Skuad Timnas Indonesia Piala AFF 2026: Dua Striker, Banyak Tanda Tanya

Kompas.com

Kompas.com

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Skuad Timnas Indonesia Piala AFF 2026 resmi berisi 26 pemain, tetapi keputusan paling mencolok adalah hanya membawa dua striker murni untuk ASEAN Championship 2026. John Herdman seperti mengirim pesan: produktivitas gol akan dicari lewat cara baru, meski risikonya besar.

Timnas Indonesia akan membuka Piala AFF 2026 melawan Kamboja di Stadion Pakansari, Cibinong, Senin (27/7/2026) pukul 20.30 WIB. Daftar 26 pemain ini dipilih dari pemusatan latihan di Bali sejak awal Juli 2026.

Komposisinya didominasi kerangka utama, namun ada ruang debut bagi Brian Fatari, Tim Geypens, Mitchell Baker, Rizky Eka Pratama, dan Jens Raven. Di saat yang sama, publik menyorot daftar yang hilang, terutama di sektor penyerang.

Herdman hanya membawa Mitchell Baker dan Jens Raven sebagai striker murni, sebuah keputusan yang jarang diambil tim yang menargetkan gelar. Ini berarti sumber gol kemungkinan dialihkan ke winger, gelandang serang, atau skema false nine.

Mitchell Baker disebut baru memperoleh status WNI, sehingga belum punya rekam jejak bersama Timnas Indonesia. Jens Raven pun datang dengan catatan yang belum meyakinkan, karena hanya mencetak 1 gol di Super League 2025-2026 bersama Bali United.

Di sisi lain, Herdman mencoret enam striker yang sempat ikut pemusatan latihan: Mauro Zijlstra, Hokky Caraka, Arkhan Kaka, Eksel Runtukahu, Rafael Struick, dan Ramadhan Sananta. Mauro Zijlstra dicoret karena cedera dan memilih pemulihan di Jakarta.

“Sayangnya, karena mengalami cedera, saya harus meninggalkan pemusatan latihan dan fokus pada proses pemulihan di Jakarta,” kata Mauro Zijlstra. Kutipan ini menegaskan bahwa setidaknya satu pencoretan bersifat situasional, bukan murni teknis.

Namun lima nama lain memberi sinyal berbeda: Herdman belum puas pada paket penyerang yang selama beberapa tahun terakhir menjadi langganan era Shin Tae-yong. Jika Hokky, Struick, dan Sananta tak masuk, maka standar seleksi tampaknya bergeser dari sekadar potensi menjadi kebutuhan eksekusi instan.

Daftar pemain yang dibawa memperlihatkan kepadatan di lini tengah: Marselino Ferdinan, Beckham Putra, Eliano Reijnders, Ivar Jenner, Thom Haye, Rayhan Hannan, Marc Klok, hingga Tim Geypens. Kepadatan ini bisa dibaca sebagai rencana menguasai tempo dan memaksa gol lahir dari gelombang kedua, bukan target man.

Lini belakang juga berisi nama berpengalaman seperti Jordi Amat, Rizky Ridho, Sandy Walsh, Shayne Pattynama, dan Justin Hubner. Dengan fondasi ini, Indonesia tampak ingin menang lewat kontrol pertandingan, bukan adu terbuka yang mengandalkan striker tajam.

Keputusan membawa dua striker murni adalah taruhan strategis yang bisa terlihat brilian atau ceroboh, tergantung detail eksekusi di lapangan. Dalam turnamen seperti Piala AFF 2026, margin kesalahan kecil, dan kebuntuan sering dipecahkan oleh satu momen striker.

Herdman seperti menantang logika lama sepak bola Indonesia yang kerap mencari “penyelamat” di kotak penalti. Ia tampak lebih percaya pada sistem, mobilitas, dan variasi serangan dari sayap serta lini kedua.

Tetapi ada konsekuensi: jika Baker dan Raven belum siap menghadapi tekanan internasional, opsi perubahan permainan menjadi terbatas. Saat lawan bertahan rendah, tim sering butuh penyerang dengan naluri, duel udara, dan insting second ball yang matang.

Di sinilah keputusan mencoret nama-nama yang sudah “teruji” akan diuji balik oleh publik. Jika Indonesia menang besar, Herdman dipuji karena berani memutus kebiasaan, namun jika seret gol, pertanyaan pertama akan kembali ke daftar yang dicoret.

Yang menarik, skuad ini juga memperlihatkan keberanian regenerasi dan eksperimen identitas permainan. Debutan seperti Brian Fatari atau Rizky Eka Pratama bisa menjadi simbol bahwa posisi di Timnas Indonesia tak lagi ditentukan oleh reputasi masa lalu.

Skuad Timnas Indonesia untuk Piala AFF 2026 menunjukkan satu hal: Herdman memilih kontrol dan fleksibilitas, meski harus mengorbankan jumlah striker. Dua penyerang murni menjadi pusat pertaruhan, sekaligus cermin perubahan arah seleksi.

Pertanyaan akhirnya sederhana, tetapi menentukan: apakah Indonesia sedang membangun tim yang lebih modern, atau justru mengundang masalah lama bernama tumpul di depan gawang. Jawabannya akan muncul sejak laga pembuka melawan Kamboja, ketika rencana di atas kertas bertemu kenyataan di lapangan. (Orbit dari berbagai sumber, 8 Agustus 2026)