Olahraga dan Aritmia: Sehat Jantung, Risiko Tetap Ada

detikHealth

detikHealth

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Olahraga untuk kesehatan jantung kerap dipromosikan sebagai “obat” paling murah dan aman. Namun dr Simon Salim mengingatkan, olahraga tidak menghapus risiko aritmia sepenuhnya, bahkan pada orang yang tampak bugar.

Di ruang publik, pesan “rajin olahraga = pasti aman” terdengar sederhana dan menenangkan. Masalahnya, jantung bekerja dengan sistem listrik yang kompleks, sehingga ritme bisa terganggu walau ototnya kuat.

Aritmia adalah gangguan irama jantung yang dapat terasa sebagai berdebar, dada tidak nyaman, pusing, atau bahkan pingsan. Pada sebagian kasus, aritmia tidak bergejala, sehingga orang baru sadar ketika kejadian sudah serius.

Di sinilah paradoks muncul: olahraga menurunkan risiko penyakit jantung, tetapi tidak meniadakan semua gangguan ritme. dr Simon Salim menekankan pentingnya aktivitas fisik teratur, sekaligus kewaspadaan terhadap sinyal tubuh.

Secara ilmiah, aktivitas fisik teratur berkaitan dengan penurunan tekanan darah, perbaikan profil lipid, dan kontrol gula darah yang lebih baik. Organisasi seperti WHO merekomendasikan 150–300 menit aktivitas aerobik intensitas sedang per minggu untuk orang dewasa, sebagai standar minimal menjaga kesehatan kardiovaskular.

Namun aritmia tidak hanya dipengaruhi kebugaran, melainkan juga usia, genetik, gangguan elektrolit, kurang tidur, stres, konsumsi alkohol, hingga obat tertentu. Ritme jantung juga bisa sensitif terhadap dehidrasi dan lonjakan adrenalin, dua hal yang sering terjadi saat latihan berat.

Dalam praktik klinis, keluhan berdebar sering muncul setelah latihan intens, terutama bila pemanasan minim dan pemulihan diabaikan. Pada sebagian orang, olahraga berlebihan dapat memicu episode aritmia tertentu, meski ini tidak berarti olahraga harus ditinggalkan.

Data global menunjukkan aritmia paling umum, fibrilasi atrium, meningkat seiring usia dan faktor risiko metabolik. Pesannya jelas: kebugaran membantu, tetapi tidak membatalkan biologi dan riwayat kesehatan seseorang.

Karena itu, “olahraga yang benar” menjadi kata kunci, bukan sekadar “olahraga lebih banyak.” Intensitas, durasi, dan frekuensi perlu disesuaikan dengan kondisi, serta dievaluasi bila muncul gejala.

Kita terlalu sering menjadikan olahraga sebagai narasi moral: yang rajin dianggap pasti sehat, yang jarang dianggap pasti sakit. Cara pandang ini menipu, karena kesehatan jantung bukan hanya soal kemauan, melainkan juga soal risiko yang kadang tak terlihat.

Peringatan dr Simon Salim seharusnya dibaca sebagai koreksi, bukan ketakutan. Olahraga tetap salah satu intervensi terbaik, tetapi harus ditempatkan dalam kerangka pencegahan yang lebih luas.

Kerangka itu mencakup tidur cukup, hidrasi, manajemen stres, dan pemeriksaan bila ada riwayat keluarga atau gejala. Pemeriksaan sederhana seperti EKG, atau evaluasi lanjutan sesuai indikasi dokter, dapat menjadi pagar pengaman bagi mereka yang aktif berolahraga.

Yang sering luput adalah budaya “push sampai batas” yang dipopulerkan media sosial. Ketika tubuh memberi sinyal seperti berdebar tidak wajar, nyeri dada, atau pusing, keberanian sejati justru berhenti dan memeriksa, bukan memaksa.

Olahraga untuk kesehatan jantung tetap penting, dan aktivitas fisik teratur layak menjadi kebiasaan bersama. Tetapi risiko aritmia mengajarkan satu hal: tubuh tidak selalu mengikuti slogan, ia mengikuti sinyal biologis.

Mungkin pertanyaan yang lebih dewasa bukan “berapa sering kita olahraga,” melainkan “seberapa peka kita mendengar ritme tubuh sendiri.” Di antara semangat hidup sehat dan kewaspadaan medis, ada ruang bijak untuk merawat jantung tanpa ilusi kebal risiko.

(Orbit dari berbagai sumber, 20 Agustus 2026)