G7 Rilis 100 Juta Barel Diesel, Harga BBM dan Politik Trump

nbcnews.com

nbcnews.com

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Kesepakatan G7 untuk merilis hingga 100 juta barel diesel dan minyak mentah menjadi upaya terbaru menahan lonjakan harga BBM global. Di tengah perang Iran dan tekanan politik menjelang pemilu paruh waktu AS, kebijakan energi kembali berubah menjadi panggung pertarungan narasi.

Negara-negara anggota Group of Seven (G7) pada Jumat sepakat melepas puluhan juta barel diesel dan minyak mentah dari cadangan. Langkah ini ditujukan untuk membatasi kenaikan harga bensin dan diesel yang terus menanjak di berbagai negara industri.

Setelah konferensi video G7 yang dipandu Presiden Prancis Emmanuel Macron, Presiden Donald Trump menyatakan, “Eropa baru saja setuju merilis jumlah besar Diesel Oil yang mereka timbun.” Trump menambahkan prosesnya “akan dimulai segera,” melalui unggahan di Truth Social.

Harga energi melonjak sejak Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari. Namun diesel kembali meroket pada musim panas, setelah perang Rusia-Ukraina meningkat pada Juli dan memperparah ketegangan pasokan.

Sejak akhir Februari, rata-rata harga diesel di AS naik 70% menjadi US$6,37 per galon. Angka ini memperlihatkan bahwa persoalan energi tidak lagi sekadar siklus komoditas, melainkan krisis biaya hidup yang langsung terasa di logistik dan pangan.

Dalam pernyataan resminya, G7 menyebut pelepasan bisa mencapai 100 juta barel selama empat bulan. Mereka juga menekankan akan ada “pelepasan diesel substansial dalam 20 hari pertama,” untuk meredam gejolak harga secepat mungkin.

G7 juga berjanji mengoordinasikan jadwal perawatan kilang di negara masing-masing. Tujuannya mencegah penutupan kapasitas yang terjadi bersamaan dan, bila memungkinkan, meningkatkan tingkat utilisasi sementara.

Masalahnya, banyak kilang di Amerika dan Eropa sudah bekerja pada kapasitas maksimum. Pelepasan stok memang menambah pasokan jangka pendek, tetapi tidak otomatis menambah kemampuan kilang untuk memproduksi lebih banyak diesel.

Analis minyak Andy Lipow menilai langkah ini dapat menghaluskan gangguan pasokan terbaru. Ia menyatakan, pelepasan 100 juta barel diesel selama empat bulan “pada dasarnya akan menggantikan ekspor Rusia” yang terhenti, ketika serangan drone Ukraina mengurangi kapasitas pemurnian Rusia.

Dari sisi konsumen, Lipow memperkirakan dampaknya hanya sementara. Ia mengatakan pelepasan sebesar itu bisa menurunkan harga diesel sekitar 25 sen per galon, tetapi “tidak banyak meningkatkan kapasitas kilang untuk memproduksi lebih banyak.”

Preseden sebelumnya menunjukkan keterbatasan strategi ini. Pada Maret, negara anggota International Energy Agency menyetujui pelepasan 400 juta barel minyak mentah, sempat meredakan krisis pasokan, namun harga kembali naik.

Hingga Jumat, harga masih tinggi sejak perang Iran dimulai. Brent ditutup relatif datar di US$102,25 per barel, dan sejak awal tahun masih naik lebih dari 60%.

Kesepakatan G7 tidak lahir di ruang hampa, melainkan setelah tekanan diplomatik pemerintahan Trump selama sepekan kepada sekutu Eropa. Jerman dan Prancis disorot karena memegang porsi besar cadangan diesel Uni Eropa, sehingga ruang manuver politik mereka ikut menentukan harga di pompa AS.

Menteri Keuangan Scott Bessent menulis di X bahwa “petani, sopir truk, dan bisnis Amerika tidak seharusnya dibiarkan menanggung beban kekurangan diesel global” sendirian. Kalimat itu terdengar seperti pembelaan kelas pekerja, tetapi juga sinyal bahwa Washington ingin membagi biaya krisis ke mitra yang sama-sama rentan.

Di dalam negeri, konteks politiknya tajam. Dengan beberapa pekan menuju pemilu paruh waktu 3 November, Partai Republik menghadapi angka survei ekonomi yang buruk, karena hanya 41% pemilih terdaftar menyetujui cara Trump menangani ekonomi AS menurut jajak pendapat terbaru NBC News, sementara 56% tidak setuju.

Ekonom juga menilai kebijakan Trump ikut memicu inflasi, mengguncang pasar keuangan, dan mengacaukan perdagangan global. Dalam kondisi seperti ini, kesepakatan G7 menjadi alat komunikasi politik untuk menunjukkan “kemajuan” pada isu paling sensitif: harga BBM yang melambung.

Namun kontradiksi muncul ketika Trump pada saat yang sama mempertimbangkan larangan ekspor diesel AS. Kebijakan itu akan memukul Uni Eropa dan Inggris, sehingga berpotensi mengubah “solidaritas” menjadi perselisihan terbuka.

Uni Eropa secara tegas menolak wacana tersebut. Seorang juru bicara Komisi Eropa menyatakan, “Kami sepenuhnya menolak larangan apa pun atas diesel,” dan menambahkan, “Larangan tidak akan menguntungkan siapa pun.”

Setelah pengumuman G7, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengatakan mereka “menyambut keputusan negara G7 untuk tidak memberlakukan larangan ekspor terhadap sekutu” dan menegaskan solidaritas antar mitra. Pernyataan ini mengisyaratkan bahwa pasar energi kini juga pasar kepercayaan, karena kebijakan sepihak dapat memicu kepanikan dan pembalasan dagang.

Pelepasan 100 juta barel diesel dan minyak mentah bisa menurunkan panas di pasar, tetapi tidak menyembuhkan akar masalah: kapasitas kilang yang terbatas dan konflik geopolitik yang terus memutus rantai pasok. Ketika cadangan strategis dipakai sebagai “pemadam kebakaran,” publik perlu bertanya berapa lama alat ini efektif sebelum tangki cadangan menipis.

Kesepakatan G7 juga menunjukkan bahwa harga BBM bukan sekadar angka, melainkan hasil tawar-menawar kekuasaan, aliansi, dan kepentingan elektoral. Jika krisis energi berubah menjadi kompetisi siapa yang menanggung beban paling kecil, maka solidaritas yang diklaim hari ini bisa menjadi retak esok hari. (Orbit dari berbagai sumber, 4 Oktober 2026)