BMKG Pastikan Gempa Besar Flores NTT Tak Terulang Dekat

Kompas.com

Kompas.com

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – BMKG menegaskan gempa besar Flores NTT seperti M 7,7 tidak akan terulang dalam hitungan hari atau minggu. Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyebut butuh puluhan tahun agar energi sesar naik busur belakang Flores kembali terkumpul.

Ketakutan warga Nusa Tenggara Timur muncul setelah gempa M 7,7 mengguncang dan memicu rangkaian gempa susulan. Sebagian warga pesisir bahkan khawatir akan tsunami besar dan memilih menjauh dari rumah dekat pantai.

Di ruang publik, kecemasan itu diperkuat oleh pola informasi yang serba cepat dan potongan narasi yang sering kehilangan konteks ilmiah. Akibatnya, rumor “gempa lebih besar” mudah terdengar lebih meyakinkan daripada penjelasan teknis.

Teuku menyatakan sesar naik di busur belakang Flores memerlukan waktu panjang untuk mengumpulkan energi hingga memicu gempa besar lagi. Ia menekankan skala waktu itu “hingga puluhan tahun,” bukan beberapa hari atau minggu.

Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto menambahkan gempa susulan pasti lebih kecil dari gempa utama. Ia menyebut M 7,7 sudah mendekati maksimum potensi magnitudo Back Arc Thrust sekitar 7,8.

Dalam konteks mitigasi, Teuku juga menyoroti kapasitas peringatan dini tsunami. Ia mengatakan BMKG mampu mengeluarkan peringatan dini kurang dari 3 menit sesuai protokol internasional.

Namun kecepatan peringatan dini bukan akhir dari keselamatan, melainkan awal dari keputusan warga. Teuku menekankan perlunya memperkuat SOP evakuasi, rambu evakuasi, dan kesiapan aksi dini di tingkat komunitas.

Pernyataan BMKG penting karena membedakan dua hal yang sering tercampur dalam percakapan warga. Gempa susulan yang lebih kecil dapat berlangsung lama dan tetap merusak, tetapi tidak identik dengan “gempa utama kedua” yang lebih besar.

Di sisi lain, jaminan “butuh puluhan tahun” tidak boleh dibaca sebagai izin untuk lengah. Wilayah NTT tetap berada pada lanskap tektonik aktif, sehingga risiko gempa merusak skala menengah tetap mungkin terjadi kapan saja.

Pernyataan BMKG seharusnya dipahami sebagai upaya menenangkan publik dengan dasar ilmiah, bukan sekadar menutup kepanikan. Ketika otoritas menyebut rentang waktu puluhan tahun, yang dikunci adalah probabilitas gempa besar sekelas M 7,7, bukan hilangnya ancaman sama sekali.

Di sinilah tantangan komunikasi risiko bekerja paling keras: menenangkan tanpa meninabobokan. Jika pesan terlalu optimistis, warga akan mengendurkan kesiapsiagaan, tetapi jika terlalu teknis, warga akan kembali pada rumor.

Warga pesisir NTT juga menghadapi dilema praktis yang tidak selesai hanya dengan kalimat “tetap tenang.” Kesiapan evakuasi membutuhkan latihan, jalur aman, dan titik kumpul yang jelas, karena tiga menit peringatan dini akan sia-sia bila orang tidak tahu harus ke mana.

Negara sering bangga pada sistem, tetapi lupa pada perilaku dan kebiasaan yang menyelamatkan. Dalam bencana, yang menentukan bukan hanya sensor dan sirene, melainkan disiplin kolektif yang dibangun jauh sebelum tanah berguncang.

BMKG sudah memberi garis batas yang tegas: gempa besar Flores NTT sekelas M 7,7 tidak realistis terjadi lagi dalam waktu dekat, dan gempa susulan akan lebih kecil dari gempa utama. Tetapi ketenangan paling kokoh bukan berasal dari janji waktu, melainkan dari kesiapsiagaan yang terlatih.

Pertanyaannya sederhana dan menantang: setelah rasa takut mereda, apakah kita akan kembali lupa, atau justru membangun kebiasaan evakuasi yang membuat tiga menit peringatan dini benar-benar berarti. (Orbit dari berbagai sumber, 21 Agustus 2026)