Film Artificial: Sam Altman, OpenAI, dan Horor AGI
ORBITINDONESIA.COM – Film Artificial menempatkan Sam Altman, OpenAI, dan ambisi AGI sebagai drama yang pelan-pelan berubah menjadi horor psikologis. Andrew Garfield memerankan Altman sebagai sosok memikat sekaligus mengerikan, sementara film ini menyindir budaya tech bro yang mabuk terobosan.
Cerita dimulai pada 2003 di University of Toronto, saat Ilya Sutskever mendatangi Geoffrey Hinton, profesor pelopor jaringan saraf tiruan. Hinton awalnya mengusir, lalu terkejut ketika remaja 17 tahun itu kembali nyaris seketika dengan solusi yang melompatkan teori mereka.
Dalam satu dekade, Hinton, Ilya, dan Alex Krizhevsky merancang jaringan saraf pengenal gambar pertama dan menjualnya ke Google senilai 44 juta dolar AS. Di fase awal itu, Hinton sudah cemas pada risiko, sampai memotong presentasi pihak yang bersemangat membahas aplikasi pertahanan seperti drone otomatis.
Di Silicon Valley, Altman dan Elon Musk meratapi kekalahan dari Google sambil merancang jalan balik. Musk merekrut Mira Murati di Tesla, sementara Altman mengikat Ilya dengan investasi besar dan janji panggung sendiri.
Film ini memotret percepatan AI sebagai spiral yang makin sulit dikendalikan, terutama ketika pembicaraan bergeser ke AGI, kecerdasan umum buatan setara manusia. Altman menjual visi “AGI untuk umat manusia”, namun film menekankan jarak antara retorika dan struktur kuasa pendanaan.
Pada 2016, OpenAI diluncurkan dari apartemen Greg Brockman di San Francisco, di tengah ritual kemenangan ala startup yang menabuh euforia. Adegan para tech bro meneriakkan “Feel the AGI” menjadi simbol bagaimana keberhasilan teknis sering mengalahkan kehati-hatian.
Mira pindah ke OpenAI setelah menolak tawaran Musk, dan meyakinkan Ilya bahwa kemajuan datang dari interaksi manusia-AI. Altman justru mendorong kemitraan dengan Microsoft demi dana, menyingkirkan kekhawatiran etika Ilya dengan ketulusan palsu yang lama-lama terasa seperti ia sendiri mempercayainya.
Ketika jaringan saraf menunjukkan kemampuan untuk berbohong, Ilya terpukul bukan karena teknologi “gagal”, melainkan karena teknologi “meniru” manusia. Ia bertanya apakah tujuan membuat AI lebih baik justru akan menghasilkan versi manusia yang lebih buruk.
Hinton merangkum ancaman dengan kalimat tajam, “Pertanyaannya bukan ‘bagaimana ini bisa salah’, tapi ‘bagaimana ini tidak salah’.” Film mengaitkan kecemasan itu dengan fakta nyata bahwa Hinton memang meninggalkan Google karena perbedaan pandangan tentang risiko, serta menerima Nobel Fisika 2024 atas kontribusinya pada jaringan saraf.
Guadagnino mengubah nada secara halus dari komedi kering menjadi ketegangan, seolah penonton ikut ditarik dari pesta demo menuju ruang kontrol yang dingin. Efeknya terasa seperti peringatan bahwa bahaya AI sering datang bukan lewat ledakan, melainkan lewat normalisasi.
Yang paling mengganggu dari Artificial bukan teknologi, melainkan karakter manusia yang mengendalikannya. Garfield memainkan Altman sebagai “penjahat menawan” yang mampu merebut kembali posisi bahkan setelah dipecat dewan, sebuah komentar tentang betapa lenturnya moral di ekosistem modal.
Film juga menyindir fraternitas para miliarder teknologi yang saling melindungi, dengan insinuasi bahwa potret Altman dapat mengganggu kepentingan korporasi. Ini terasa relevan jika publik menautkannya pada realitas pasar, ketika kemitraan dan investasi raksasa membuat kritik menjadi mahal.
Isyarat tentang seksualitas Altman dibiarkan samar untuk waktu lama, lalu meledak dalam satu adegan rumah mewah Napa: kebun rapi, “anak-anak cantik” di sekitar kolam, dan bunker berteknologi tinggi dengan lemari senjata penuh. Kontras itu seperti mengatakan bahwa filantropi, hedonisme, dan paranoia bisa hidup dalam satu tubuh kekuasaan.
Barinholtz sebagai Musk tampil sebagai karikatur yang lucu sekaligus tepat sasaran, karena ego dan rasa “hidup di masa depan” menjadi candu. Sementara itu, Ilya digambarkan idealis yang kalah oleh mesin organisasi, memperlihatkan bagaimana suara kehati-hatian sering dipinggirkan saat jadwal rilis dan pendanaan menekan.
Kalimat Altman, “masa depan tak terelakkan,” disandingkan dengan omong kosong kosmik “kita semua NPC di video game.” Film seperti menertawakan cara bahasa teknologi mengaburkan tanggung jawab, karena jika semua “takdir”, maka tak ada yang perlu disalahkan.
Artificial bekerja karena ia tidak berpura-pura bisa mengejar semua perkembangan AI yang bergerak terlalu cepat. Ia memilih satu hal yang lebih penting, yaitu menunjukkan bagaimana ambisi, uang, dan narasi “demi kemanusiaan” dapat menumpulkan rem keselamatan.
Jika Pandora sudah dibuka, pertanyaan kita bukan lagi sekadar “apa yang bisa dilakukan AI,” melainkan “siapa yang memegang sakelar dan untuk kepentingan siapa.” Dan ketika tokoh utamanya membawa pedang saat membela diri di depan wartawan, kita diingatkan bahwa sebagian orang sungguh melihat dirinya sebagai penyelamat, bahkan ketika dunia meminta mereka berhenti sejenak.
(Orbit dari berbagai sumber, 8 Oktober 2026)