IHSG Menguat 1% Ditopang Saham Tambang dan Komoditas
ORBITINDONESIA.COM – IHSG menguat lebih dari 1% pada awal perdagangan Kamis, didorong saham tambang dan komoditas. Di tengah BI-Rate 5,75% yang dipertahankan, pasar seperti menemukan alasan untuk kembali mengambil risiko.
Pada pukul 09.01 WIB, IHSG berada di 6.460,28 atau naik 66,15 poin (1,03%). Indeks dibuka di 6.447,25 dan langsung menyentuh level tertinggi harian di 6.460,28.
Penguatan sektoral dipimpin bahan baku yang naik 2,10%, disusul utilitas 1,23% dan energi 1,22%. Komposisi ini menegaskan bahwa narasi pasar pagi itu bukan tentang konsumsi, melainkan tentang siklus komoditas.
Dari dalam negeri, Bank Indonesia kembali menahan BI-Rate di 5,75% pada RDG 18-19 Agustus 2026. BI juga mempertahankan Deposit Facility 5% dan Lending Facility 6,5% untuk menjaga rupiah dan inflasi, sekaligus menopang pertumbuhan.
Secara kontribusi, BYAN menjadi penopang terbesar dengan sekitar 6,08 poin, lalu BBCA 4,71 poin dan AMMN 4,49 poin. BRMS menyumbang 3,97 poin, EMAS 3,23 poin, dan BBRI 3,11 poin, menunjukkan dorongan kuat dari saham-saham berkapitalisasi besar.
Lebar pasar juga mendukung, karena 363 saham menguat sementara 105 melemah dan 495 stagnan. Namun angka stagnan yang besar mengisyaratkan bahwa reli ini belum merata, dan masih bertumpu pada beberapa lokomotif.
Nilai transaksi awal tercatat Rp409,3 miliar dengan volume 884,1 juta saham dan frekuensi 66.130 kali. Aktivitas ini cukup untuk menggerakkan indeks, tetapi belum memberi bukti kuat bahwa minat beli sudah meluas dan berlapis.
Sentimen global ikut memberi angin, karena yield US Treasury melandai dan dolar AS melemah ke 98,83 atau turun 0,84%. Departemen Keuangan AS menggandakan program buyback obligasi menjadi sedikitnya US$4 miliar per operasi, yang membantu meredakan tekanan pada aset berisiko.
Pelemahan dolar biasanya membuka ruang bagi penguatan rupiah dan mengurangi tekanan terhadap SBN. Tetapi risalah FOMC tetap menegaskan inflasi AS masih tinggi, dan sebagian pejabat The Fed masih membuka peluang kenaikan suku bunga jika inflasi tak turun.
Di komoditas energi, minyak menguat di tengah ketegangan Timur Tengah, dengan WTI naik 0,77% ke US$85,59 per barel dan Brent naik 0,44% ke US$91,42. Kenaikan minyak sering menjadi berkah bagi emiten energi, tetapi bisa menjadi beban inflasi yang memaksa kebijakan moneter tetap ketat.
Asia juga menambah lapisan ketidakpastian, karena pasar menanti neraca perdagangan Jepang dan keputusan Loan Prime Rate China. Konsensus memperkirakan LPR 1 tahun tetap 3% dan LPR 5 tahun 3,5%, yang berarti stimulus tambahan dari China belum tentu datang.
Reli IHSG hari ini tampak seperti reli yang “berutang” pada komoditas, bukan pada perbaikan menyeluruh ekonomi domestik. Ketika bahan baku dan energi memimpin, pasar sebenarnya sedang bertaruh pada harga global dan geopolitik, dua variabel yang paling sulit diprediksi.
Keputusan BI menahan suku bunga memberi stabilitas, tetapi bukan jaminan akselerasi laba emiten non-komoditas. Dengan inflasi AS yang masih keras kepala dan The Fed yang belum sepenuhnya dovish, arus dana asing bisa berubah cepat hanya karena satu data.
Dominasi beberapa saham besar sebagai penopang indeks juga patut dicermati. IHSG bisa terlihat sehat di permukaan, tetapi kedalaman reli perlu diuji lewat partisipasi sektor lain dan peningkatan transaksi yang konsisten.
Penguatan IHSG yang ditopang saham tambang dan komoditas memberi pesan sederhana: pasar menyukai cerita yang sedang “panas” dan mudah dijual. Namun cerita yang terlalu bergantung pada siklus global bisa berubah menjadi koreksi tajam ketika sentimen berbalik.
Pertanyaan pentingnya adalah apakah investor sedang membangun posisi jangka panjang, atau sekadar mengejar gelombang jangka pendek. Jika jawabannya yang kedua, maka kenaikan 1% hari ini bisa menjadi pengingat bahwa optimisme di bursa sering kali setipis kabar baik berikutnya.
(Orbit dari berbagai sumber, 22 Agustus 2026)