Brookfield vs Ares: Saham Private Markets Terbaik Jangka Panjang
ORBITINDONESIA.COM – Brookfield Asset Management (BAM) dan Ares Management (ARES) sama-sama diuntungkan dari ledakan private markets, namun kualitas pertumbuhannya berbeda. Investor yang mencari saham alternatif investasi jangka panjang kini dihadapkan pada pilihan: stabilitas berbasis aset riil ala Brookfield, atau mesin kredit agresif milik Ares.
Private markets menjadi magnet baru ketika obligasi dan saham publik makin volatil, sementara institusi besar mengejar imbal hasil yang lebih “terkendali”. Dua nama yang paling sering dibandingkan adalah Brookfield Asset Management dan Ares Management, karena skala dan akses deal mereka sangat besar.
Keduanya sama-sama pengelola aset alternatif global, tetapi komposisi aset dan cara mereka mencetak laba tidak serupa. Perbedaan ini penting karena menentukan ketahanan saat siklus suku bunga, kredit, dan valuasi berbalik arah.
Brookfield menempatkan dirinya pada sektor bernilai tinggi seperti infrastruktur, energi terbarukan, dan real estat, yang cenderung menghasilkan arus kas jangka panjang. Dalam FY 2025, pendapatan Brookfield naik 23,5% menjadi US$4,9 miliar, dengan laba bersih sekitar US$2,5 miliar.
Angka yang paling “berbicara” adalah margin bersih 51,4%, yang menunjukkan kemampuan mengunci fee menjadi laba. Rasio utang terhadap ekuitas sekitar 0,4x pada Desember 2025 memperkuat kesan manajemen leverage yang relatif konservatif.
Likuiditas Brookfield juga tampak longgar, dengan current ratio sekitar 4,2x. Free cash flow (FCF) hampir US$2,1 miliar memberi ruang untuk investasi baru, buyback, atau distribusi tanpa bergantung pada utang tambahan.
Ares, sebaliknya, adalah raksasa investasi alternatif berbasis kredit, yang hidup dari kebutuhan pembiayaan di private equity dan infrastruktur. FY 2025 mencatat pendapatan sekitar US$6,5 miliar, melonjak hampir 67% dari tahun sebelumnya.
Namun laba bersih Ares hanya sekitar US$527,4 juta, dengan margin bersih 8,2%, jauh di bawah Brookfield. Ini mengisyaratkan model yang lebih “berbiaya”, lebih kompetitif, atau lebih agresif dalam ekspansi pasar kredit global.
Struktur risiko Ares juga punya catatan: konsentrasi pendapatan dari Ares Capital Corporation (ARCC) sebagai sumber fee utama. Ketergantungan pada satu entitas besar membuat arus kas sensitif terhadap perubahan kontrak advisory, performa ARCC, dan kondisi kredit.
Dari sisi neraca, debt-to-equity Ares sekitar 3,5x pada Desember 2025, menandakan ketergantungan lebih tinggi pada pendanaan berbasis utang. Current ratio sekitar 2,2x masih memadai, tetapi tidak selega Brookfield saat pasar mengetat.
FCF Ares hampir US$3,2 miliar terlihat impresif, tetapi perlu dibaca dengan kacamata kritis. Stock-based compensation (SBC) mencapai sekitar 22,7% dari operating cash flow, sehingga sebagian “kekuatan kas” bersifat akuntansi karena SBC adalah beban non-kas yang ditambahkan kembali.
Jika disederhanakan, Brookfield menawarkan profil kualitas laba yang tampak lebih bersih dan defensif, sementara Ares menawarkan pertumbuhan pendapatan yang cepat dengan risiko struktur yang lebih tajam. Di era suku bunga yang bisa bertahan tinggi lebih lama, mesin kredit Ares bisa unggul, tetapi juga lebih rentan jika kualitas kredit memburuk.
Brookfield lebih bertumpu pada aset riil yang sering diasosiasikan dengan kontrak jangka panjang dan inflasi yang bisa diteruskan ke tarif atau sewa. Ares lebih bertumpu pada spread kredit, volume pembiayaan, dan keberlanjutan permintaan leverage di pasar privat.
Perbandingan BAM vs ARES sebetulnya bukan soal siapa “lebih hebat”, melainkan siapa yang lebih cocok untuk fase siklus berikutnya. Brookfield tampak seperti pilihan bagi investor yang ingin tidur lebih nyenyak, karena leverage lebih rendah dan margin yang sangat tebal.
Ares lebih mirip mesin pertumbuhan, tetapi mesin ini bekerja paling baik ketika kredit mengalir dan risiko bisa dihargai dengan benar. Ketika pasar salah menilai risiko, biaya modal naik, dan default meningkat, leverage tinggi serta konsentrasi fee bisa berubah dari keunggulan menjadi titik rapuh.
Di sisi lain, kehati-hatian berlebihan juga punya harga, karena peluang kredit sering muncul justru saat pasar takut. Investor perlu menguji apakah lonjakan pendapatan Ares adalah hasil siklus yang sementara, atau bukti kemampuan mengeksekusi strategi kredit lintas rezim suku bunga.
Data FY 2025 menunjukkan kontras yang tajam: Brookfield unggul pada margin dan konservatisme neraca, sedangkan Ares unggul pada pertumbuhan pendapatan dan nominal FCF. Tetapi FCF yang “terangkat” oleh SBC mengingatkan kita bahwa kualitas arus kas sama pentingnya dengan besarnya.
Dalam narasi private markets, Brookfield dan Ares sama-sama memegang kunci: akses modal institusional dan kemampuan mengubah kompleksitas menjadi fee. Namun angka-angka FY 2025 mengajarkan bahwa stabilitas dan agresivitas tidak pernah gratis, karena selalu dibayar dengan trade-off risiko.
Pertanyaan akhirnya sederhana tetapi menentukan: apakah Anda ingin pertumbuhan yang cepat dengan sensitivitas tinggi pada siklus kredit, atau pertumbuhan yang lebih tenang dengan fondasi aset riil. Di tengah euforia alternatif investasi jangka panjang, kedewasaan investor justru diuji oleh kemampuan menilai kualitas laba, bukan sekadar mengejar cerita besar.
(Orbit dari berbagai sumber, 10 Agustus 2026)