Infantino Dikecam: Kontroversi FIFA, Trump, dan Kartu Merah AS

Financial Times

Financial Times

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Presiden FIFA Gianni Infantino menyebut para pengkritiknya “dikuasai kebencian” saat Piala Dunia, di tengah kontroversi FIFA soal intervensi politik dan pencabutan larangan bermain pemain Amerika Serikat. Ia juga menepis kritik tentang perlakuan terhadap tim Iran serta keputusan yang mengangkat sanksi setelah tekanan dari Presiden Donald Trump. (Orbit dari berbagai sumber, 7 Agustus 2026)

Dalam serangkaian unggahan Instagram pada Senin, Infantino menyerang pihak yang ia sebut bersembunyi di balik “pena dan kertas” serta “menyebarkan rumor palsu”. Ia menilai mereka melewatkan emosi, perayaan, tawa, dan kegembiraan dari “pertunjukan terbaik di dunia”. (Orbit dari berbagai sumber, 7 Agustus 2026)

Infantino sudah memimpin badan sepak bola dunia selama satu dekade dan kini disorot di banyak sisi. Keluhan mencakup harga tiket Piala Dunia yang tinggi dan minimnya transparansi dalam pengambilan keputusan FIFA. (Orbit dari berbagai sumber, 7 Agustus 2026)

Ia juga dituduh melanggar prinsip netralitas politik FIFA, yang disebut mulai retak ketika ia memberikan “FIFA peace prize” perdana kepada Trump. Kedekatan mereka semakin terlihat ketika keduanya bersama-sama menyerahkan trofi Piala Dunia kepada Spanyol setelah final di New Jersey. (Orbit dari berbagai sumber, 7 Agustus 2026)

Kontroversi terbesar turnamen ini adalah keputusan menangguhkan larangan satu pertandingan untuk pemain AS menjelang laga gugur krusial melawan Belgia. Langkah yang belum pernah terjadi itu muncul setelah Infantino dilobi Gedung Putih untuk meninjau keputusan wasit semula. (Orbit dari berbagai sumber, 7 Agustus 2026)

Infantino balik menuduh negara-negara yang memprotes sebagai munafik, karena di liga-liga besar ada praktik pembatalan sanksi atas kartu merah atau kuning yang diduga keliru. Namun, ia mengabaikan perbedaan penting: FIFA tidak memiliki mekanisme standar seperti panel wasit independen untuk membatalkan kartu merah. (Orbit dari berbagai sumber, 7 Agustus 2026)

Yang terjadi justru keputusan datang dari komite disiplin FIFA, yang sebagian besar beranggotakan pengacara, untuk mencabut larangan satu laga bagi Folarin Balogun. Secara tata kelola, ini memperbesar kesan bahwa jalur hukum-administratif FIFA dapat dipakai sebagai pintu belakang untuk mengoreksi keputusan teknis di lapangan. (Orbit dari berbagai sumber, 7 Agustus 2026)

Di sisi lain, FIFA juga dikritik karena dinilai gagal memastikan tim nasional Iran bisa bepergian dengan bebas di Amerika Serikat selama turnamen lima pekan di AS, Kanada, dan Meksiko. Iran dipaksa memindahkan basis latihan dari Arizona ke Tijuana, lalu diminta segera kembali setelah laga pembuka di Los Angeles. (Orbit dari berbagai sumber, 7 Agustus 2026)

Sejumlah anggota delegasi Iran, termasuk ketua federasi sepak bola Iran, disebut ditolak visanya oleh AS. Infantino membalas dengan klaim bahwa “Iran masuk ke Amerika Serikat tanpa insiden atau konflik” dan menilai kritik menutup mata terhadap jutaan visa yang disetujui. (Orbit dari berbagai sumber, 7 Agustus 2026)

Isu visa juga menyentuh perangkat pertandingan, ketika seorang wasit Piala Dunia dari Somalia dilaporkan ditolak masuk ke AS. Peristiwa ini memperlihatkan risiko Piala Dunia lintas negara, karena kebijakan imigrasi domestik dapat mengganggu integritas kompetisi global. (Orbit dari berbagai sumber, 7 Agustus 2026)

Tekanan politik kini berbalik menjadi tekanan institusional, setelah Jamie Raskin, petinggi Demokrat di Komite Yudisial DPR AS, mengumumkan penyelidikan atas hubungan FIFA dan pemerintahan Trump. Raskin juga menyurati Infantino dan menuntutnya hadir untuk wawancara. (Orbit dari berbagai sumber, 7 Agustus 2026)

Dari Eropa, Federasi Sepak Bola Norwegia mempertimbangkan pengaduan etik terkait insiden kartu merah itu. UEFA bahkan menyatakan FIFA telah “melewati garis merah” karena mencampuri keputusan wasit di tengah turnamen. (Orbit dari berbagai sumber, 7 Agustus 2026)

Asosiasi Sepak Bola Belgia pun berjanji mengejar isu tersebut dan mendorong peninjauan aturan FIFA. Dalam konteks ini, keluhan bukan hanya soal satu pertandingan, tetapi soal preseden: apakah keputusan lapangan bisa “ditawar” lewat akses politik. (Orbit dari berbagai sumber, 7 Agustus 2026)

Ledakan emosi Infantino di Instagram tampak seperti upaya mengubah kritik menjadi soal moral pribadi, bukan soal tata kelola. Ketika kritik dilabeli “kebencian”, ruang diskusi menyempit dan akuntabilitas berubah menjadi drama. (Orbit dari berbagai sumber, 7 Agustus 2026)

Masalah utama dalam kontroversi FIFA ini bukan sekadar pencabutan sanksi, melainkan proses dan siapa yang punya pengaruh. Jika lobi Gedung Putih dapat memicu “tinjauan ulang” yang menguntungkan tim tertentu, FIFA tampak rentan terhadap kekuasaan negara tuan rumah. (Orbit dari berbagai sumber, 7 Agustus 2026)

Kasus Iran memperlihatkan sisi lain dari kerentanan itu, karena FIFA terlihat tidak cukup kuat memastikan akses yang setara bagi semua peserta. Klaim “tidak ada insiden” tidak otomatis meniadakan fakta bahwa basis latihan dipindah, mobilitas dibatasi, dan visa delegasi ditolak. (Orbit dari berbagai sumber, 7 Agustus 2026)

FIFA sering mengandalkan narasi persatuan dan perdamaian, tetapi narasi itu membutuhkan bukti prosedural, bukan hanya pidato. Tanpa mekanisme yang jelas, keputusan komite disiplin yang didominasi pengacara bisa tampak sebagai alat politik yang dibungkus legalitas. (Orbit dari berbagai sumber, 7 Agustus 2026)

Di era sepak bola sebagai industri miliaran dolar, transparansi bukan aksesori, melainkan fondasi legitimasi. Ketika harga tiket tinggi dipadukan dengan keputusan kontroversial, publik mudah membaca FIFA sebagai organisasi yang lebih peka pada kuasa dan uang daripada keadilan pertandingan. (Orbit dari berbagai sumber, 7 Agustus 2026)

Piala Dunia seharusnya meninggalkan warisan kegembiraan, tetapi kontroversi Infantino, Trump, dan kartu merah AS meninggalkan pertanyaan tentang batas kuasa FIFA. Jika keputusan wasit bisa digeser oleh tekanan politik, maka “pertunjukan terbaik di dunia” berisiko berubah menjadi panggung negosiasi kekuasaan. (Orbit dari berbagai sumber, 7 Agustus 2026)

FIFA bisa memilih meredam kritik dengan unggahan emosional, atau menjawabnya dengan reformasi yang terukur dan transparan. Pertanyaan yang tersisa bagi publik sederhana: apakah sepak bola masih milik penonton, atau sudah menjadi milik mereka yang paling dekat dengan pusat kekuasaan. (Orbit dari berbagai sumber, 7 Agustus 2026)