Pariwisata AS Rayu Kanada, Boikot dan Perang Dagang Menguat
ORBITINDONESIA.COM – Pariwisata AS menggencarkan kampanye “kami cinta Kanada”, tetapi banyak warga Kanada menilai rayuan itu terlambat. Josh Loewen, eksekutif pemasaran dari Vancouver, menyebut upaya itu “sia-sia” selama tensi politik dan perang dagang AS-Kanada terus membara.
Terjemahan ringkas artikel: Dalam setahun terakhir, imbauan dari organisasi pariwisata Amerika tampak di mana-mana, dari baliho hingga iklan media sosial, menawarkan diskon untuk pelancong Kanada. Namun setelah Donald Trump kembali menjabat dan melontarkan gagasan menjadikan Kanada “negara bagian ke-51”, perjalanan warga Kanada ke AS anjlok dan memicu boikot informal.
Hubungan kedua pemerintah memburuk setelah perundingan dagang runtuh bulan lalu. Trump memberlakukan pajak impor hingga 50% untuk sejumlah produk Kanada, Kanada membalas, dan retorika simbolik seperti mengganti nama Danau Ontario menjadi “Lake America” menambah luka diplomatik.
Di tengah retakan itu, negara bagian New York meluncurkan promosi “NY Loves Canada” dan hotel di pusat Las Vegas menyetarakan dolar Kanada dengan dolar AS. Brand USA bahkan membawa ajang Travel Week ke Kanada untuk pertama kalinya pada Oktober, memperluas program Canada Connect.
Data menunjukkan dampaknya nyata dan mahal. Statistics Canada mencatat pada 2025 warga Kanada melakukan 25% lebih sedikit perjalanan pulang-pergi melintasi perbatasan dan membelanjakan sekitar US$2,4 miliar (CA$3,3 miliar) lebih sedikit untuk perjalanan ke AS dibanding tahun sebelumnya.
Penurunan itu tidak berdiri sendiri karena dolar Kanada melemah dan harga tiket pesawat serta hotel naik. Namun analis Statistics Canada menilai penarikan mendadak setelah masa jabatan kedua Trump menandakan “pergeseran yang persisten” dari preferensi perjalanan warga Kanada menjauhi AS.
Ada sinyal pemulihan tipis pada Mei, Juni, dan Juli ketika penyeberangan perbatasan naik sedikit. Dua bulan terakhir bertepatan dengan Piala Dunia 2026 yang digelar bersama AS, Kanada, dan Meksiko, bahkan Perdana Menteri Mark Carney hadir di final di New Jersey bersama Trump.
Tetapi pemulihan itu rapuh dan tidak merata. Kenaikan terutama datang dari perjalanan darat, sementara perjalanan udara Kanada ke AS turun dibanding tahun sebelumnya pada setiap bulan hingga Juni, dan NTTO memperkirakan kunjungan menginap pada paruh pertama 2026 lebih rendah daripada periode yang sama tahun lalu.
Ujian berikutnya adalah musim “snowbirds”, ketika warga Kanada biasanya mengalir ke Florida, Arizona, dan California saat musim dingin. Konsultan perhotelan Deborah Friedland menyebut situasinya “satu langkah maju dan dua langkah mundur”, terutama setelah Trump kembali mengumumkan tarif atas barang Kanada senilai US$20 miliar tak lama usai Piala Dunia.
Di tingkat destinasi, dampaknya bervariasi namun tetap tajam. Visit Florida mencatat penurunan 7% kunjungan warga Kanada pada 2025, sedangkan Visit California dengan rujukan Tourism Economics memperkirakan kunjungan Kanada ke California turun 20%.
Masalah utama pariwisata AS bukan sekadar harga atau promosi, melainkan legitimasi moral belanja lintas batas saat hubungan politik memanas. Ketika konsumen merasa negaranya direndahkan, diskon hotel dan banner “kami peduli” mudah terbaca sebagai kosmetik, bukan rekonsiliasi.
Pemasaran destinasi bekerja baik untuk mengatasi keraguan praktis, seperti kurs dan biaya perjalanan. Namun pemasaran sulit menutup rasa tidak aman, tidak diterima, atau keberatan prinsipil, seperti yang diungkap Eileen March dari Calgary yang menolak bahkan transit penerbangan di AS.
Di sinilah ironi “diplomasi pariwisata” muncul. Pelaku industri mencoba memisahkan wisata dari politik, tetapi keputusan wisatawan justru semakin politis, karena uang liburan dipandang sebagai suara dan sikap.
Kasus keluarga Loewen menegaskan pergeseran itu. Mereka dulu rutin ke San Diego, Portland, dan Seattle, tetapi tahun ini memilih Meksiko, bukan karena AS tidak menarik, melainkan karena mereka tidak ingin membelanjakan uang di sana selama tensi tetap tinggi.
Jika boikot bertahan hingga musim snowbirds, dampaknya bisa menjadi indikator sentimen jangka panjang. Bukan hanya bagi hotel dan maskapai, tetapi juga bagi persepsi “tetangga terdekat” yang selama puluhan tahun menjadi pasar paling setia bagi pariwisata Amerika.
Artikel ini memperlihatkan bahwa pariwisata adalah cermin hubungan antarnegara, bukan ruang hampa. Ketika tarif, ejekan, dan simbol-simbol dominasi menjadi berita harian, ajakan “datanglah berlibur” terdengar seperti meminta publik melupakan martabatnya.
Pertanyaannya kini bukan apakah AS bisa menawarkan liburan yang menyenangkan, tetapi apakah ia bisa memulihkan rasa percaya. Jika tidak, boikot warga Kanada dapat berubah dari reaksi sesaat menjadi kebiasaan baru yang menggeser peta pariwisata Amerika untuk waktu lama.
(Orbit dari berbagai sumber, 9 September 2026)