Laga Perpisahan Lionel Messi di Argentina: Malam Penuh Air Mata

AP News

AP News

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Laga perpisahan Lionel Messi bersama Timnas Argentina pada Selasa di Buenos Aires diprediksi berubah menjadi ritual nasional, bukan sekadar pertandingan persahabatan. Duel melawan Benin diberi tajuk “The Night That No One Wants to End”, karena publik ingin menahan waktu saat sang ikon menutup bab internasionalnya.

Messi, yang kini berusia 39 tahun, mengumumkan pensiun dari sepak bola internasional beberapa pekan setelah Argentina kalah dari Spanyol di final Piala Dunia. “Waktunya telah tiba,” katanya, kalimat singkat yang terdengar seperti palu terakhir pada karier yang terlalu besar untuk ditutup dengan biasa.

Federasi Sepak Bola Argentina (AFA) kemudian membujuknya tampil sekali lagi, demi “perpisahan yang layak ia dapatkan.” Estadio Monumental diperkirakan penuh, dan AFA bahkan menyatakan laga ini akan “melampaui olahraga” serta “penuh emosi.”

Secara teknis, ini hanya friendly melawan Benin, tetapi secara sosial ini adalah panggung memori kolektif Argentina. Tajuk “malam yang tak ingin diakhiri” menunjukkan satu hal: publik tidak hanya menonton skor, mereka menonton penutupan identitas generasi.

Messi datang dengan angka yang sulit ditandingi: 207 penampilan dan 125 gol untuk Argentina, termasuk 21 gol di Piala Dunia. Ia juga tampil di enam Piala Dunia, rekor yang ia bagi bersama rival besarnya, Cristiano Ronaldo.

Kisahnya tidak linear, dan justru itu yang membuat perpisahan ini terasa manusiawi. Ia sempat pensiun pada 2016, lalu kembali dan memasuki periode paling sukses: juara Copa America 2021 dan 2024, serta Piala Dunia 2022.

Namun narasi pamungkasnya dibingkai oleh kekalahan terbaru: Argentina gagal mempertahankan gelar setelah tumbang 1-0 dari Spanyol pada final Juli di New Jersey. Kekalahan itu mengubah perpisahan ini dari pesta kemenangan menjadi upacara penerimaan, bahwa bahkan legenda pun harus berhenti di suatu titik.

Di media sosial, Messi mengunggah foto kedatangan dan sesi latihan terakhirnya bersama tim nasional. “Momen-momen spesial yang aku tahu akan kurindukan,” tulisnya, pengingat bahwa perpisahan bukan hanya milik penonton, tetapi juga milik orang yang pergi.

Di level klub, ia masih berjalan bersama Inter Miami dan baru memenangi Campeones Cup, trofi keempatnya bersama tim tersebut. Kontras ini penting: Messi tidak benar-benar selesai bermain, tetapi ia selesai menjadi simbol resmi negara di lapangan.

Perpisahan Messi menguji cara kita memperlakukan legenda, apakah kita merayakan manusia atau memuja mitos. Ketika AFA mengatakan laga ini akan “melampaui olahraga,” ada risiko emosi diproduksi menjadi komoditas, tetapi ada juga peluang untuk rekonsiliasi publik dengan perjalanan yang tidak selalu sempurna.

Argentina pernah menuntut Messi menjadi Maradona versi baru, lalu menyalahkannya saat gagal, lalu memujanya saat berhasil di Qatar. Kini, di Monumental, publik seperti ingin mengatakan: kami akhirnya mengerti, beban itu terlalu berat untuk satu orang, dan kebesaran tidak selalu hadir dalam kemenangan terakhir.

Yang juga menarik adalah bagaimana “pensiun internasional” menjadi batas yang lebih tegas dibanding pensiun klub. Negara meminta totalitas, dan ketika Messi menutup pintu itu, ia seolah mengembalikan sepak bola ke ukuran yang lebih waras: karier tidak harus berakhir sekaligus agar seseorang bisa hidup setelahnya.

Laga perpisahan Lionel Messi bersama Timnas Argentina adalah tentang air mata, tetapi juga tentang kedewasaan publik dalam mengucapkan selamat tinggal. Angka 207 laga dan 125 gol akan tinggal di arsip, namun yang lebih lama bertahan adalah rasa bahwa satu generasi pernah punya tokoh yang membuat mereka percaya pada kemungkinan.

Ketika peluit akhir berbunyi, pertanyaan yang tersisa bukan siapa pengganti Messi, melainkan bagaimana Argentina belajar mencintai timnya tanpa bergantung pada satu nama. Jika “malam yang tak ingin diakhiri” harus berakhir juga, mungkin itu cara terbaik untuk menghormati seorang legenda: membiarkannya pergi dengan utuh. (Orbit dari berbagai sumber, 8 Oktober 2026)