Perang AS-Iran dan Selat Hormuz: Teheran Ingin Akhiri Konflik
ORBITINDONESIA.COM – Perang AS-Iran kembali memusat pada Selat Hormuz, ketika Iran menyebut waktunya mengakhiri konflik saat merasa berada di posisi kuat. Presiden Iran Masoud Pezeshkian menilai dunia mengakui kemenangan Teheran, sementara Washington menyiapkan isolasi ekonomi terbesar untuk menekan Iran.
Ketegangan AS-Iran bergerak dari meja perundingan ke jalur logistik energi dunia, yaitu Selat Hormuz. Teheran menutup sebagian jalur, lalu Washington merespons dengan blokade balasan angkatan laut.
Di saat yang sama, Amerika Serikat mengubah medan perang menjadi perang ekonomi. Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyerukan isolasi ekonomi terkoordinasi untuk “menumbangkan” pemerintah Iran.
Pernyataan itu diperkuat ancaman Presiden Donald Trump terhadap negara mana pun yang memberi “bantuan penyelamatan” kepada Iran. Pesannya sederhana dan keras: pilih pihak, atau hadapi konsekuensi ekonomi berat.
Strategi Washington menunjukkan pergeseran dari serangan langsung ke pengetatan jaringan perdagangan dan keuangan. Bessent bahkan menyebutnya sebagai isolasi ekonomi paling besar dalam sejarah, sebuah frasa yang sekaligus menjadi ancaman dan alat tawar.
Target terpentingnya adalah China, karena Beijing disebut memperoleh sekitar 50 persen pasokan energi dari kawasan Teluk. Jika Selat Hormuz terganggu, China ikut merasakan lonjakan biaya energi, inflasi industri, dan tekanan pasokan.
Di sisi Iran, penutupan sebagian Selat Hormuz berfungsi sebagai tuas geopolitik. Teheran tidak perlu menang secara militer penuh untuk menciptakan dampak, karena cukup mengganggu arteri energi agar pasar global gelisah.
Namun, tuas ini juga berisiko menjadi bumerang bagi Iran sendiri. Semakin lama gangguan berlangsung, semakin besar pembenaran bagi AS untuk memperluas koalisi sanksi dan pengawasan laut.
Pezeshkian memakai narasi “posisi kuat dan bermartabat” untuk mengunci dukungan domestik. Ia menambahkan klaim bahwa AS menyerang sekolah, rumah sakit, dan infrastruktur, yang jika benar akan menambah beban reputasi Washington di mata publik global.
Iran kemudian menyebut sanksi AS sebagai “terorisme ekonomi” dan “kejahatan terhadap kemanusiaan.” Bahasa itu bukan sekadar retorika, karena bertujuan menggeser persepsi dari “penegakan aturan” menjadi “hukuman kolektif.”
Di level praktik, sanksi yang makin ketat berarti biaya transaksi meningkat, jalur pembayaran menyempit, dan asuransi pengiriman makin mahal. Dampaknya sering menetes ke harga pangan, obat, dan energi, yang akhirnya memukul warga biasa lebih cepat daripada elite.
Karena itu, kebuntuan perundingan menjadi masalah inti yang memperpanjang krisis. Selama kedua pihak menganggap tekanan sebagai jalan menuju kemenangan, ruang kompromi justru makin sempit.
Perang AS-Iran saat ini tampak seperti pertarungan untuk mengendalikan “rasa takut” pasar, bukan sekadar menguasai wilayah. Selat Hormuz menjadi simbol bahwa satu titik sempit bisa mengubah harga energi, kebijakan industri, dan kalkulasi politik banyak negara.
Ancaman “apakah Anda bersama kami atau melawan kami” memperlihatkan diplomasi yang menuntut kepatuhan, bukan negosiasi setara. Ini efektif untuk menggalang barisan cepat, tetapi berisiko mendorong negara lain mencari jalur alternatif di luar sistem yang dipimpin AS.
Di sisi lain, klaim Iran tentang kemenangan global juga perlu dibaca kritis. Pengakuan moral tidak otomatis berarti kemenangan strategis, karena ekonomi yang terisolasi bisa melemahkan kapasitas negara dalam jangka panjang.
Yang paling rentan justru publik, baik di Iran maupun di negara pengimpor energi. Ketika perang ekonomi dan perang laut saling mengunci, yang muncul adalah spiral biaya hidup, ketidakpastian pasokan, dan ketegangan politik domestik.
Jika Teheran benar ingin mengakhiri perang saat “posisi kuat,” maka ujian utamanya adalah apakah mereka siap membuka ruang de-eskalasi yang terukur. Jika Washington benar ingin stabilitas energi, maka ujian berikutnya adalah apakah sanksi dipakai untuk memaksa dialog, bukan sekadar menghukum.
Perang AS-Iran kini bergerak di antara dua tuas: penutupan Selat Hormuz dan isolasi ekonomi global. Keduanya sama-sama memproduksi tekanan, tetapi juga sama-sama memproduksi korban tak terlihat.
Mungkin pertanyaan yang paling relevan bukan siapa yang paling kuat, melainkan siapa yang paling mampu menghentikan siklus pembalasan. Ketika energi dunia dipertaruhkan, kemenangan sejati seharusnya diukur dari kemampuan menurunkan eskalasi, bukan memperpanjang daftar musuh. (Orbit dari berbagai sumber, 25 Agustus 2026)