Saham Intel Turun, TSMC Masuk Terafab Elon Musk
ORBITINDONESIA.COM – Saham Intel anjlok dalam perdagangan prapasar setelah Elon Musk memberi sinyal bahwa TSMC sedang berdiskusi untuk membantu menjalankan Terafab, proyek pabrik chip di Texas. Pasar membaca kabar ini sebagai ancaman, meski Musk menegaskan TSMC bisa melengkapi, bukan menggantikan, peran Intel.
Dalam artikel sumber berbahasa Inggris, Intel disebut terpukul setelah Musk menulis di X: “Hanya diskusi, tapi sesuatu bisa saja terjadi,” merespons laporan bahwa TSMC dan Terafab sedang bernegosiasi. Musk juga menambahkan bahwa TSMC berpotensi menjadi mitra tambahan dalam fasilitas manufaktur semikonduktor yang menargetkan produksi komputasi 1 terawatt per tahun.
Pada Senin, saham Intel turun 2,6% ke US$116,19 setelah sebelumnya naik 25% dalam sebulan terakhir. Sebaliknya, saham TSMC di AS naik 2,8%, menandakan investor melihat peluang bisnis baru bagi raksasa manufaktur chip asal Taiwan itu.
Investor sempat berharap Intel “memiliki” Terafab sendirian setelah Intel bergabung pada April, bersama SpaceX dan Tesla. Kala itu, saham Intel melonjak 114% dalam sebulan, didorong serangkaian pengumuman kesepakatan yang memicu euforia pasar.
Kekhawatiran pasar berangkat dari logika sederhana: jika TSMC masuk, porsi Intel bisa menyusut. Namun, artikel sumber menekankan bahwa Intel punya cerita investasi yang lebih luas daripada sekadar “semesta bisnis Musk”, sehingga dampak Terafab seharusnya tidak menentukan nasib Intel.
Intel memiliki kemitraan multi-tahun dengan Alphabet untuk memasok CPU dan chip kustom bagi infrastruktur AI cloud Google. Intel juga mengamankan investasi US$5 miliar dari Nvidia tahun lalu untuk pengembangan bersama prosesor kustom, sebuah sinyal bahwa ekosistem AI masih membutuhkan kapasitas desain dan produksi yang beragam.
Dari sisi pasar, Intel diklaim menguasai sekitar 58% pangsa CPU x86, menurut Karl Ackerman, analis senior BNP Paribas. Konsensus Wall Street yang dikutip artikel menyebut CPU tetap esensial untuk menjalankan agen AI otonom, sehingga permintaan tidak hanya bertumpu pada GPU.
Proyeksi kinerja juga memberi bantalan: Intel diperkirakan akan lebih dari melipatgandakan empat kali laba per saham (EPS) yang disesuaikan pada 2026 dibanding tahun lalu. Setelah itu, analis memperkirakan pertumbuhan laba 38% pada 2027, sementara Terafab bahkan belum dijadwalkan memulai produksi chip awal hingga akhir 2027.
Di sisi manufaktur, Intel sedang membangun mega-pabrik di Ohio, memiliki satu lokasi di Arizona yang masih konstruksi, dan mulai mengoperasikan fasilitas lain di Arizona pada 2025. Pertanyaan kuncinya bukan sekadar siapa mitra Terafab, melainkan apakah pabrik-pabrik Intel bisa meningkatkan produksi dan menarik pelanggan dari TSMC yang masih dominan.
Masuknya TSMC ke meja diskusi Terafab sebetulnya menyingkap dilema industri: kapasitas manufaktur chip adalah permainan skala, disiplin eksekusi, dan kepercayaan pelanggan. Jika Terafab ingin mengejar target 1 terawatt komputasi per tahun, pendekatan multi-mitra justru masuk akal, karena ketergantungan pada satu pemasok meningkatkan risiko jadwal dan kualitas.
Namun, pasar saham sering bereaksi seperti kompetisi “pemenang mengambil semua”, padahal rantai pasok semikonduktor jarang bekerja demikian. Musk sendiri menyiratkan logika koeksistensi, yaitu TSMC sebagai pelengkap, sementara Intel tetap memiliki peran, sehingga narasi “Intel tersingkir” terlalu dini.
Kritik yang lebih tajam justru perlu diarahkan pada inti persoalan Intel: kemampuan mengeksekusi comeback manufaktur secara konsisten. Terafab bisa menjadi “ceri di atas kue”, tetapi kue utamanya adalah apakah Intel dapat membuktikan reliabilitas produksi dan menarik lebih banyak pelanggan di luar Tesla dan SpaceX.
Pada akhirnya, berita ini lebih tepat dibaca sebagai koreksi ekspektasi, bukan pembalikan arah fundamental. Terafab belum membuka rincian bagi hasil pendapatan, dan jadwal produksi yang masih jauh membuatnya sulit dijadikan penentu valuasi Intel hari ini.
Jika Intel ingin benar-benar menggeser dominasi TSMC, jawabannya ada pada pabrik Ohio dan Arizona, bukan pada unggahan X yang memicu volatilitas sesaat. Investor dan publik perlu bertanya: seberapa sering kita mengira drama kemitraan adalah strategi, padahal ujungnya tetap ditentukan oleh eksekusi di lantai produksi?
(Orbit dari berbagai sumber, 7 Oktober 2026)