Burnout Korporat: Video Aman Singapura Bongkar Budaya Hustle

ORBITINDONESIA.COM – Burnout korporat kembali jadi perbincangan setelah video Aman, pekerja India di Singapura, mengaku tidur empat jam, hidup dikejar cicilan, dan bertahan dengan kopi sebelum jam 11 siang. Ia menyebut dulu mengira kondisi itu adalah “winning”, sampai sadar bahwa budaya hustle dan glorifikasi lembur hanya memoles kerusakan menjadi prestasi.

Dalam videonya, Aman memperlihatkan bagaimana kurang tidur, makan berantakan, dan tekanan finansial dinormalisasi sebagai tanda ambisi. Ia menyindir kalimat-kalimat populer seperti “built different” dan “adulting” yang membuat penderitaan tampak keren.

Ia juga mengingatkan bahwa banyak orang merasa heroik ketika menyelesaikan masalah produksi dini hari, padahal tubuh “diam-diam mencatat skornya”. Pesannya jelas, deadline akan selalu kembali tiap sprint, tetapi manusia tidak punya tombol reset yang sama.

Fenomena burnout bukan sekadar keluhan generasi muda, melainkan pola kerja yang makin sistemik di industri berorientasi target. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memasukkan burnout sebagai fenomena pekerjaan dalam ICD-11, ditandai kelelahan, sinisme, dan turunnya efektivitas.

Di sektor teknologi, ritme sprint, on-call, dan budaya “always available” sering membuat jam kerja melebar tanpa terasa. Kalimat Aman, “That’s not discipline, that’s just damage with a good designation on LinkedIn,” tepat menggambarkan bagaimana identitas profesional dipakai menutupi biaya biologis.

Data global memperkuat konteks itu, meski tiap survei punya metodologi berbeda. Gallup dalam State of the Global Workplace melaporkan banyak pekerja mengalami stres harian yang tinggi, dan stres kerja berkorelasi dengan absensi, turnover, serta penurunan produktivitas.

Masalahnya, perusahaan kerap mengira masalah ini selesai dengan webinar mindfulness atau poster “work-life balance”. Padahal pemicu utamanya sering struktural, seperti beban kerja tidak realistis, staffing minim, dan sistem penghargaan yang memuja “yang paling tahan banting”.

Tekanan finansial yang disebut Aman, seperti EMIs atau cicilan, menambah lapisan risiko. Ketika biaya hidup tinggi dan gaya hidup dipacu media sosial, pekerja cenderung menukar tidur dengan jam kerja tambahan demi rasa aman semu.

Di sisi lain, media karier ikut menyuplai narasi bahwa lelah adalah mata uang sukses. Jika lelah dipamerkan sebagai lencana, orang akan berlomba memproduksi kelelahan, bukan memproduksi kinerja yang sehat.

Video Aman terasa tajam karena ia tidak sekadar menyalahkan perusahaan, tetapi juga kebiasaan kita mengestetisasi penderitaan. Kita mengubah luka menjadi konten, lalu menyebutnya “growth”, padahal yang tumbuh sering kali hanya toleransi terhadap hal yang seharusnya tidak normal.

Budaya hustle memelihara ilusi kontrol, seolah siapa pun bisa “menang” asal cukup keras memaksa diri. Namun tubuh tidak bernegosiasi dengan ego, dan prestasi yang dibangun di atas kurang tidur biasanya dibayar dengan konsentrasi menurun, emosi rapuh, dan keputusan yang buruk.

Kalimat “Nobody was giving me a medal; my body was just quietly keeping score” adalah kritik terhadap sistem penghargaan yang salah sasaran. Banyak organisasi menghargai respons cepat saat krisis, tetapi tidak menghargai pencegahan krisis melalui proses yang rapi dan tim yang cukup.

Jika burnout terus dianggap bukti ambisi, maka yang dipromosikan bukan pemimpin, melainkan penyintas. Pada titik itu, perusahaan tidak lagi mengelola talenta, tetapi mengelola kelelahan massal yang sewaktu-waktu meledak menjadi resign, konflik, atau gangguan kesehatan.

Burnout korporat bukan takdir, melainkan hasil dari pilihan budaya kerja yang dibiarkan berulang. Pesan Aman sederhana, rawat diri karena sprint berikutnya pasti datang, sementara kesehatan tidak selalu kembali.

Pertanyaannya, berapa banyak dari kita yang masih menyebut kerusakan sebagai disiplin hanya karena terlihat produktif di LinkedIn. Mungkin ukuran sukses yang paling modern justru bukan “tahan lembur”, melainkan berani berhenti sebelum tubuh berhenti sendiri. (Orbit dari berbagai sumber, 8 Juni 2026)