Strategi Utang Orang Kaya: Pinjaman Berjamin Aset, Bukan Jual Investasi

ORBITINDONESIA.COM – Strategi utang orang kaya kerap bertolak belakang dengan naluri kelas menengah yang menghindari cicilan. Alih-alih menjual saham atau properti, mereka memilih pinjaman berjamin aset (asset-backed loan) agar likuiditas tersedia tanpa memutus mesin compounding investasi.

Di banyak keluarga menengah, utang identik dengan tekanan, EMIs, dan risiko gagal bayar. Namun Chartered Accountant Nitin Kaushik menegaskan, kelompok kaya memakai utang sebagai alat finansial yang “strategic” dan “tax-efficient” untuk mempercepat pertumbuhan.

Masalahnya, publik sering menyamakan semua utang sebagai beban, padahal konteks dan desain utang menentukan hasil akhirnya. Di titik ini, pinjaman berjamin aset menjadi contoh paling sering dipakai karena memungkinkan akses dana tanpa menjual aset produktif.

Kaushik menyebut penjualan aset berperforma tinggi bisa memicu pajak capital gain sekitar 12,5% hingga 20% tergantung jenis aset dan masa kepemilikan. Karena itu, menjual investasi demi dana tunai sering berarti “membayar mahal” untuk likuiditas.

Alternatifnya, investor kaya mengambil pinjaman dengan jaminan portofolio saham atau properti, dengan bunga sekitar 9% sampai 10%. Skemanya sederhana: uang tunai didapat sekarang, sementara aset tetap bekerja di pasar dan berpotensi terus naik nilainya.

Di atas kertas, ini seperti menukar pajak yang langsung jatuh tempo dengan biaya bunga yang bisa dikelola. Pinjaman tidak memicu peristiwa kena pajak karena aset tidak dijual, sehingga penundaan pajak menjadi bagian dari strategi.

Praktiknya, dana pinjaman dipakai untuk ekspansi bisnis, reinvestasi, atau kebutuhan arus kas jangka pendek. Logika utamanya adalah menjaga aset inti tetap utuh sambil membeli waktu agar nilai investasi terus bertumbuh.

Namun skema ini tidak otomatis “lebih murah” untuk semua orang. Jika imbal hasil investasi atau proyek yang dibiayai utang lebih rendah dari bunga pinjaman, strategi berubah menjadi kebocoran yang menggerus kekayaan.

Risiko lain muncul saat pasar jatuh dan nilai jaminan turun, karena pinjaman berbasis aset bisa memicu margin call atau permintaan tambahan jaminan. Dalam situasi volatil, utang yang terlihat aman bisa memaksa penjualan aset pada harga buruk.

Kaushik juga menekankan konteks India: meminjam dengan jaminan aset pribadi termasuk cara mengakses modal dengan dampak pajak relatif lebih kecil. Pernyataan ini menjelaskan mengapa strategi tersebut populer di kalangan pebisnis yang membutuhkan likuiditas tanpa “mengorbankan” portofolio.

Sudut pandang tajamnya adalah ini: orang kaya tidak “lebih berani” berutang, mereka lebih mampu mengendalikan konsekuensi utang. Mereka punya aset kuat, arus kas stabil, dan rencana pengembalian yang jelas, sehingga utang menjadi alat, bukan pelarian.

Di sisi lain, narasi “utang itu baik jika produktif” sering dipakai sebagai pembenaran yang menyesatkan bagi publik. Utang produktif hanya benar-benar produktif bila ada disiplin, perhitungan risiko, dan sumber pembayaran yang realistis, bukan sekadar optimisme.

Perbedaan kelas terlihat dari akses dan biaya modal: bunga 9–10% untuk pinjaman berjamin aset bisa lebih mudah didapat bagi pemilik portofolio besar. Bagi banyak orang, biaya pinjaman lebih tinggi, jaminan terbatas, dan pendapatan tidak stabil, sehingga meniru strategi ini tanpa fondasi justru berbahaya.

Maka pelajaran utamanya bukan “ayo berutang seperti orang kaya,” melainkan “pahami struktur pajak, biaya modal, dan tujuan likuiditas.” Utang adalah pisau, dan yang menentukan manfaatnya adalah tangan yang memegang serta alasan menggunakannya.

Strategi utang orang kaya melalui pinjaman berjamin aset menunjukkan bahwa likuiditas dapat dibeli tanpa menjual investasi, selama perhitungan pajak dan bunga dibuat rasional. Tetapi strategi yang sama dapat berubah menjadi jerat bila dipakai tanpa rencana pengembalian dan manajemen risiko pasar.

Pertanyaan reflektifnya sederhana: apakah kita meminjam untuk memperpanjang napas aset produktif, atau justru menunda masalah dengan biaya yang makin mahal. Pada akhirnya, utang bukan soal berani atau takut, melainkan soal kendali dan kejujuran pada kemampuan membayar. (Orbit dari berbagai sumber, 21 Juni 2026)