Skandal Dana Pensiun 401(k): Modus TPA Curi Rp320 Miliar

ORBITINDONESIA.COM – Skandal dana pensiun 401(k) kembali menampar rasa aman pekerja, ketika Paul Palguta dituduh menggelapkan US$20,3 juta dari rekening pensiun klien selama satu dekade. Ia menghilang dari pengadilan lewat bunuh diri, tetapi pertanyaan publik tertinggal: bagaimana pihak ketiga (third party administrator/TPA) yang nyaris tak terlihat bisa memindahkan uang pensiun tanpa cepat terdeteksi?

Palguta adalah pendiri RiversEdge Advanced Retirement Solutions LLC, perusahaan back office yang mengurus pembukuan dan administrasi rencana pensiun untuk lebih dari 240 plan. Dalam ekosistem 401(k), sosok seperti ini jarang dikenal peserta, karena yang terlihat biasanya hanya perusahaan sponsor dan penasihat investasi.

Menurut dokumen penegak hukum, ia dituduh mencuri dari sekitar selusin plan, terutama milik pemberi kerja kecil. Celahnya sederhana namun fatal: rencana pensiun di bawah 100 karyawan umumnya tidak wajib audit independen tahunan, sehingga pengawasan lebih longgar.

Korban terbesar adalah rencana 403(b) LCBC Church di Lancaster County yang kehilangan US$8,3 juta, disusul Hampton Technical Associates yang kehilangan US$2,4 juta. Sebaliknya, plan besar seperti St. Barnabas Health System yang diaudit dilaporkan tidak kehilangan dana berdasarkan akuntansi terbaru.

Modusnya bukan sekali tarik lalu kabur, melainkan “shell game” yang memindahkan dana antar plan untuk menutup lubang. Jaksa menyebut Palguta mencuri dalam nominal yang sengaja dijaga agar tak memicu kecurigaan, lalu menutup jejak dengan laporan keuangan palsu yang dikirim per kuartal.

RiversEdge dilaporkan melakukan transfer tidak sah berulang, termasuk sembilan transfer dari plan Hampton yang memungkinkan penyedotan sekitar US$749.358. Pada 2022, laporan RiversEdge untuk Hampton bahkan menunjukkan saldo US$752.576 lebih tinggi dibanding laporan kustodian American Trust Custody, sebuah selisih yang seharusnya menjadi sinyal bahaya.

Kisah W.N. Tuscano Agency menunjukkan betapa rapuhnya kontrol bila peringatan tidak diekskalasi. Ketika fiduciary Susan Crary melihat selisih US$5 juta, Palguta menyebutnya “system trading error,” dan dana baru kembali setelah hubungan diputus, diduga berasal dari plan lain yang dipindahkan.

Titik balik terjadi pada akhir 2023 ketika order pembelian sekuritas untuk Beaver County Deferred Compensation Plan gagal karena dananya tidak cukup. Kegagalan rutin itu memicu audit internal American Trust yang menemukan transaksi mencurigakan sejak setidaknya 2017 pada 17 plan, termasuk plan profit-sharing perusahaan sendiri.

Ketika tekanan meningkat, pola transfer makin agresif dan terfragmentasi. Antara 2023 hingga Januari 2024, ia dituduh memindahkan US$1,81 juta ke rekening pribadi, termasuk 84 transfer di bawah US$25.000, dan 14 transfer senilai total US$308.306 dalam satu hari pada 27 Desember 2023.

Di saat yang sama, gaya hidup dan arus kas rumah tangga memberi konteks yang mengganggu. Setelah membeli rumah Victorian di Sewickley seharga US$1,2 juta pada 2020, pasangan ini meneken proyek renovasi dan fasilitas mewah bernilai total US$1,55 juta pada 2022, termasuk elevator, kolam air asin berpemanas, cabana, dan garasi.

Ironinya, Palguta bahkan mengajukan banding pajak properti yang hanya menghemat kurang dari US$1.500 per tahun. Kontras antara penghematan kecil dan belanja besar memperlihatkan tekanan finansial yang mungkin ditutup dengan uang yang bukan miliknya, meski motif pastinya tetap spekulatif.

Tekanan industri juga menjadi latar yang relevan, meski tidak membenarkan kejahatan. Sejumlah pelaku industri menyebut biaya tetap recordkeeping tinggi, sementara fee menurun sejak 2013, bahkan analisis NEPC menunjukkan penurunan pendapatan hampir 10% hanya antara 2014 dan 2015, dengan renegosiasi diskon hingga 50% menjadi lazim.

Bab akhir bergerak cepat pada 2024. American Trust membekukan akses RiversEdge pada 10 Januari 2024, Departemen Tenaga Kerja AS menggugat pada 26 Januari, dan pengadilan mengeluarkan perintah awal pada 14 Februari yang melarang Palguta mengakses aset rencana pensiun yang ia kelola.

Masalah personal ikut menumpuk menjadi sinyal kehancuran. American Express menggugat tagihan US$178.533 pada 16 September 2024, negara bagian mengajukan lien pajak US$6.621, kontraktor menuntut US$44.970, dan rumah dipasang harga US$3,5 juta namun akhirnya terjual US$2,6 juta pada Desember.

Ketika DOJ menyiapkan perkara pidana wire fraud dan money laundering dengan ancaman hingga 20 tahun, daftar forfeit mencakup perhiasan, wine mahal, tas desainer, hingga rekening tabungan kuliah anak. Sehari sebelum jadwal pengakuan bersalah, Palguta bunuh diri dengan keracunan karbon monoksida di garasi, menutup pintu pertanggungjawaban pidana namun membuka babak gugatan perdata.

Kasus ini bukan sekadar cerita “oknum,” melainkan potret rapuhnya arsitektur pengawasan dana pensiun ketika mata publik hanya tertuju pada sponsor dan adviser. TPA dan recordkeeper adalah roda gigi sunyi, tetapi justru di ruang sunyi itulah penyalahgunaan bisa berlangsung lama.

Aturan audit tahunan untuk plan di atas 100 peserta terbukti menjadi pagar yang efektif, karena plan besar cenderung selamat. Sebaliknya, plan kecil bergantung pada fidelity bond yang cakupannya terbatas, sementara gereja dan sejumlah rencana 403(b) memiliki pengecualian audit yang dalam praktiknya bisa menjadi “zona nyaman” bagi pelaku.

Kegagalan terbesar ada pada eskalasi sinyal. Selisih US$5 juta yang sempat terlihat di akun Tuscano seharusnya memicu pelaporan dan penelusuran lintas lembaga, bukan berhenti pada penjelasan “error sistem” yang bisa dipoles dengan dokumen kuartalan.

Pelajaran paling tajam justru menyasar peserta dan fiduciary plan. Jika laporan kustodian dan laporan administrator berbeda, itu bukan sekadar beda format, melainkan alarm integritas data yang harus diperlakukan seperti kebocoran kas.

Di sisi lain, tragedi keluarga tidak boleh mengaburkan prioritas korban. Jennifer Palguta menyatakan suaminya “menghancurkan hidupnya dan hidup anak-anaknya,” namun Departemen Tenaga Kerja tetap mengejar pemulihan, termasuk kesepakatan awal yang mewajibkan kontribusi US$2 juta karena kerugian total disebut mencapai US$20,3 juta.

Yang paling memilukan adalah dampak pada pekerja biasa yang tak pernah bertemu pelaku. Dokter gigi Randall Jaurequi di Hawaii kehilangan sekitar US$2 juta dari plan tujuh karyawannya, dan penasihatnya memperkirakan butuh delapan tahun untuk pulih, sebuah hukuman waktu bagi orang yang merasa sudah “melakukan hal yang benar.”

Skandal dana pensiun 401(k) ini menunjukkan bahwa keamanan pensiun tidak hanya ditentukan pasar, tetapi juga tata kelola dan keberanian menindak sinyal dini. Ketika sistem mengandalkan aktor yang tak terlihat, transparansi harus dipaksa hadir melalui audit, rekonsiliasi rutin dengan kustodian, dan kewajiban pelaporan yang tegas untuk plan kecil dan plan berbasis gereja.

Palguta sudah tiada, tetapi uang banyak yang belum kembali, dan “ke mana perginya” tetap menjadi lubang gelap, seperti kata pengacara keluarga: “No one knows where the money went.” Pada titik ini, pertanyaan yang tersisa bagi publik adalah sederhana namun mendesak: apakah kita akan menunggu kasus berikutnya, atau memperbaiki pagar sebelum tabungan hari tua kembali dijadikan ladang perampokan?

(Orbit dari berbagai sumber, 29 Mei 2026)