Apple PHK Tim VR Vision Pro, Fokus Beralih ke Smart Glasses
ORBITINDONESIA.COM – Apple disebut melakukan PHK tim VR dan melepas sedikitnya 60 karyawan di Apple Vision Group, unit yang mengembangkan Vision Pro. Langkah ini memperkuat sinyal bahwa masa depan headset Apple Vision Pro kian suram, sementara fokus perusahaan digeser ke smart glasses.
Terjemahan akurat artikel sumber: Apple “baru saja memberhentikan seluruh tim yang didedikasikan untuk pengembangan VR,” lapor AppleInsider, mengutip sumbernya sendiri. Apple dikatakan telah memberhentikan setidaknya 60 karyawan dari Apple Vision Group.
Mark Gurman dari Bloomberg sebelumnya melaporkan bahwa tim Vision Pro dibubarkan dan anggotanya didistribusikan ke proyek lain, menyusul penyegaran Vision Pro pada Oktober 2025 dan penerimaan pasar yang lemah. CEO Apple yang akan masuk, John Ternus, juga dilaporkan menyetujui pembatalan Vision Pro generasi kedua dan “Vision Air” yang lebih murah dan lebih ramping, dengan fokus Apple kini bergeser ke kacamata pintar.
Bulan lalu, The Elec melaporkan bahwa Apple menangguhkan pengembangan layar untuk versi Vision Pro yang lebih murah dan lebih ringan yang semula direncanakan meluncur dalam beberapa tahun ke depan. Gurman tidak memperkirakan Apple meluncurkan headset lain sebelum akhir 2028 paling cepat.
Di permukaan, kabar ini tampak seperti pengetatan biasa di industri teknologi yang sedang mencari efisiensi. Namun pada Apple, perubahan struktur tim biasanya berarti perubahan strategi produk yang sangat mendasar.
Kata kuncinya ada pada “penerimaan pasar yang lemah” setelah refresh Oktober 2025, karena itu mengikis argumen utama: bahwa ekosistem akan tumbuh cepat begitu perangkat matang. Jika adopsi tidak bergerak, biaya R&D dan rantai pasok headset premium sulit dibenarkan.
PHK tim VR dan redistribusi personel juga menunjukkan Apple sedang mengubah cara bertaruh, dari “komputasi spasial” berbentuk headset besar ke perangkat yang lebih sosial dan dipakai harian. Smart glasses lebih dekat ke kebiasaan pengguna, dan berpotensi meniru jalur sukses AirPods: kecil, selalu dipakai, lalu menjadi pintu masuk layanan.
Indikasi pembatalan Vision Pro 2 dan “Vision Air” membuat peta produk menjadi lebih ekstrem, karena Apple tidak sekadar menunda, melainkan memutus dua jalur sekaligus: flagship lanjutan dan versi mass market. Dalam bahasa bisnis, ini mirip mengakui bahwa penurunan harga saja tidak cukup jika nilai guna belum terasa bagi publik luas.
Rentang waktu “paling cepat akhir 2028” memberi sinyal bahwa Apple ingin menunggu dua hal: komponen lebih murah dan narasi penggunaan yang lebih meyakinkan. Selama itu belum ada, headset berisiko menjadi produk demonstrasi teknologi, bukan kategori yang menghasilkan volume.
Rujukan dari AppleInsider, Bloomberg (Mark Gurman), dan The Elec memperlihatkan konsistensi arah: pengereman di hardware headset, dan pergeseran ke form factor kacamata. Bagi pasar, konsistensi beberapa sumber ini lebih penting daripada satu bocoran tunggal, karena membentuk ekspektasi investor dan mitra.
Apple tampaknya sedang mengakui dilema klasik inovasi: teknologi bisa menakjubkan, tetapi kebiasaan manusia tidak berubah secepat roadmap produk. Vision Pro mungkin terlalu dini untuk menjadi “komputer utama,” karena ia meminta pengguna mengubah cara bekerja, bersosialisasi, dan bahkan duduk di ruang tamu.
Peralihan ke smart glasses terasa lebih realistis, tetapi juga lebih berbahaya dari sisi reputasi privasi dan penerimaan sosial. Kacamata pintar menempatkan kamera, sensor, dan AI lebih dekat ke wajah publik, dan itu menuntut Apple membuktikan bahwa “privasi sebagai fitur” bukan slogan pemasaran.
PHK setidaknya 60 orang juga menyisakan pertanyaan tentang biaya manusia di balik pivot strategi. Ketika perusahaan mengubah arah, yang hilang bukan hanya proyek, melainkan akumulasi pengetahuan yang dibangun bertahun-tahun.
Di sisi lain, keputusan menahan diri bisa dibaca sebagai disiplin, bukan kegagalan. Apple pernah menunggu lama sebelum masuk kategori tertentu, lalu datang dengan eksekusi yang lebih matang, meski kali ini taruhannya adalah kepercayaan publik pada visi “komputasi spasial” itu sendiri.
Kabar Apple PHK tim VR Vision Pro dan pembatalan Vision Pro 2 serta “Vision Air” menegaskan satu hal: Apple sedang mengalihkan taruhan dari headset ke smart glasses, dengan jeda produk baru yang bisa sampai 2028. Ini bukan sekadar isu perangkat, melainkan soal arah masa depan komputasi sehari-hari.
Jika Apple benar menunggu, pertanyaannya sederhana namun tajam: apakah pasar yang belum siap, atau Apple yang belum menemukan alasan yang cukup kuat untuk membuat orang ingin memakainya setiap hari. Pada akhirnya, teknologi yang menang bukan yang paling canggih, melainkan yang paling mudah menyatu dengan hidup manusia. (Orbit dari berbagai sumber, 22 Agustus 2026)