Dimas Supriyanto: Gibran sebagai Ancaman

Wapres Gibran di forum internasional G20 mewakili Indonesia.

Wapres Gibran di forum internasional G20 mewakili Indonesia.

Opini

Oleh Dimas Supriyanto

ORBITINDONESIA.COM - Ada satu hal yang mengganggu saya dari cara sebagian orang membicarakan Gibran. Kesimpulan tentang dirinya sering kali sudah dibuat lebih dahulu, kemudian fakta dicari untuk membenarkan kesimpulan tersebut.

Gibran disebut “kosong”, tidak punya hasrat politik, kekanak-kanakan, sulit dikendalikan, bahkan dikaitkan dengan dugaan gangguan psikologis.

Tetapi apa dasar untuk sampai pada kesimpulan sejauh itu? Sebagai Wakil Presiden dia sudah tampil di forum internasional di G20. Dia juga menyambut tamu-tamu negara dan berkomunikasi lancar dengan mereka.

Bagaimana dia disebut "kosong"?

Saat menjadi Wali kota Solo, Gibran tidak menunjukkan bahwa dirinya tidak mampu memimpin. Bahkan dia membuat sejumlah terobosan.

Ada kritik terhadap kebijakannya, tentu. Ada pula keputusan yang bisa diperdebatkan. Tetapi bukankah itu perkara yang wajar dalam pemerintahan?

Kalau memang ia sedemikian bermasalah, mestinya persoalan serius itu terlihat dari rekam jejak pemerintahannya, bukan dicari dari mobil yang ditinggalkan di mal, mainan yang dibawa ke kantor, atau gaya bicaranya yang santai.

Kini ia menjadi wakil presiden. Dia menyelamatkan Prabowo atas pertikaian di antara ketum partai koalisinya.

Sampai sejauh ini pun, orang boleh tidak menyukai gaya politiknya, boleh mengkritik kebijakannya, bahkan boleh menilai kapasitasnya.

Tetapi mengatakan bahwa ia “sangat bermasalah” membutuhkan bukti yang jauh lebih serius.

Yang menarik justru pertanyaan sebaliknya: mengapa Gibran terus-menerus dijadikan sasaran?

Saya tidak hendak mengatakan semua kritik terhadap Gibran adalah rekayasa politik. Kritik tetap diperlukan. Perkara ijazah, misalnya, kalau ada dugaan pelanggaran hukum, silakan diuji melalui prosedur hukum.

Yang perlu dipersoalkan adalah mengapa perkara yang seharusnya dapat dibuktikan dengan dokumen dan fakta kemudian melebar menjadi penilaian terhadap kepribadian, kecerdasan, bahkan kesehatan psikologis seseorang.

Di sinilah logikanya menjadi terbalik.

Gibran belum terbukti sebagai wakil presiden yang melakukan pelanggaran serius. Dia bahkan bisa menjalani tugas nasional dan internasional hadir di forum-forum berwibawa.

Ia juga bukan sosok yang ketika menjadi wali kota meninggalkan jejak pemerintahan yang membuatnya harus disingkirkan. Tetapi justru karena ia sekarang menduduki posisi yang sangat strategis, berbagai tuduhan terhadap dirinya memperoleh panggung yang jauh lebih besar.

Saya malah melihat kemungkinan politik yang lebih sederhana.

Gibran adalah figur yang secara elektoral dan politik potensial menjadi ancaman bagi mereka yang sudah mulai menghitung pertarungan 2029.

Seorang wakil presiden muda, anak presiden, memiliki pengalaman sebagai wali kota, kemudian masuk ke panggung nasional pada usia relatif muda. Suka atau tidak suka, fakta itu membuatnya memiliki modal politik.

Maka persoalannya bukan semata-mata apakah Gibran pintar atau bodoh, matang atau kekanak-kanakan, suka mainan atau tidak.

Persoalan politiknya adalah: siapa yang akan diuntungkan dan siapa yang dirugikan apabila Gibran tetap bertahan sampai akhir pemerintahan dan kemudian memilih maju pada 2029?

Di sinilah kita harus berhati-hati. Jangan sampai kritik berubah menjadi upaya pembunuhan karakter ("character assassination").

Jangan sampai kegagalan membuktikan kesalahan politik digantikan dengan diagnosis psikologis dari kejauhan.

Lebih berbahaya lagi kalau dugaan seperti ADHD atau down syndrome dipakai untuk menjelaskan perilaku seorang pejabat tanpa pemeriksaan medis dan tanpa dasar yang dapat dipertanggungjawabkan.

Itu bukan kritik politik. Itu spekulasi terhadap kondisi pribadi seseorang.

Saya tidak sedang mengatakan Gibran tidak boleh dikritik. Justru sebaliknya. Karena dia wakil presiden, kritik terhadapnya harus lebih keras sekaligus lebih bermutu.

Nilailah keputusan, kebijakan, kemampuan memimpin, integritas, kinerja, dan pertanggungjawaban publiknya.

Jangan menilai seseorang hanya karena ia tidak berbicara seperti yang kita harapkan.

Ada satu pertanyaan sederhana yang menurut saya perlu diajukan kepada para pengkritiknya: kalau Gibran memang benar-benar “kosong”, tidak punya kemampuan, tidak punya daya politik, dan sama sekali bukan ancaman bagi siapa pun, mengapa harus ada begitu banyak energi untuk menjatuhkannya? Dia sudah tampil di forum internasional dan menyambut kedatangan tamu negara - bagaimana disebut "kosong"?

Mungkin justru di situlah letak persoalannya.

Bisa jadi yang sedang dipersoalkan bukan semata-mata siapa Gibran hari ini, melainkan siapa Gibran yang mungkin menjadi pada 2029.

Dan dalam politik, seseorang sering kali mulai dianggap berbahaya bukan ketika ia sudah berkuasa, melainkan ketika orang lain mulai melihat kemungkinan bahwa ia akan mendapatkan kekuasaan. ***