Film Palestine 36 Merekonstruksi Tragedi Bangsa Palestina yang Kehilangan Tanahnya oleh Kolonisasi Zionis
ORBITINDONESIA.COM - Palestine 36 adalah sebuah film sejarah-politik yang kuat, sunyi, dan sarat ketegangan moral. Film ini membawa penonton kembali ke salah satu momen paling menentukan—namun sering terpinggirkan—dalam sejarah Palestina modern: Pemberontakan Arab Palestina 1936 terhadap kekuasaan kolonial Inggris dan meningkatnya proyek kolonisasi Zionis.
Film ini tidak hadir sebagai tontonan heroik yang berisik, melainkan sebagai rekonstruksi tragis tentang bagaimana sebuah bangsa mulai kehilangan tanah, suara, dan masa depannya, jauh sebelum deklarasi berdirinya Israel pada 1948.
Latar Sejarah: Palestina Tahun 1936
Tahun 1936 adalah titik balik sejarah Palestina. Wilayah itu masih berada di bawah Mandat Inggris, hasil pembagian wilayah pasca-Perang Dunia I. Di satu sisi, Inggris berjanji melindungi penduduk Arab Palestina. Di sisi lain, melalui Deklarasi Balfour 1917, Inggris juga mendukung pendirian “tanah air bagi bangsa Yahudi” di Palestina.
Akibatnya, imigrasi Yahudi Eropa meningkat pesat, pembelian tanah berlangsung agresif, dan petani Palestina terusir dari lahan leluhur mereka. Ketegangan sosial berubah menjadi kemarahan kolektif.
Pada April 1936, rakyat Palestina melancarkan mogok nasional terbesar dalam sejarah mereka, disusul perlawanan bersenjata terhadap Inggris dan kelompok milisi Zionis. Inilah konteks historis yang menjadi tulang punggung film Palestine 36.
Sinopsis Film Palestine 36
Film ini berlatar di sebuah desa Palestina yang tampak tenang di permukaan, namun perlahan-lahan retak oleh tekanan kolonial.
Tokoh-tokoh utamanya bukan tokoh besar sejarah, melainkan orang-orang biasa: petani, buruh pelabuhan, guru desa, pemuda pengangguran, dan tokoh agama. Justru dari merekalah film ini menemukan kekuatannya.
Cerita dibuka dengan gambaran kehidupan desa yang sederhana—ladang zaitun, pasar, doa di masjid, dan hubungan komunal yang erat. Namun ketenangan itu mulai terganggu ketika: tanah-tanah desa dijual atau dirampas melalui kebijakan mandat, patroli Inggris semakin represif, pemuda-pemuda Palestina mulai ditangkap tanpa proses hukum, dan kabar tentang pembentukan pemukiman Zionis baru menyebar.
Tokoh utama—seorang pemuda Palestina—berada di persimpangan moral: bertahan hidup atau melawan ketidakadilan.
Ketika mogok nasional 1936 dimulai, desa itu ikut terseret dalam arus sejarah. Toko-toko ditutup, pelabuhan lumpuh, dan Inggris merespons dengan kekerasan. Tentara kolonial melakukan razia, pembakaran rumah, penahanan massal, bahkan eksekusi tanpa pengadilan.
Film ini menunjukkan bahwa perlawanan Palestina bukan muncul dari fanatisme, melainkan dari akumulasi kehilangan: tanah, pekerjaan, martabat, dan masa depan.
Seiring cerita berjalan, solidaritas rakyat diuji. Ada yang memilih kompromi demi keselamatan keluarga. Ada yang berkolaborasi. Ada pula yang memilih jalan perlawanan meski tahu konsekuensinya adalah kematian.
Tragedi demi tragedi terjadi—bukan dengan ledakan besar, tetapi melalui keheningan yang menyakitkan: ibu kehilangan anak, desa kehilangan pemimpin, dan masyarakat kehilangan ilusi bahwa keadilan akan datang dari kekuasaan kolonial.
Film ini berakhir tanpa kemenangan heroik. Yang tersisa hanyalah kesadaran pahit: apa yang terjadi pada 1936 hanyalah awal dari bencana yang lebih besar.
Palestine 36 menegaskan bahwa kolonialisme tidak selalu hadir lewat perang besar, tetapi melalui hukum, administrasi, dan kebijakan yang tampak “legal” namun merampas hak hidup. Film ini mematahkan narasi bahwa konflik dimulai karena kebencian agama. Yang ditampilkan adalah konflik tanah, kekuasaan, dan kolonialisme, dengan Inggris sebagai aktor kunci.
Tidak ada pahlawan super. Yang ada adalah manusia dengan ketakutan, keraguan, dan keberanian yang rapuh—namun nyata. Dengan mengangkat 1936, film ini menegaskan bahwa Palestina memiliki sejarah perlawanan yang panjang, bukan sekadar korban pasif sejak 1948.
Gaya Penceritaan dan Nilai Sinematik
Secara visual, Palestine 36 cenderung realistis dan minimalis. Tidak banyak musik dramatis. Banyak adegan dibiarkan sunyi—membiarkan penonton merasakan ketegangan dan duka secara perlahan. Pendekatan ini membuat film terasa seperti dokumen ingatan kolektif, bukan propaganda.
Yang membuat Palestine 36 terasa sangat relevan adalah kenyataan bahwa pola kekerasan struktural yang digambarkan di film ini masih terus berulang, khususnya di Gaza dan Tepi Barat hari ini: pengusiran, blokade, kriminalisasi perlawanan, dan narasi keamanan untuk membenarkan penindasan.
Film ini seolah berkata: apa yang kita lihat hari ini adalah kelanjutan dari sejarah yang belum pernah diselesaikan.
Kesimpulan
Palestine 36 bukan sekadar film sejarah. Ia adalah arsip perlawanan, elegi kehilangan, dan peringatan moral. Film ini membantu penonton memahami bahwa tragedi Palestina bukanlah konflik instan, melainkan hasil dari proses kolonial panjang yang dimulai jauh sebelum dunia modern membuka mata.
Ia tidak menawarkan solusi. Namun ia menawarkan sesuatu yang sangat penting: ingatan. Dan dalam konteks Palestina, mengingat adalah bentuk perlawanan paling sunyi—dan paling berbahaya—bagi penjajah.***