DECEMBER 9, 2022
Humaniora

Kisah Seputar Lebaran: Mereka yang Mengharap Rupiah Berlipat dari Jualan Kulit Ketupat

image
Seorang pembeli memilih kulit ketupat yang dijual oleh pedagang di sekitar Pasar Palmerah, Jakarta pada Senin, 8 April 2024. (ANTARA/Hreeloita Dharma Shanti)

ORBITINDONESIA.COM - Di balik tiap lipatan kulit ketupat, ada orang-orang yang berupaya mencari uang tambahan dengan berjualan kulit ketupat menjelang Hari Raya Idul Fitri.

Suminta, yang biasanya bekerja secara lepas, menjadi pedagang musiman kulit ketupat pada Lebaran tahun ini. Bersama sekitar 30 orang lainnya, dia menjajakan kulit ketupat di sepanjang jalan dekat Pasar Palmerah, Jakarta Barat.

Saat ditemui ANTARA, Senin, 8 April 2024, Suminta mengaku memilih menginap di pinggir jalan dekat Pasar Pisang supaya bisa berjualan seharian hingga malam takbiran tiba. Lelaki asal Serang, Banten, itu belajar membuat kulit ketupat dari orang-orang di desanya.

Baca Juga: 1 Syawal 1444 Hijriah Jatuh Pada Sabtu, 22 April 2023: Besok Bisa Persiapkan Opor Ayam dan Ketupat Idul Fitri

Rajut-merajut kulit ketupat dilihat dari orang tua yang ada di sana, kata Suminta.

Para pedagang di sentra janur dan kulit ketupat Palmerah mematok harga kulit ketupat mulai dari Rp7.000 sampai Rp10.000 per 10 buah. Sementara janur, yang berisi 30-40 helai per ikat, bisa dibeli mulai Rp5.000-Rp10.000.

Janur dan kulit ketupat dibuat dari daun kelapa muda atau kelapa hijau yang dipasok dari Banten. 

Baca Juga: 10 Tradisi Unik di Indonesia Menyambut Hari Raya Idul Fitri, Ada Lempar Ketupat hingga Permainan Meriam

Berapa banyak kulit ketupat yang dijual pedagang bergantung kepada seberapa besar modal yang dimiliki. Suminta dengan modal Rp3.000.000 bisa mengangkut sekitar 5.000-10.000 helai daun untuk dijual kembali.

Jika Suminta belajar dari orang-orang di kampungnya, Aceng, pedagang kulit ketupat lainnya di Palmerah, mengaku banyak belajar dari orang asal Bali. Berkat membuat kulit ketupat dan dekorasi janur, Aceng, yang memulai usahanya pada 2016, setidaknya meraup penghasilan Rp500.000 per hari.

Kulit ketupat tidak hanya dicari pada musim Lebaran. Pada hari biasa, kulit ketupat juga dicari terutama oleh penjual sayur keliling, penjual ketoprak, penjual lontong sayur, penyedia jasa katering makanan sampai orang-orang yang akan menggelar hajatan, kata Ahmad, salah seorang pedagang kulit ketupat di Palmerah.

Baca Juga: Berbagai Tradisi Masyarakat di Indonesia memeriahkan Idul Fitri, Mulai Bagikan THR Sampai Lempar Ketupat

Mereka seringkali memborong kulit ketupat, bahkan hingga ratusan, supaya tidak perlu pergi ke pasar setiap hari.

Ahmad bercerita keadaan Lebaran saat ini jauh lebih baik dibandingkan ketika pandemi COVID-19 beberapa tahun lalu. Saat itu, hanya sedikit pedagang yang berani merantau ke Jakarta.

Pembatasan aktivitas luar ruangan juga berakibat pada pasokan dagangan. Akibat hanya sedikit barang yang bisa masuk, pedagang terpaksa menaikkan harga janur dan kulit ketupat.

Baca Juga: PERLU TAHU, Ini Sejarah Lengkap Asal Usul Lebaran Ketupat yang Masih Lestari, Ternyata Warisan Wali Songo

Adanya pembatasan yang diterapkan pemerintah pun mempersulit barang dagangan bisa masuk dalam jumlah besar. Akibatnya, pedagang terpaksa menaikkan harga yang lebih tinggi

“Pas COVID-19 itu kami terpaksa jual sampai Rp30 ribu per 10 biji kulit ketupatnya. Sementara janurnya bisa Rp300 ribu,” kata Ahmad.

Tahun ini, Suminta, Ahmad dan Aceng berharap betul dari penghasilan mereka sebagai pembuat dan penjual kulit ketupat

Baca Juga: Kapan dan Tanggal Berapa Lebaran Ketupat Dilaksanakan, Simak Penjelasannya Sampai Habis

“Saya ada rencana pulang (mudik), ya semoga cukuplah buat Lebaran uangnya. Nanti mau saya buat beli daging, bikin rendang,” ujar Aceng. ***
 

Sumber: Antara

Berita Terkait