Bumi Mungkin Selamat Saat Matahari Jadi Raksasa Merah

Live Science

Live Science

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Bumi mungkin tidak benar-benar “habis” ketika Matahari mengembang menjadi raksasa merah, menurut studi baru berbasis model evolusi bintang mutakhir. Riset ini menilai nasib Bumi ditentukan oleh duel dua gaya: tarikan pasang-surut yang menyeret ke dalam, dan kehilangan massa Matahari yang justru mendorong orbit Bumi menjauh.

Selama ini, skenario populer menyebut Bumi akan dilalap Matahari dalam “neraka termonuklir” miliaran tahun lagi. Matahari, sebagai bintang katai kuning, diperkirakan berumur relatif tenang sekitar 10 miliar tahun sebelum memasuki fase raksasa merah.

Dalam sekitar 5 miliar tahun, hidrogen di inti akan habis, lalu fusi beralih ke lapisan (shell) dan Matahari mengembang drastis. Ia kemudian memasuki fase AGB (Asymptotic Giant Branch) yang lebih besar lagi, sebelum berakhir sebagai katai putih.

Surat kepada editor di jurnal Astronomy & Astrophysics (19 Juni) mencoba menguji ulang kepastian “vonis” itu. Para astronom menggabungkan pemodelan gravitasi modern dan pengamatan bintang sekarat yang mirip Matahari untuk memproyeksikan masa depan tata surya.

Ketika Matahari membesar ratusan kali, gaya pasang-surut meningkat dan dapat menarik Bumi mendekat. Namun pada saat yang sama, Matahari membuang lapisan luarnya lewat angin bintang, sehingga massanya menyusut dan cengkeraman gravitasinya melemah.

Di titik inilah terjadi “tarik-menarik” kosmik yang menentukan hidup-mati Bumi. “Nasib Bumi bergantung pada keseimbangan yang rapuh antara dua efek ini,” kata Mats Esseldeurs, kandidat doktor KU Leuven dan penulis pertama studi tersebut.

Jika interaksi pasang-surut dominan, Bumi tertelan. Jika kehilangan massa dominan, Bumi terdorong ke orbit yang lebih lebar dan selamat, setidaknya dari skenario “terpanggang langsung” di dalam fotosfer Matahari.

Masalahnya, riset-riset sebelumnya tidak sepakat karena asumsi mereka berbeda. Ada yang menekankan laju kehilangan massa Matahari, ada yang mengubah parameter pasang-surut, dan ada pula yang memasukkan kemungkinan interaksi antarplanet di tata surya bagian dalam.

Akibatnya, ketidakpastian tetap besar: apakah Bumi bisa melewati dua fase raksasa Matahari sebelum bintang kita menyusut menjadi katai putih. Petunjuknya ambigu karena astronom juga menemukan planet yang masih utuh mengorbit katai putih, tetapi banyak sistem katai putih dipenuhi puing batuan dari planet yang hancur.

Untuk mendapatkan analog masa depan, tim menyorot L2 Puppis, bintang raksasa yang sedang sekarat sekitar 200 tahun cahaya dari Bumi. Estimasi sebelumnya menyebut L2 Puppis dapat kehilangan hingga sepersejuta massa Matahari per tahun dan membentuk piringan berdebu.

Piringan itu diduga menyembunyikan sebuah planet raksasa 12–16 kali massa Jupiter. Bagi peneliti, L2 Puppis adalah “jendela” untuk melihat bagaimana bintang mirip Matahari membuang massa pada fase tua.

Di sisi teori, mereka menjalankan perhitungan gravitasi “state-of-the-art” yang mempertimbangkan struktur internal dan dinamika bintang berevolusi. Mereka memodelkan evolusi orbit tata surya bagian dalam dari masa muda Matahari hingga fase akhir sebagai katai putih.

Hasil gabungan observasi dan model menunjukkan Bumi berpeluang bertahan. Proyeksinya, Bumi akan bergeser ke orbit yang berada tepat di luar radius Matahari yang mengembang.

Namun, Esseldeurs menegaskan sumber ketidakpastian terbesar kini bukan lagi kalkulasi pasang-surut. “Ketidakpastian terbesar tidak lagi berasal dari perhitungan pasang-surut, melainkan dari seberapa banyak massa yang akan hilang dari Matahari di masa depan,” ujarnya.

Artinya, kunci jawaban ada pada astronomi observasional: seberapa agresif bintang mirip Matahari membuang massa saat menua. “Pengamatan bintang raksasa mirip Matahari saat ini mengarah pada kelangsungan hidup Bumi, tetapi kita butuh pengamatan yang lebih baik sebelum bisa yakin,” kata Esseldeurs.

Di bagian lain, simulasi memberi vonis keras bagi Merkurius dan Venus. Keduanya diperkirakan akan ditelan oleh “kobaran neraka” Matahari yang sekarat.

Uji silang masa depan akan datang dari misi PLATO (ESA) yang direncanakan meluncur tahun depan. Teleskop ini menarget planet mirip Bumi di sekitar bintang mirip Matahari, termasuk yang menua, sehingga statistik planet “menjelang kiamat bintang” bisa lebih akurat.

Judul “Bumi mungkin selamat” mudah memancing euforia, tetapi riset ini lebih tepat dibaca sebagai koreksi atas kepastian yang terlalu dini. Ia bukan janji keselamatan, melainkan pengingat bahwa sains bekerja dengan probabilitas, model, dan data yang terus diperbarui.

Secara ironis, harapan Bumi bergantung pada “kekalahan” Matahari dalam bentuk penyusutan massa yang besar. Semakin banyak massa yang terlepas, semakin longgar gravitasi, dan semakin besar peluang Bumi terdorong menjauh.

Namun “selamat” di sini juga bersifat sempit, karena tidak berarti Bumi tetap layak huni. Bahkan jika tidak tertelan, Bumi akan mengalami pemanasan ekstrem jauh sebelum fase raksasa merah, dan lautan serta atmosfer dapat berubah drastis.

Di sinilah pelajaran jurnalistiknya: narasi kosmik sering menyederhanakan kompleksitas menjadi hitam-putih. Padahal, detail seperti laju angin bintang, struktur internal bintang tua, dan interaksi pasang-surut justru menentukan akhir cerita.

Riset ini juga menunjukkan mengapa astronomi bintang tua bukan sekadar romantika langit malam. Ia adalah laboratorium alam yang membantu kita memahami batas-batas ketahanan planet, termasuk bagaimana “zona aman” bisa bergeser ketika bintang berevolusi.

Jika Bumi kelak lolos dari pelukan raksasa merah, itu bukan karena keajaiban, melainkan karena fisika yang bekerja tepat pada ambang keseimbangan. Dan jika Bumi gagal, itu pun bukan takdir yang “pasti”, melainkan konsekuensi dari parameter alam yang akhirnya terukur.

Di tengah ketidakpastian itu, satu hal terasa pasti: waktu kosmik memberi jarak aman bagi manusia, tetapi tidak memberi alasan untuk lengah. Pertanyaannya bukan hanya “apakah Bumi selamat,” melainkan apa yang kita lakukan dengan jendela miliaran tahun yang kita miliki sekarang.

(Orbit dari berbagai sumber, 4 Juli 2026)