Laba Saudi Aramco Melejit di Tengah Perang Iran

The New York Times

The New York Times

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Laba Saudi Aramco tetap melesat meski perang Iran memicu gangguan ekspor, serangan drone, dan krisis jalur energi di Selat Hormuz. Raksasa minyak milik negara itu membukukan laba bersih disesuaikan US$31,2 miliar pada kuartal III 2026, naik 9 persen, saat harga minyak rata-rata mencapai US$95 per barel.

Perang yang dipicu serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran mengerek harga minyak dan memperlebar ketegangan geopolitik di Teluk. Dampaknya menjalar ke Arab Saudi lewat eskalasi serangan kelompok Houthi yang didukung Iran.

Sejumlah serangan disebut menewaskan lebih dari selusin orang di bandara internasional Riyadh dan merusak aset energi strategis. Targetnya termasuk gedung kantor pusat Aramco di Dhahran, dua kilang, serta fasilitas pemrosesan minyak di ladang Abqaiq.

Di titik ini, kata kunci “Saudi Aramco” dan “perang Iran” bukan sekadar isu politik, tetapi soal keberlanjutan pasokan energi dunia. Selat Hormuz menjadi simpul yang membuat setiap gangguan kecil berpotensi mengangkat harga global.

Namun Aramco memilih menonjolkan narasi ketahanan operasi dan pemulihan cepat. Perusahaan menegaskan gangguan di sekitar Hormuz dan serangan langsung tidak menggoyahkan kinerja keuangan kuartalannya.

Pada Selasa, Aramco melaporkan pendapatan kuartal III sebesar US$140,5 miliar, melonjak lebih dari 25 persen dibanding setahun sebelumnya. Lonjakan ini terjadi saat konsumen di berbagai negara merasakan kenaikan harga di pompa bensin.

Di sisi lain, serangan-serangan itu juga menekan agenda diversifikasi ekonomi Saudi. Kerajaan menunda konferensi investasi Future Investment Initiative dan menunda Piala Asia 2027 yang semula dijadwalkan 7 Januari, mundur sekitar setahun.

Gangguan agenda investasi dan olahraga menunjukkan perang bekerja seperti pajak tak terlihat bagi ambisi “pasca-minyak”. Ketika risiko keamanan naik, biaya modal ikut naik, dan reputasi stabilitas ikut dipertaruhkan.

Di pasar, harga minyak sempat naik setelah militer AS menyerang Pulau Qeshm milik Iran pada Senin, lalu terkoreksi pada Selasa. Pejabat AS menyebut serangan terbatas, meski Presiden Trump menyatakan mempertimbangkan serangan lebih besar bila diplomasi gagal setelah pemilu paruh waktu.

Dalam pernyataannya, CEO Aramco Amin Nasser menyebut kuartal III 2026 sebagai periode “luar biasa”. Ia menilai ketidakpastian geopolitik dan serangan terhadap fasilitas energi kunci memperparah krisis pasokan energi global.

Di sinilah paradoksnya: makin tinggi risiko, makin tinggi harga, dan makin besar laba bagi produsen yang mampu bertahan. Aramco memanen premi risiko, sementara dunia membayar ongkos ketegangan itu.

Aramco menautkan kinerja keuangan pada dua faktor utama: harga minyak yang lebih tinggi dan ketahanan rantai pasok. Rata-rata harga minyak mentahnya US$95 per barel, sekitar 35 persen lebih tinggi dibanding setahun sebelumnya.

Harga adalah mesin laba paling langsung bagi perusahaan hulu migas. Ketika harga naik puluhan persen, pendapatan dan margin ikut terdongkrak bahkan jika volume ekspor tidak bertambah besar.

Namun Aramco mengklaim volume ekspor juga meningkat. Amin Nasser mengatakan ekspor bertambah 1,1 juta barel pada kuartal III dibanding tiga bulan sebelumnya, meski pipa East-West sempat diserang.

Serangan paling mengkhawatirkan terjadi pada September ketika drone menghantam pipa East-West sepanjang sekitar 750 mil dari Provinsi Timur ke Yanbu di Laut Merah. Pipa ini adalah “jalur napas” karena memungkinkan ekspor jutaan barel per hari tanpa melewati Selat Hormuz.

Pasar sempat takut jutaan barel akan terjebak di dalam negeri Saudi. Tetapi pipa kembali beroperasi dalam kurang dari sepekan, dan beberapa minggu kemudian sekitar enam juta barel per hari kembali mengalir.

Saudi menyatakan rencana memperluas kapasitas pipa hingga 10 juta barel per hari dalam dua sampai tiga tahun. Nasser menegaskan pekerjaan ekspansi “sudah dimulai” dan kerajaan mengeksplorasi “rute tambahan” untuk mengeluarkan minyak mentah.

Ini bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan strategi geopolitik energi. Jika Hormuz adalah titik cekik, maka pipa lintas darat adalah cara mengurangi daya tawar lawan yang mengandalkan gangguan maritim.

Saudi juga tetap memakai tanker yang melintasi Hormuz untuk mempertahankan ekspor. Artinya, diversifikasi rute belum mampu menggantikan peran Hormuz sepenuhnya, melainkan hanya mengurangi ketergantungan.

Selain Teluk Persia dan Laut Merah, Saudi mengekspor lewat jalur pipa ke Mediterania dekat Terusan Suez. Rute Suez membantu menghindari serangan Houthi, tetapi pengiriman ke pasar Asia menjadi lebih jauh dan lebih mahal.

Di titik ini, “ketahanan operasi” berarti kombinasi rekayasa rute dan disiplin pemulihan pascaserangan. Kecepatan perbaikan menjadi senjata ekonomi, karena setiap hari gangguan adalah potensi kehilangan pendapatan.

Hasil Aramco juga sejalan dengan gelombang laba besar industri minyak global ketika perang dengan Iran mendorong harga melambung. Artikel sumber mencatat perusahaan energi di Amerika Serikat meraih lebih dari US$130 miliar laba.

Angka-angka itu memberi konteks bahwa Aramco bukan anomali, melainkan bagian dari pola. Ketika pasokan terancam, produsen besar yang punya kapasitas cadangan dan logistik kuat akan menang.

Namun kemenangan itu bersifat asimetris. Konsumen membayar lebih mahal, negara importir menanggung inflasi, dan agenda transisi energi bisa tersandera oleh kebutuhan jangka pendek menjaga pasokan.

Perang Iran memperlihatkan bagaimana “risiko” bisa berubah menjadi “pendapatan” bagi pemain yang dominan. Aramco seolah membuktikan bahwa serangan dan gangguan bukan selalu bencana finansial, selama harga naik dan sistem pemulihan bekerja.

Tetapi narasi ketahanan ini menyimpan biaya yang tidak tercatat di laporan laba rugi. Setiap serangan ke bandara, kilang, atau fasilitas pemrosesan memperlebar rasa rapuh di dalam negeri dan mengikis citra keamanan yang dibutuhkan investor nonmigas.

Saudi sedang mengejar ekonomi baru berbasis pariwisata, olahraga, dan teknologi. Penundaan Future Investment Initiative dan mundurnya Piala Asia 2027 memberi sinyal bahwa diversifikasi tetap rentan pada guncangan keamanan.

Di level global, lonjakan laba industri minyak menghadirkan pertanyaan moral dan politik. Ketika krisis pasokan dipicu perang, siapa yang menanggung biaya, dan siapa yang memetik keuntungan, jarang terbagi rata.

Aramco juga menampilkan pelajaran strategis: kontrol atas rute ekspor sama pentingnya dengan produksi. Ekspansi pipa East-West dan pencarian rute baru adalah upaya mengubah peta risiko menjadi peta kendali.

Namun rute tambahan tidak menghapus fakta bahwa Hormuz tetap pusat gravitasi energi. Selama selat itu bisa diganggu, pasar akan terus menempelkan premi ketakutan pada harga minyak.

Di sinilah ironi terbesar: laba tinggi hari ini bisa menjadi alasan menunda perubahan struktural besok. Ketika uang mengalir deras dari minyak, dorongan untuk mempercepat ekonomi pasca-minyak bisa melemah, meski ancaman keamanan kian nyata.

Saudi Aramco keluar dari kuartal paling bergejolak dengan laba yang justru naik, ditopang harga US$95 per barel dan ekspor yang diklaim bertambah. Ketahanan teknis dan logistik membuat serangan dan gangguan tidak langsung mematahkan mesin uangnya.

Namun di balik angka US$31,2 miliar itu, ada pertanyaan tentang masa depan: apakah ketahanan energi bisa berjalan seiring dengan ketahanan sosial, investasi, dan reputasi stabilitas. Jika perang terus memperkaya produsen dan memiskinkan konsumen, dunia akan memilih jalan apa untuk keluar dari siklus krisis yang sama?

(Orbit dari berbagai sumber, 5 November 2026)