El Niño Super Picu Tiga Badai Pasifik, Hawaii Waspada

NBC News

NBC News

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – El Niño super dan pemanasan laut Pasifik kini mewujud sebagai tiga badai besar sekaligus: Karina, Lowell, dan Marie. Aktivitas badai Pasifik yang padat ini menguatkan peringatan ilmuwan bahwa cuaca ekstrem bukan lagi anomali, melainkan pola yang kian sering berulang.

Tiga badai—Karina, Lowell, dan Marie—sedang berputar di Samudra Pasifik, sebuah tingkat aktivitas tinggi yang menurut ilmuwan iklim “sesuai karakter” El Niño. Terlebih, peristiwa El Niño tahun ini diperkirakan akan menjadi yang terkuat dalam catatan sejarah.

Dua badai mencapai status badai besar pekan ini. Lowell sempat menyentuh Kategori 5 pada Rabu sebelum melemah menjadi Kategori 3, dan berpotensi mengarah ke Hawaii akhir pekan ini.

Menurut National Hurricane Center, Lowell bergerak ke barat namun diperkirakan berbelok tajam ke utara pada akhir pekan. Jalurnya dapat melintas dekat pulau Oahu dan Kauai.

Ancaman itu muncul saat Hawaii masih memulihkan diri dari hujan lebat dan banjir bandang dalam enam bulan terakhir. Beberapa pekan lalu, sebagian Oahu dan Big Island diterjang banjir intens serta angin kencang akibat Badai Tropis Lala.

Kerusakan juga masih tersisa dari banjir besar pada Maret. Saat itu, lebih dari 25 inci hujan turun di beberapa bagian Oahu dan lebih dari 19 inci di beberapa bagian Maui.

Sementara itu, Karina melemah dari Kategori 3 menjadi Kategori 2 di timur Kepulauan Hawaii. Pusat badai memperkirakan Karina akan terus melemah dalam 48 jam ke depan.

Marie, yang berada hampir 400 mil dari lepas pantai Semenanjung Baja California, Meksiko, justru menguat. Badai ini dapat memicu gelombang besar di pesisir barat daya Meksiko dan Baja California hingga akhir pekan, bahkan mungkin sampai California Selatan.

Trio badai ini mencerminkan peningkatan aktivitas yang konsisten dengan El Niño, pola iklim alami yang ditandai suhu permukaan laut lebih hangat dari normal di sebagian Pasifik. Tahun ini, NOAA dan lembaga prakiraan lain memprediksi El Niño yang sangat kuat, kerap disebut “super El Niño”.

Penandanya jelas: suhu air Pasifik setidaknya 2 derajat Celsius di atas rata-rata. Dalam prakiraan bulan lalu, NOAA menyebut El Niño ini memiliki peluang 69% menjadi yang terkuat dalam catatan.

Dalam tahun-tahun El Niño, suhu permukaan laut yang tinggi membantu lebih banyak badai Pasifik terbentuk dan membesar. Daniel Gilford dari Climate Central mengibaratkan siklon tropis seperti mesin mobil, dengan air laut hangat sebagai bahan bakar.

“Mesin butuh bahan bakar untuk diubah menjadi angin,” kata Gilford. “Jika kita menambah bahan bakar untuk badai, itu seperti menaikkan batas kecepatan mobil; kita bisa menekan pedal gas lebih dalam dan badai menjadi lebih intens.”

Masalahnya, El Niño kali ini datang saat suhu permukaan laut Pasifik sudah lebih dulu melonjak. Ilmuwan melacak gelombang panas laut yang luas—periode panjang suhu laut yang tidak biasa tinggi—yang bermula tahun lalu.

Gilford menyebut studi awal Climate Central menemukan sekitar 94% wilayah Pasifik mengalami kondisi gelombang panas sejak Januari. Di beberapa kawasan, anomali suhu sudah mencapai 2 derajat Celsius di atas normal.

“Suhu di seluruh Pasifik meningkat, dan kita melihatnya di wilayah yang dilintasi badai-badai ini,” ujarnya. Artinya, badai tidak hanya lahir lebih mudah, tetapi juga punya “energi” lebih untuk bertahan dan menguat.

Kontrasnya terlihat di Atlantik yang relatif tenang, juga ciri khas El Niño. Menurut Gilford, kondisi El Niño mengubah pola angin atmosfer sehingga tidak mendukung pembentukan badai di Atlantik.

Di balik pola alami itu, ada sinyal yang lebih mengkhawatirkan: El Niño mungkin makin kuat akibat perubahan iklim. Studi di jurnal Science bulan lalu menemukan peristiwa El Niño menguat sejak manusia membakar bahan bakar fosil yang melepaskan gas rumah kaca penjebak panas.

Rangkaian badai ini bukan sekadar berita meteorologi, melainkan cermin dari risiko yang sedang “dipatenkan” oleh lautan yang memanas. Ketika bahan bakar badai bertambah, pertanyaan publik seharusnya bergeser dari “apakah badai akan datang” menjadi “seberapa sering dan seberapa parah”.

Hawaii memberi pelajaran pahit tentang efek berlapis: tanah yang belum pulih dari banjir sebelumnya lebih rentan saat badai baru tiba. Dalam situasi seperti ini, mitigasi bukan hanya soal evakuasi, tetapi juga manajemen drainase, tata ruang, dan kesiapan layanan darurat yang diuji berulang kali.

Di tingkat global, pernyataan Sekjen PBB António Guterres menajamkan konteks politiknya. Ia mengatakan El Niño sedang “dibesarkan di depan mata kita” dan harus menjadi panggilan untuk bertindak.

“Ilmu pengetahuan tidak menyisakan ruang untuk ragu: planet ini berada di perairan yang belum dipetakan, dan perairan itu memanas,” kata Guterres, merespons laporan World Meteorological Organization. Ia menambahkan suhu permukaan laut naik, suhu terus mendaki, dan dunia memasuki “zona bahaya” cuaca ekstrem.

Kalimat itu mengandung pesan yang sering luput: bencana tidak netral, karena kapasitas perlindungan tidak merata. Ketika badai menjadi lebih intens, kelompok paling terdampak biasanya yang paling sedikit memiliki pilihan untuk berpindah, membangun ulang, atau mengasuransikan kerugian.

El Niño super, pemanasan laut Pasifik, dan tiga badai sekaligus adalah kombinasi yang menegaskan satu hal: iklim kini bekerja dalam mode yang lebih agresif. Jika NOAA menilai peluang 69% untuk rekor terkuat, maka kewaspadaan seharusnya tidak lagi bersifat musiman, melainkan struktural.

Pada akhirnya, cuaca ekstrem bukan hanya soal langit yang gelap, tetapi juga tentang keputusan manusia yang menumpuk selama puluhan tahun. Kita sedang berlomba, kata Guterres, antara risiko yang meningkat dan komitmen untuk melindungi manusia—dan pertanyaannya, apakah kita masih menganggap perlombaan itu opsional.

(Orbit dari berbagai sumber, 8 September 2026)