetahuan. Masalahnya bukan sekadar “berapa yang disetor,” melainkan “mengapa menyetor” dan “apa risikonya.”

Fenomena ini ditopang data yang keras. Survei Abacus Data 2023 untuk Canadian Foundation for Economic Education mencatat sekitar 88% anak muda Kanada berharap mendapat pendidikan keuangan yang lebih baik di sekolah.

Ketika sekolah tidak mengisi kekosongan, keluarga menjadi ruang belajar utama, tetapi tidak semua orang tua siap menjadi guru. Banyak orang tua sendiri tidak percaya diri, atau memproyeksikan trauma utang menjadi larangan total terhadap kredit.

Perencana keuangan mencatat efek sampingnya: anak dewasa kehilangan alat untuk membangun riwayat kredit. Tanpa riwayat yang sehat, akses ke KPR, pembiayaan mobil, atau bahkan kontrak layanan tertentu bisa menjadi lebih mahal dan rumit.

Ironisnya, si mahasiswa justru sudah memiliki skor 752 yang tergolong kuat. Tetapi ia tetap takut, karena pengetahuan praktisnya tertinggal dari indikator formal yang dimilikinya.

Di titik ini, biaya terbesar bukan bunga kartu kredit, melainkan “biaya kecemasan finansial.” Kecemasan membuat orang menghindari keputusan, menunda belajar, dan akhirnya mengulang kesalahan kecil seperti telat bayar meski uangnya ada.

Sudut pandang tajamnya sederhana: literasi keuangan tidak boleh bergantung pada keberuntungan bertemu mantan pacar yang “paham kartu kredit.” Negara modern tidak bisa membiarkan pengetahuan dasar tentang kredit, investasi, dan rekening pajak menjadi warisan acak dari keluarga ke keluarga.

Ada bias kelas yang sering tidak disadari dalam nasihat finansial populer. Kalimat seperti “jangan punya kartu kredit” terdengar bijak bagi orang yang takut utang, tetapi bisa menjadi jebakan bagi anak muda yang justru perlu membangun reputasi kredit.

Di sisi lain, narasi “investasi itu mudah” juga berbahaya jika tidak dibarengi pemahaman risiko dan tujuan. TFSA dan ETF bisa menjadi kendaraan yang efektif, tetapi tanpa peta, orang hanya menumpang tren dan berharap selamat.

Kisah ini juga mengungkap satu hal yang jarang dibahas: skor kredit tinggi tidak identik dengan rasa aman. Sistem kredit menilai perilaku pembayaran, bukan ketenangan psikologis, sehingga orang bisa “lulus sistem” tetapi tetap cemas setiap bulan.

Jika ada yang perlu dikritik, itu adalah ekosistem edukasi yang membiarkan kebingungan menjadi normal. Ketika 88% anak muda mengaku kurang bekal, masalahnya bukan individu yang malas belajar, melainkan struktur yang gagal mengajar.

Pada akhirnya, cerita mahasiswa ini bukan tentang kartu kredit semata, melainkan tentang generasi yang tumbuh dengan angka tetapi tanpa bahasa untuk memaknainya. Ia punya tabungan, investasi, dan skor kredit, tetapi tetap takut karena tidak pernah diberi kerangka berpikir yang utuh.

Pertanyaan reflektifnya jelas: jika orang yang “baik-baik saja” saja masih cemas, bagaimana nasib mereka yang benar-benar hidup dari gaji ke gaji. Literasi keuangan seharusnya membuat orang berdaya, bukan sekadar patuh pada tanggal jatuh tempo.

Barangkali ukuran keberhasilan finansial paling manusiawi bukan hanya saldo dan skor, tetapi kemampuan memahami keputusan tanpa panik. Dan mungkin, pendidikan keuangan terbaik adalah yang mengubah ketakutan menjadi pengetahuan yang bisa dipraktikkan. (Orbit dari berbagai sumber, 4 November 2026)