Starfish Space dan Otter: Inspeksi Sampah Antariksa Orbit Rendah
ORBITINDONESIA.COM – Starfish Space menyiapkan Otter, wahana inspeksi satelit, untuk mengurai masalah sampah antariksa di orbit rendah Bumi. Setelah didirikan pada Oktober 2019, perusahaan ini justru diuji pandemi global, namun kini mendapat dukungan NASA senilai US$15 juta.
Trevor Bennett, insinyur eks Blue Origin, mendirikan Starfish Space bersama Austin Link dengan ambisi “mengubah dunia.” Beberapa bulan setelah mulai, pandemi menutup aktivitas global, dan mereka menyebutnya sebagai pelajaran tentang ketahanan.
Di Blue Origin, Bennett melihat dari dekat ambisi para miliarder membangun roket besar dan menempatkan satelit dalam jumlah masif ke orbit. Pertanyaan mereka sederhana namun tajam: siapa yang akan mengelola lonjakan volume satelit, dan bagaimana orbit rendah Bumi bisa dipertahankan?
Gagasan seperti menambang asteroid atau membangun infrastruktur di Bulan dianggap terlalu jauh saat itu. Mereka memilih masalah yang lebih dekat dan mendesak, yaitu kemampuan bermanuver di ruang angkasa, menurunkan objek berbahaya dari orbit, dan memperpanjang usia aset.
Dua peluang bisnis muncul dari kalkulasi mereka. Pertama, memperpanjang usia satelit besar di orbit geostasioner, yang nilainya tinggi dan biasanya mahal untuk diganti.
Kedua, mengelola konstelasi satelit yang terus membesar di orbit rendah Bumi. Dalam logika industri, ketika jumlah satelit meningkat, kebutuhan inspeksi, pemantauan, dan penanganan satelit mati akan berubah dari opsi menjadi prasyarat.
Dari kebutuhan itu lahir Otter, kendaraan yang “cocok” untuk dua kasus bisnis tersebut, kata Bennett. Namun realitas pengembangan teknologi antariksa jarang secepat presentasi investor, dan Otter baru benar-benar siap setelah tujuh tahun.
Otter pertama akan terbang pada musim gugur ini dengan misi Falcon 9 Transporter. Ukurannya setara “mesin cuci besar,” dengan massa sekitar 350 kilogram, sebuah konfigurasi yang mengisyaratkan kompromi antara daya jelajah, propulsi, dan kapasitas sensor.
Misi ini terutama demonstrasi untuk NASA dan diberi nama SSPICY, singkatan dari Small Spacecraft Propulsion and Inspection Capability. Otter akan mendekati beberapa wahana tua dan melakukan inspeksi jarak dekat, bukan untuk memperbaiki, melainkan untuk membaca kondisi.
Targetnya adalah satelit-satelit milik AS yang sudah mati, dan Otter akan mendekat hingga ratusan meter. Data yang dikumpulkan mencakup laju putaran, kondisi terkini, dan parameter lain yang penting untuk menilai risiko serta opsi penanganan.
Signifikansinya ada pada model pendanaan dan sinyal kebijakan. Ini disebut sebagai pertama kalinya NASA mendanai misi inspeksi debris komersial, dengan nilai kontrak US$15 juta untuk Starfish Space.
Inspeksi mungkin terdengar pasif, tetapi ia adalah fondasi dari tindakan aktif seperti deorbit atau servis. Tanpa mengetahui apakah sebuah satelit berputar cepat, rapuh, atau pecah menjadi serpihan, operasi penanganan justru bisa memperburuk situasi.
Starfish Space membaca arah pasar dengan cukup jernih: era “meluncurkan dulu, beres belakangan” mulai dipersoalkan. Ketika orbit rendah menjadi jalur padat, setiap satelit mati berubah dari bangkai pasif menjadi risiko tabrakan yang dapat memicu rangkaian serpihan.
Namun ada pertanyaan yang lebih tajam dari sekadar teknologi, yaitu tata kelola. Jika perusahaan komersial mulai rutin mendekati satelit mati milik negara, batas antara keselamatan orbit dan isu kedaulatan akan semakin tipis.
Kontrak NASA memberi legitimasi, tetapi juga menetapkan standar baru tentang siapa yang berwenang “mengintip” objek di orbit. Transparansi prosedur, batasan data, dan aturan keterlibatan akan menentukan apakah layanan ini dipercaya atau dicurigai.
Dari sisi industri, Otter adalah taruhan bahwa layanan di orbit akan menjadi ekonomi baru, bukan sekadar proyek demonstrasi. Jika inspeksi berhasil, langkah berikutnya adalah servis, relokasi, atau deorbit, dan di situlah nilai komersialnya membesar.
Di sisi lain, ada risiko moral hazard yang perlu diwaspadai. Jika kemampuan pembersihan meningkat, operator bisa tergoda menganggap orbit sebagai tempat buang yang “nanti juga dibereskan,” padahal pencegahan tetap lebih murah daripada pemulihan.
Kisah Starfish Space bergerak dari pendirian di 2019, terpukul pandemi, lalu kembali dengan Otter yang akhirnya siap terbang. Misi SSPICY menunjukkan bahwa “membersihkan orbit” dimulai dari tindakan sederhana namun krusial, yaitu melihat lebih dekat dan memahami apa yang sebenarnya mengambang di atas kita.
Pertanyaannya kini bukan hanya apakah Otter bisa mendekat dengan aman. Pertanyaan yang lebih besar adalah apakah dunia siap membangun aturan bersama agar orbit rendah Bumi tetap layak pakai, sebelum kepadatan berubah menjadi krisis permanen.
(Orbit dari berbagai sumber, 27 September 2026)