Diabetes Tak Terdeteksi dan Retinopati Diabetik Mengintai Indonesia

Kumparan.com

Kumparan.com

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Diabetes tak terdeteksi menjadi bom waktu kesehatan, karena PERKENI menyebut sekitar 70 persen penderita diabetes di Indonesia belum terdiagnosis. Di saat yang sama, retinopati diabetik mengintai diam-diam dan sering baru disadari ketika penglihatan mulai hilang.

Pernyataan Ketua Umum PERKENI Prof. Em Yunir membuka sisi gelap penanganan diabetes di Indonesia. “Karena 70% pasien diabetes di Indonesia tidak ketahuan,” ujarnya dalam diskusi di kawasan GBK, Jakarta, Senin (20/7).

Masalahnya bukan sekadar angka, melainkan keterlambatan tindakan yang merembet ke komplikasi. Yunir mengingatkan, begitu diabetes terdeteksi, terapi harus mengejar target gula darah agar risiko retinopati diabetik turun.

Di level kebijakan, Kementerian Kesehatan mendorong warga memanfaatkan cek kesehatan gratis (CKG) di Puskesmas. Direktur P2PTM Kemenkes dr. Siti Nadia Tarmizi menegaskan fasilitas sudah disediakan, tinggal kemauan masyarakat untuk datang.

Angka “70 persen tidak terdeteksi” menunjukkan dua persoalan sekaligus, yakni literasi gejala yang rendah dan kebiasaan memeriksa kesehatan yang belum menjadi budaya. Diabetes tipe 2 kerap berjalan tanpa keluhan berarti, sehingga banyak orang merasa baik-baik saja sampai komplikasi muncul.

Di titik ini, CKG dapat menjadi pintu masuk yang murah dan logis untuk skrining diabetes. Namun program publik sering kandas bukan karena tidak ada layanan, melainkan karena akses praktis, jam layanan, dan dorongan sosial yang tidak cukup kuat.

Komplikasi yang paling merugikan kualitas hidup adalah retinopati diabetik, karena ia mencuri kemandirian secara perlahan. Perwakilan Guru Besar Oftalmologi UGM Prof. Muhammad Bayu Sasongko menyebut penyakit ini jarang dibahas, padahal kebutaan sangat bisa dicegah.

Bayu mengingatkan retinopati diabetik sering berkembang tanpa gejala, sehingga pasien baru sadar ketika penglihatan terganggu. Normalisasi “mata rabun karena usia” membuat banyak orang melewatkan sinyal, lalu datang terlambat ketika kerusakan sudah menetap.

Secara klinis, logikanya sederhana dan keras. Jika gula darah tinggi dibiarkan, pembuluh darah kecil di retina rentan rusak, lalu penglihatan menurun secara bertahap.

Karena itu Yunir menekankan terapi yang baik setelah diagnosis, agar target gula darah tercapai dan pasien “nggak ke dokter mata.” Kalimat itu terdengar ringan, tetapi maknanya serius, karena kontrol metabolik adalah pencegahan kebutaan.

Masalah lain adalah ketakutan terhadap skrining mata, yang membuat pasien menunda pemeriksaan. Bayu bahkan harus meyakinkan publik dengan kalimat sederhana, “Screening jangan takut. Dokter mata itu baik.”

Diabetes tak terdeteksi bukan hanya kegagalan individu, melainkan kegagalan ekosistem pencegahan. Ketika 7 dari 10 penderita belum tahu statusnya, berarti pesan kesehatan publik kalah oleh rutinitas, stigma, dan rasa “nanti saja.”

CKG di Puskesmas adalah langkah yang tepat, tetapi tidak otomatis efektif tanpa strategi jemput bola dan pengingat yang konsisten. Program gratis tetap mahal bagi pekerja harian jika jam layanan tidak ramah, atau jika antrean terasa menghabiskan hari.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah cara kita menormalisasi komplikasi. Saat gangguan penglihatan dianggap “wajar karena usia,” kita sedang menutup mata pada fakta bahwa sebagian kebutaan akibat diabetes dapat dicegah dengan skrining dan terapi tepat waktu.

Sudut pandang paling tajam dari isu ini adalah soal waktu, karena diabetes dan retinopati diabetik sama-sama bekerja dalam senyap. Keterlambatan beberapa tahun dalam deteksi bisa berarti kehilangan bertahun-tahun kualitas hidup.

Pesan para ahli sebenarnya satu, yakni deteksi dini diabetes dan kontrol gula darah yang disiplin adalah investasi penglihatan. CKG memberi jalur awal, sementara skrining mata memberi jaring pengaman agar komplikasi tidak berubah menjadi kebutaan.

Pertanyaannya, apakah kita akan menunggu gejala datang, atau mulai memeriksa saat masih merasa sehat. Di negeri dengan jutaan orang yang mungkin hidup dengan diabetes tanpa sadar, keberanian paling penting sering kali sesederhana datang ke Puskesmas dan memeriksakan mata. (Orbit dari berbagai sumber, 3 Agustus 2026)