Imah Seuri, Kedai yang Menumbuhkan Percaya Diri Anak Yatim dan Dhuafa
Di tengah deretan kedai makan di Jalan Terusan Sutami, Kota Bandung, berdiri sebuah kedai sederhana yang sekilas tak berbeda dengan kafe pada umumnya. Pengunjung datang untuk menikmati nasi goreng hangat, aneka minuman kopi, teh, hingga camilan dengan harga yang ramah di kantong. Namun, di balik setiap hidangan yang tersaji, Kedai Imah Seuri menyimpan misi yang jauh lebih besar daripada sekadar bisnis kuliner.
Kedai sederhana ini merupakan bagian dari Imah Seuri, sebuah rumah pembinaan yang didirikan Kang Zaehanan pada 2010 untuk mendampingi anak-anak yatim, dhuafa, dan korban perundungan.
Berawal dari kegelisahannya melihat banyak anak yatim dan dhuafa tumbuh dengan rasa minder akibat keterbatasan ekonomi maupun pengalaman menjadi korban perundungan, ia membangun sebuah ruang yang tidak hanya memberikan bantuan, tetapi juga kesempatan untuk bertumbuh.
Di Kedai Imah Seuri, anak-anak tidak diposisikan sebagai penerima belas kasihan. Mereka justru dilibatkan dalam berbagai aktivitas pembelajaran, mulai dari melayani pelanggan, belajar berkomunikasi, bertanggung jawab, hingga membangun rasa percaya diri. Pengalaman sederhana itu menjadi bekal penting agar mereka berani berinteraksi dengan masyarakat dan tidak lagi merasa rendah diri.
Perundungan sering meninggalkan luka yang tak kasatmata. Banyak anak kehilangan keberanian untuk berbicara, enggan bergaul, bahkan merasa dirinya tidak berharga. Kemiskinan pun kerap memperburuk keadaan karena melahirkan stigma sosial. Disinilah Imah Seuri hadir untuk memutus lingkaran tersebut dengan menghadirkan ruang aman sekaligus ruang belajar kehidupan.
Konsep inilah yang membuat Kedai Imah Seuri berbeda dari kebanyakan usaha kuliner. Setiap pelanggan yang menikmati hidangan di sana sejatinya ikut menjadi bagian dari gerakan sosial. Keuntungan usaha digunakan untuk menopang berbagai program pembinaan anak-anak yatim dan dhuafa yang selama ini dijalankan oleh Imah Seuri.
Selain menyajikan beragam menu makanan dan minuman, kedai ini juga menjadi tempat bertemunya masyarakat dengan nilai-nilai kepedulian. Secangkir kopi atau sepiring nasi goreng yang dipesan pelanggan secara tidak langsung ikut mendukung keberlangsungan pendidikan karakter, pembinaan mental, dan pemberdayaan anak-anak binaan.
Model yang dibangun Kang Zaehanan membuktikan bahwa bisnis tidak harus selalu berorientasi pada keuntungan semata. Sebuah kedai dapat menjadi ruang tumbuh, tempat anak-anak belajar tentang disiplin, tanggung jawab, serta kepercayaan diri yang mungkin tidak mereka dapatkan di tempat lain.
Di Imah Seuri, secangkir kopi mungkin akan habis diminum. Namun kesempatan yang diberikan kepada anak-anak untuk belajar, melayani, dan percaya pada dirinya sendiri akan terus tumbuh, bahkan setelah pelanggan pulang.