Budaya Kerja 996 di Era AI: Ambisi, Burnout, dan Ilusi Produktivitas

ORBITINDONESIA.COM – Budaya kerja 996 kembali naik daun di perusahaan AI, dari New York hingga Silicon Valley, dengan janji “insane speed” dan peringatan kerja 70 jam per minggu. Di balik poster pekerja bahagia, ada pertanyaan tajam: apakah AI benar-benar butuh jam kerja ekstrem, atau hanya butuh disiplin manajemen yang lebih cerdas? (Orbit dari berbagai sumber, 3 Juli 2026)

Rilla, perusahaan teknologi di New York, mempromosikan jam kerja panjang secara terang-terangan dalam iklan rekrutmen. Mereka menjualnya sebagai lencana kehormatan, sekaligus filter untuk menyaring kandidat yang tidak tahan ritme “grind”. (Orbit dari berbagai sumber, 3 Juli 2026)

Model 996 berasal dari China, populer satu dekade lalu ketika negara itu mengejar lompatan teknologi. Tokoh seperti Jack Ma pernah menyebut 996 sebagai “berkah”, sebelum kritik publik dan pengetatan hukum membuat pembelanya lebih senyap. (Orbit dari berbagai sumber, 3 Juli 2026)

Namun budaya ini tidak mati, melainkan bermigrasi dan beradaptasi di ekosistem start-up global. Ketika AI menjadi ladang emas baru, ketakutan “didahului kompetitor” berubah menjadi tekanan kerja yang dilegalkan lewat narasi ambisi. (Orbit dari berbagai sumber, 3 Juli 2026)

Pendorong utama 996 versi terbaru adalah perlombaan komersialisasi AI, terutama di start-up yang dibiayai modal ventura. Rekruter Adrian Kinnersley menilai logika yang dipakai sederhana: kerja lebih lama dianggap cara menang dalam balapan produk. (Orbit dari berbagai sumber, 3 Juli 2026)

Browser-Use, start-up kecil yang membangun alat agar AI bisa berinteraksi dengan browser, menggambarkan kultur “hacker-house” yang menyatu dengan hidup harian. Pendiri Magnus Müller bahkan menyebut pekerja 40 jam per minggu “tidak cocok”, karena mereka mencari orang yang “addicted” seperti gamer. (Orbit dari berbagai sumber, 3 Juli 2026)

Di titik ini, 996 bukan lagi sekadar jadwal, melainkan identitas. Ia dikemas sebagai pilihan bebas, padahal sering kali bekerja sebagai standar tak tertulis untuk bertahan dan dianggap serius. (Orbit dari berbagai sumber, 3 Juli 2026)

Masalahnya, data kesehatan dan sains produktivitas tidak mengikuti romantisasi itu. WHO dan ILO pada 2021 menyimpulkan jam kerja panjang, didefinisikan lebih dari 55 jam per minggu, terkait 745.000 kematian pada 2016 akibat stroke dan penyakit jantung. (Orbit dari berbagai sumber, 3 Juli 2026)

Laporan yang sama menyebut risiko kematian akibat penyakit jantung naik 17% pada pekerja 55 jam dibanding 35–40 jam, dan risiko stroke naik 35%. Jepang bahkan punya istilah karōshi, kematian karena kerja berlebihan, yang diakui dalam kerangka hukum. (Orbit dari berbagai sumber, 3 Juli 2026)

Di sisi produktivitas, riset menunjukkan ada ambang “sweet spot” sekitar 40 jam per minggu, lalu kinerja menurun karena kelelahan. Michigan State University menyatakan output pekerja 70 jam bisa nyaris tak berbeda dari pekerja 50 jam, karena penurunan efisiensi. (Orbit dari berbagai sumber, 3 Juli 2026)

Ini menabrak asumsi paling populer di hustle culture: jam kerja adalah proksi produktivitas. Deedy Das dari Menlo Ventures menyebut kekeliruan umum pendiri muda adalah menganggap jam kerja panjang “perlu dan cukup” untuk menjadi produktif. (Orbit dari berbagai sumber, 3 Juli 2026)

Ia juga menekankan dampak sosial yang sering diabaikan, yaitu eksklusi terhadap pekerja berkeluarga dan talenta senior. Dalam banyak kasus, yang paling dirugikan adalah mereka yang tidak punya keleluasaan, bukan mereka yang paling ambisius. (Orbit dari berbagai sumber, 3 Juli 2026)

Di sinilah muncul dimensi kekuasaan yang jarang dibicarakan secara jujur. Akademisi Tamara Myles mengingatkan, orang bisa bertahan bukan karena setuju, tetapi karena pasar kerja sulit, status visa rentan, atau takut kehilangan kesempatan. (Orbit dari berbagai sumber, 3 Juli 2026)

Budaya 996 juga punya efek domino pada desain organisasi. Perusahaan tergoda mempekerjakan lebih sedikit orang dan menutup kekurangan kapasitas dengan lembur, karena rekrutmen dan pelatihan mahal. (Orbit dari berbagai sumber, 3 Juli 2026)

Namun cara ini sering memindahkan biaya ke tubuh manusia, bukan ke neraca perusahaan. Burnout, turnover, dan penurunan kualitas keputusan adalah “utang” yang baru terlihat ketika produk sudah telanjur rilis, atau ketika skala tim membesar. (Orbit dari berbagai sumber, 3 Juli 2026)

Budaya kerja 996 di era AI tampak seperti kemenangan narasi, bukan kemenangan metode. Ia menjual mitos bahwa inovasi lahir dari kelelahan, padahal inovasi lebih sering lahir dari fokus, ritme, dan ruang berpikir. (Orbit dari berbagai sumber, 3 Juli 2026)

Jika pendiri start-up bekerja 70–80 jam, itu bisa dipahami sebagai taruhan pribadi dengan “skin in the game”. Tetapi ketika standar itu dipindahkan ke karyawan tanpa kepemilikan dan tanpa kontrol, yang terjadi adalah normalisasi ketimpangan. (Orbit dari berbagai sumber, 3 Juli 2026)

Rilla menyebut kandidat ideal seperti “Olympian athletes”, tetapi atlet punya pelatih, periodisasi, dan pemulihan yang ketat. Di banyak kantor, yang ada justru latihan tanpa jeda, target tanpa batas, dan pemulihan yang dianggap kemalasan. (Orbit dari berbagai sumber, 3 Juli 2026)

Argumen “kalau cinta pekerjaan, tak butuh work-life balance” juga problematik, seperti pernah digaungkan James Watt dari BrewDog. Cinta pada pekerjaan tidak otomatis menghapus risiko biologis, dan tidak membayar biaya sosial yang ditanggung keluarga. (Orbit dari berbagai sumber, 3 Juli 2026)

Yang lebih jujur adalah mengakui bahwa 996 sering menjadi strategi percepatan yang menutup kelemahan manajemen produk. Ketika prioritas kacau, spesifikasi berubah terus, dan koordinasi buruk, jam kerja panjang menjadi plester yang tampak heroik. (Orbit dari berbagai sumber, 3 Juli 2026)

Ironisnya, AI yang dijanjikan untuk menaikkan produktivitas justru dipakai untuk membenarkan kerja lebih lama. Jika teknologi baru hanya menghasilkan jam kerja lebih panjang, maka yang berubah bukan efisiensi, melainkan ekspektasi. (Orbit dari berbagai sumber, 3 Juli 2026)

Budaya kerja 996 di perusahaan AI menunjukkan satu kontradiksi besar: mengejar masa depan dengan cara yang menggerus manusia di masa kini. Data WHO-ILO dan riset produktivitas memberi sinyal keras bahwa jam kerja ekstrem bukan sekadar pilihan gaya hidup, melainkan risiko struktural. (Orbit dari berbagai sumber, 3 Juli 2026)

Pertanyaan yang tersisa bukan apakah kita sanggup bekerja 70 jam, melainkan untuk apa kita membayar harga itu. Jika AI adalah revolusi, seharusnya ia membebaskan waktu, bukan mengubah kelelahan menjadi ideologi. (Orbit dari berbagai sumber, 3 Juli 2026)