Skandal Life.Church: Dugaan Chokehold Craig Groeschel dan Budaya Tak Akuntabel
ORBITINDONESIA.COM – Skandal Life.Church kembali disorot setelah kesaksian mantan staf menyebut Senior Pastor Craig Groeschel diduga mencekik karyawan dengan chokehold di kantor HR pada Februari 2022. Dugaan kekerasan ini memantik pertanyaan besar tentang budaya kerja Life.Church, akuntabilitas pemimpin, dan praktik “forced vulnerability” yang disebut melukai banyak orang.
Jon Mays, mantan pemimpin pelayanan misi lokal Life.Church, mengaku melihat Groeschel menjepit seorang karyawan pria di lantai dalam cekikan. Ia semula mengira itu sekadar “roughhousing,” tetapi kemudian menilai peristiwa itu sebagai dugaan serangan kriminal.
Life.Church adalah gereja terbesar di Amerika Serikat, dengan rata-rata kehadiran mingguan sekitar 85.000 di 46 lokasi. Jejaring pengaruhnya luas lewat YouVersion Bible App dan panggung Global Leadership Summit yang menjadikan Groeschel figur publik lintas denominasi.
Di sinilah paradoks bermula, karena reputasi organisasi raksasa kerap dibangun dengan narasi “kultur sehat” dan penghargaan engagement. Namun, laporan The Roys Report menyebut lebih dari selusin mantan staf menggambarkan pengalaman kerja seperti “berjalan di atas kulit telur.”
Klaim itu diperkuat oleh komunitas After.Life di Facebook yang disebut berisi sekitar 400 mantan karyawan. Mereka berbagi kisah tentang tekanan psikologis, kontrol, dan luka spiritual yang bertahan setelah resign.
Peristiwa chokehold menjadi titik api karena melibatkan pemimpin puncak dan terjadi di ruang HR, simbol formalnya perlindungan pekerja. Seorang mantan staf lain menyebut korban butuh perawatan medis dan diduga mengalami memar pada esofagus, meski tidak ada laporan polisi di Edmond menurut permintaan catatan terbuka TRR.
Life.Church melalui Direktur PR Rachel Feuerborn menyatakan insiden itu “interaksi ringan” yang “tidak mendarat” sebagaimana maksudnya, serta tidak menimbulkan cedera serius atau berkepanjangan. Pernyataan ini menekankan adanya dokumentasi internal dan eskalasi ke tata kelola gereja, sekaligus menyebut tidak ada pola kejadian serupa.
Namun, dua sumber mantan staf menyatakan standar disiplin di bawah sangat ketat dan tindakan serupa bisa berujung pemecatan bila dilakukan karyawan biasa. Kontras ini menjadi inti isu, karena organisasi besar sering gagal menerapkan satu standar etik bagi semua level.
Isu kedua yang berulang adalah “forced vulnerability,” yaitu dorongan untuk membuka detail pribadi secara mendalam dalam proses rekrutmen dan selama bekerja. Ben Freeman mengaku dicerca soal perceraian hingga dituduh tidak jujur, sementara Christa Keiser menyebut detail trauma masa kecilnya dipakai sebagai celah untuk melanggar batas tubuhnya.
Alesha Hunt menuturkan pengalaman paling tajam, ketika ia mengungkap dugaan STD dan kemudian dipanggil dalam pertemuan yang membuatnya merasa dipermalukan. Ia menyebut HR menuduhnya tidak menyampaikan “seluruh kebenaran” saat wawancara, meski kemudian hasil tes ternyata false positive.
Di sisi lain, Life.Church menolak gagasan bahwa kerentanan dipaksa dan menyatakan “vulnerability harus sukarela.” Feuerborn menyebut jika ada tekanan atau penyalahgunaan informasi, itu pelanggaran serius terhadap kepercayaan.
Ketegangan antara testimoni mantan staf dan narasi institusi makin terlihat pada soal survei dan citra tempat kerja. Life.Church mengutip ulasan anonim Glassdoor dengan 91% merekomendasikan dan 95% menyetujui Groeschel, serta menyebut penghargaan Gallup Exceptional Workplace Award yang mereka raih berulang kali.
Namun, Courtney Donald menyatakan staf didorong memberi ulasan positif demi status, dan John Hunt menyebut ada coaching dalam respons survei. Jika benar, maka indikator engagement bisa berubah dari alat ukur menjadi alat pemasaran, terutama ketika organisasi punya insentif reputasi yang kuat.
Donald juga mengungkap adanya separation agreement yang menurutnya membatasi kritik, sehingga ia menolak dan kehilangan paket sekitar 8.000 dolar AS. Life.Church membantah menggunakan NDA, tetapi mengakui ada perjanjian pemisahan yang melarang pernyataan palsu dan pembocoran syarat severance serta informasi rahasia.
Dalam kacamata hukum dan etika institusi, batas antara “perlindungan reputasi” dan “pembungkaman” sering kabur. Boz Tchividjian, pengacara kasus abuse institusional, menilai gereja dapat memperbesar kontrol karena relasi kuasa di tempat kerja bercampur dengan otoritas spiritual.
Skandal Life.Church ini bukan sekadar soal satu cekikan, tetapi soal ekosistem yang memungkinkan pemimpin tak tersentuh sementara staf bawah “dibentuk” lewat rasa takut. Ketika organisasi menuntut keterbukaan batin, tetapi tidak menjamin keselamatan psikologis, kerentanan berubah menjadi alat kontrol.
Budaya “You get to do this” yang terdengar mulia bisa menjadi pembenaran eksploitasi, terutama ketika target bergeser dari misi menjadi metrik. Donald menyebut dirinya melihat dorongan pada “metrics, profit, and power,” dan itu selaras dengan keluhan John Hunt bahwa gereja terasa seperti mesin bisnis.
Di ruang gereja, kerusakan lebih dalam karena luka itu menempel pada iman, bukan hanya karier. Terapis Rachel Hall menilai lingkungan toksik berbasis spiritual membuat korban meragukan diri, komunitas, bahkan Tuhan, karena rasa dikhianati datang dari tempat yang mengklaim suci.
Karena itu, respons institusi tidak cukup dengan pernyataan “sudah ditangani internal” atau “tidak ada pola.” Akuntabilitas menuntut transparansi prosedural, standar disiplin yang setara, dan mekanisme aman bagi pelapor tanpa risiko pembalasan.
Life.Church boleh saja memiliki angka kehadiran raksasa, aplikasi Alkitab paling populer, dan penghargaan engagement, tetapi data reputasi tidak otomatis membatalkan kesaksian luka. Jika benar ada ratusan mantan staf mencari “safe space” untuk pulih, maka masalahnya bukan individu, melainkan sistem.
Pertanyaan akhirnya sederhana namun tajam, apakah gereja modern lebih sibuk melindungi merek daripada melindungi manusia. Jika Injil berbicara tentang pemulihan, maka pemulihan hanya mungkin ketika kebenaran diutamakan, bahkan bila itu meruntuhkan panggung yang selama ini terlihat megah.
(Orbit dari berbagai sumber, 3 Juni 2026)