Kontes Power Nap di Seoul Sorot Krisis Kurang Tidur Korea Selatan
ORBITINDONESIA.COM – Kontes power nap di Seoul kembali digelar, dan ironisnya ia terasa lebih seperti alarm sosial ketimbang hiburan. Hampir 170 anak muda berkostum “sleeping beauty” dan “prince” diminta datang dalam keadaan lelah, lalu tidur di ruang terbuka di tepi Sungai Han.
Ajang ini berlangsung 2 Mei dan diselenggarakan Pemerintah Metropolitan Seoul, menurut laporan Reuters. Ini tahun ketiga, dan pesannya jelas: kota yang bergerak cepat sedang kekurangan jeda.
Di negara dengan budaya kerja dan belajar yang kompetitif, tidur kerap diperlakukan sebagai kemewahan. Ketika tidur harus “dipromosikan” lewat lomba, itu menandai masalah yang sudah menyeberang dari ranah pribadi menjadi isu publik.
Power nap contest menempatkan kelelahan sebagai sesuatu yang bisa dipertontonkan, namun sekaligus mengungkap realitas yang sulit disangkal. Reuters mencatat peserta diminta datang “tired, well fed”, seolah lelah adalah syarat masuk yang paling mudah dipenuhi di Seoul.
Secara global, riset medis telah lama menautkan kurang tidur dengan penurunan konsentrasi, gangguan metabolik, hingga risiko depresi. Dalam konteks kota besar, dampaknya merembet ke produktivitas, keselamatan kerja, dan kualitas relasi sosial.
Uniknya, lomba ini dilakukan di luar ruangan, di taman yang biasanya identik dengan rekreasi. Ruang publik diubah menjadi “ruang pemulihan”, menandakan rumah dan kantor sering gagal menyediakan waktu dan suasana untuk istirahat yang layak.
Di sinilah pesan kebijakan menjadi terasa: kampanye kesehatan tidak selalu datang dalam bentuk larangan atau peringatan keras. Pemerintah kota memilih pendekatan budaya pop, berharap rasa malu karena mengantuk bisa bergeser menjadi kesadaran bahwa tidur adalah kebutuhan dasar.
Namun, cara ini juga menyimpan paradoks yang tajam. Jika tidur dijadikan kompetisi, maka logika “berprestasi” tetap menempel bahkan pada aktivitas paling manusiawi, dan itu bisa mengaburkan akar persoalan yang lebih struktural.
Kontes power nap di Seoul menarik karena ia memotret bagaimana generasi muda menegosiasikan tubuhnya dengan tuntutan kota. Kostum lucu dan suasana santai memberi jarak emosional, tetapi di baliknya ada pesan getir: terlalu banyak orang hanya bisa tidur ketika diberi panggung.
Masalah kurang tidur jarang berdiri sendiri, karena ia terkait jam kerja panjang, tekanan akademik, dan budaya “selalu siap” di ponsel. Selama ritme hidup tetap memaksa orang menukar jam tidur dengan jam bertahan, lomba tidur hanya menjadi plester kreatif di atas luka yang terus terbuka.
Meski begitu, kita tidak perlu meremehkan efek simboliknya. Ketika pemerintah kota mengakui kelelahan sebagai isu, pintu diskusi tentang jam kerja, kesehatan mental, dan hak atas waktu luang menjadi lebih sulit ditutup.
Power nap contest di Seoul menunjukkan bahwa krisis kurang tidur bisa muncul dalam bentuk yang paling tak terduga: festival tidur massal di ruang publik. Ia menghibur, tetapi juga menegur, karena tidur seharusnya tidak perlu diperebutkan atau diperlombakan.
Pertanyaannya sekarang sederhana namun menantang: apakah kita ingin kota yang membanggakan ketahanan, atau kota yang menghormati pemulihan. Jika istirahat adalah fondasi kesehatan, maka ukuran kemajuan semestinya tidak hanya seberapa cepat kita bergerak, tetapi seberapa manusiawi kita berhenti.
(Orbit dari berbagai sumber, 11 Juni 2026)