Nilai tukar Rupiah di Pasar Spot Nyaris Menyentuh Rp 17.200/USD pada Perdagangan Akhir Pekan Kemarin

ORBITINDONESIA.COM - Nilai tukar rupiah di pasar spot nyaris menyentuh Rp 17.200/USD pada perdagangan akhir pekan kemarin. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup di Rp 17.188/USD, terdepresiasi 50 poin (0,29%) dibanding penutupan Kamis di Rp 17.138/USD.

Kurs rupiah Jisdor juga ditutup melemah 47 poin (0,27%) di Rp 17.189. Dalam sepekan, kurs rupiah Jisdor melemah 0,45% dari Rp 17.112 pada penutupan Jumat pekan lalu.

Analis mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi menilai, pelemahan rupiah saat ini tak lagi sepenuhnya dipengaruhi faktor global.

Tekanan utama justru dari dalam negeri, khususnya defisit APBN yang semakin mendekati batas 3% terhadap PDB. Defisit APBN sebelumnya diperkirakan naik ke 2,9% terpicu kenaikan harga minyak, namun Purbaya memperkirakan turun sedikit ke 2,8%.

Angka-angka itu lebih tinggi dari asumsi APBN 2026 dengan defisit 2,68%. Menurut dia, masalah defisit ini menjadi momok bagi rupiah.

Negara-negara ASEAN sudah menyesuaikan harga bahan bakar mengikuti harga pasar, sehingga beban anggaran lebih ringan karena tak perlu menanggung subsidi lebih besar.

Sementara Indonesia tetap mempertahankan harga BBM bersubsidi. Akibatnya tekanan terhadap anggaran meningkat dan kebutuhan dolar untuk impor membesar, yang kemudian turut membebani nilai tukar rupiah.

Ibrahim menyarankan pemerintah mengkaji ulang kebijakan subsidi energi, termasuk kemungkinan penyesuaian harga BBM nonsubsidi untuk menekan beban fiskal.

Pelemahan nilai tukar rupiah pada perdagangan kemarin merupakan yang terdalam di Asia. Analis menilai pelemahan rupiah terutama dipengaruhi faktor domestik, khususnya kekhawatiran defisit APBN yang hampir menyentuh batas 3% dari PDB.

Kekhawatiran tersebut beralasan karena beban APBN semakin berat ketika pemerintah tetap mempertahankan harga BBM di saat harga minyak dunia melonjak jauh di atas asumsi APBN yang USD 70/barel.

Untunglah, mulai Sabtu kemarin, Pertamina menyesuaikan harga sebagian BBM nonsubsidi. Ini akan meringankan beban subsidi dan kompensasi yang harus dikeluarkan pemerintah.

Keputusan mempertahankan harga 2 jenis BBM nonsubsidi lain – Pertamax dan Pertamax Green – meski masih menjadi beban APBN, akan membantu menjaga daya beli masyarakat lebih luas.

Kedua jenis BBM tersebut, biasa dikonsumsi masyarakat kelas menengah yang selama ini menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi. Namun, yang dikhawatirkan adalah migrasi pengguna BBM dari yang mahal ke yang lebih murah.

Jika itu terjadi, tujuan meringankan beban subsidi dan kompensasi energi tak sepenuhnya terwujud.***