Komandan Iran Mengklaim Qatar Menahan Tiga Pilot Iran yang Ditangkap pada Awal Perang
ORBITINDONESIA.COM - Tiga pilot militer Iran, yang pesawatnya ditembak jatuh saat mencoba menyasar Qatar, telah ditahan selama berbulan-bulan oleh negara Arab di Teluk tersebut. Demikian klaim komandan militer Iran, Seyed Mohammad Bagherzadeh, dalam sebuah surat kepada Palang Merah, sebagaimana dilaporkan media Iran.
Bagherzadeh mengatakan dua pesawat pengebom Su-24 Iran ditembak jatuh setelah menyasar pangkalan militer AS di Qatar. Menurut Bagherzadeh—yang tidak memberikan bukti pendukung atas klaim tersebut—tiga pilot Iran melontarkan diri dari pesawat dan satu orang tewas dalam insiden itu.
Ini tampaknya menjadi kali pertama Iran menuduh Qatar menahan para pilot tersebut. Baru dua minggu lalu, militer Iran menyatakan bahwa mereka masih berupaya memastikan nasib para pilot itu. CNN telah menghubungi pemerintah Qatar untuk meminta tanggapan.
Menurut Bagherzadeh, Javad Salehi, Abdolmajid Dashtian, dan Omran Beh Rowshia ditangkap oleh pasukan Qatar dan tidak diizinkan menerima kunjungan atau pertemuan, meskipun telah ada "upaya diplomatik."
Pada bulan Maret, CNN melaporkan—dengan mengutip dua sumber yang mengetahui rincian operasi tersebut—bahwa sebuah pesawat militer Qatar menembak jatuh dua pesawat Su-24 Iran.
Saat itu, pihak Qatar telah mengeluarkan peringatan melalui radio namun tidak mendapat tanggapan dari jet-jet tersebut. Karena "keterbatasan waktu" dan "berdasarkan bukti yang ada," pesawat-pesawat itu "diklasifikasikan sebagai pihak yang bermusuhan," ungkap salah satu sumber kepada CNN.
Qatar kemudian mengerahkan pesawat tempurnya, dan sebuah jet tempur F-15 Qatar terlibat dalam "pertempuran udara" dengan jet-jet Iran tersebut sebelum akhirnya menembak jatuh mereka, tambah sumber-sumber itu.
Selat Hormuz
Sebuah kapal yang berafiliasi dengan perusahaan minyak negara Uni Emirat Arab (UEA), ADNOC, diserang pada Jumat malam, 14 Agustus 2026, waktu setempat saat melintasi Selat Hormuz; demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri UEA.
Dalam sebuah pernyataan, Abu Dhabi menyalahkan Iran atas serangan tersebut dan menyebutnya sebagai "pelanggaran nyata" terhadap hukum internasional. Mereka menambahkan bahwa awak kapal tidak mengalami cedera dalam serangan itu.
Kementerian Luar Negeri UEA menuduh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran melakukan tindakan "pembajakan" dengan memanfaatkan selat tersebut sebagai "alat pemaksaan dan pemerasan ekonomi," serta menyatakan bahwa penargetan kapal komersial merupakan "ancaman langsung" bagi kawasan tersebut.
Ini merupakan serangan ketiga terhadap kapal milik ADNOC dalam kurun waktu 48 jam. Sebelumnya, perusahaan minyak milik negara tersebut menyatakan bahwa dua kapalnya diserang saat melintasi Selat Hormuz pada hari Kamis.
United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO)—lembaga yang berafiliasi dengan Angkatan Laut Inggris dan memantau keamanan maritim serta pelayaran di kawasan tersebut—menyatakan bahwa sebuah "proyektil tak dikenal" menghantam lambung kapal pengangkut curah di jalur perairan itu.
Iran telah menyatakan tanggung jawab resmi atas serangan tersebut, namun juga memperingatkan kapal-kapal agar tidak mencoba melintasi jalur maritim yang strategis dan sempit (chokepoint) itu.
Penasihat diplomatik presiden UEA, Anwar Gargash, menyatakan bahwa penargetan "berulang kali" terhadap kapal tanker perusahaan minyak negara tersebut "tidak akan menyurutkan langkah" UEA.
"Kami akan menjaga hak kami atas kebebasan navigasi dan penggunaan Selat Hormuz sesuai dengan hukum internasional, serta mempertahankan kedaulatan dan kepentingan kami, sembari terus menempuh jalur dialog dan mengutamakan opsi diplomatik," ujar Gargash melalui platform X. ***