Emma Fatma dan Upaya Menjaga Hutan Lewat Budidaya Kopi
Fajar baru saja menyingsing ketika kabut perlahan membuka tirainya di lereng Gunung Kerinci. Berdiri setinggi 3.805 meter di atas permukaan laut dan dijuluki “Atap Sumatera”, gunung tertinggi di Pulau Sumatera itu memayungi hamparan hijau yang seolah tak berujung.
Di kaki gunung, perkebunan teh yang telah ada sejak 1925 membentang luas, menjadi saksi perjalanan panjang sebuah kawasan yang kini juga dikenal karena kopi arabikanya. Di tengah bentang alam itulah PT Agrotropic Nusantara tumbuh dengan sebuah gagasan sederhana: menjaga hutan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dari upaya tersebut lahirlah Kopi Arabika Koerintji, merek kopi yang dikembangkan perusahaan untuk membawa cita rasa khas Kerinci ke pasar yang lebih luas sekaligus memperkenalkan praktik budidaya kopi yang berkelanjutan.
Perjalanan tersebut dimulai dengan mendampingi para petani kopi di Kerinci. Saat itu, sebagian petani pernah mendapat stigma sebagai perambah hutan di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat. Kondisi ekonomi yang sulit juga membuat sebagian dari mereka memilih membuka lahan di sekitar hutan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan mempertahankan mata pencaharian.
Emma Fatma, pengelola PT Agrotropic Nusantara yang memiliki latar belakang sebagai aktivis lingkungan, memilih pendekatan berbeda. Bersama berbagai pihak, ia mendampingi masyarakat untuk membangun sistem pertanian kopi yang berpihak pada alam. Pendampingan itu tidak mudah. Penolakan, cibiran, hingga ancaman pernah menjadi bagian dari proses yang harus dihadapi.
Namun perubahan tidak terjadi dalam semalam. Selama bertahun-tahun, para petani belajar memilih bibit, merawat tanaman, meningkatkan kualitas panen, hingga memahami pentingnya menjaga kawasan hutan yang menjadi penyangga ekosistem mereka sendiri.
Salah satu prinsip yang diterapkan adalah sistem agroforestri. Tanaman kopi tidak berdiri sendiri, tetapi ditanam berdampingan dengan pohon pelindung seperti lamtoro, alpukat, atau jeruk. Penggunaan pestisida berbahaya dihindari, sementara limbah pengolahan kopi dimanfaatkan kembali sebagai pupuk organik. Dengan cara itu, produktivitas dan kelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan.
Di balik secangkir kopi yang dinikmati konsumen, terdapat proses panjang yang penuh pembelajaran. Kualitas biji kopi harus dijaga sejak pemetikan, pengolahan, penjemuran, hingga penyortiran. Tidak sedikit proses yang dilalui dengan pendekatan coba-coba dan evaluasi berulang sampai akhirnya ditemukan standar yang sesuai dengan kebutuhan pasar.
Namun, tantangan tidak berhenti di tingkat budidaya. Ketika kopi Kerinci mulai dipasarkan, membangun kepercayaan pembeli di pasar internasional menjadi pekerjaan yang tidak mudah. Dibutuhkan konsistensi dalam menjaga mutu, mulai dari proses panen hingga pengolahan, agar kualitas kopi tetap terjaga. Di sisi lain, Emma Fatma terus berupaya memperluas jaringan dan memperkenalkan kopi Kerinci kepada calon pembeli di berbagai negara. Berbekal pengalaman dan relasi yang dibangun selama bertahun-tahun, ia membuka jalan agar Kopi Arabika Koerintji dari lereng Gunung Kerinci semakin dikenal di pasar global.
Hingga perlahan, kepercayaan itu tumbuh. PT Agrotropic Nusantara berhasil menembus pasar internasional, termasuk Amerika Serikat, Jerman, dan Jepang. Keberhasilan memasuki pasar Jepang menjadi pencapaian tersendiri karena negara tersebut dikenal memiliki standar mutu yang ketat dan proses seleksi yang tinggi terhadap produk impor.
Perjalanan Kopi Arabika Koerintji menunjukkan bahwa menjaga hutan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat dapat berjalan beriringan. Ketika petani mendapatkan penghasilan yang baik dari kebun yang dikelola dengan benar, mereka tidak lagi bergantung pada pembukaan hutan untuk mencari nafkah.
Di lereng Gunung Kerinci, secangkir kopi membawa pesan yang lebih dalam daripada sekadar aroma dan cita rasa. Ia menjadi bukti bahwa konservasi dan kesejahteraan tidak harus saling bertentangan. Dengan pendampingan yang tepat, keduanya dapat tumbuh bersama, mengakar di tanah yang sama, dan memberi harapan bagi generasi yang akan datang.