Puisi Berthold Damshäuser: Indonesia Krisis, Krisis Melulu
INDONESIA KRISIS, KRISIS MELULU
Oleh Berthold Damshäuser alias Pak Trum
ORBITINDONESIA.COM - Mereka pecinta krisis.
Pagi-pagi membuka ponsel:
krisis.
Siang hari menyeruput kopi susu:
krisis.
Malam hari mengunggah swafoto
dengan sudut kamera yang revolusioner:
krisis.
Mereka mencintai kata itu
seperti kolektor perangko
mencintai perangko langka.
Padahal krisis,
kata orang Yunani kuno,
berarti persimpangan.
Saat memilih jalan.
Saat sejarah bertanya:
ke mana?
Tetapi para pecinta krisis
tak suka persimpangan.
Mereka sudah membawa peta
sebelum berangkat.
Mereka tak ingin memilih jalan.
Mereka ingin jalan raya
yang lurus menuju kepastian.
"Krisis!"
teriak mereka.
Sebab harga kopi naik.
"Krisis!"
karena liburan ke Singapura
harus ditunda tiga bulan.
"Krisis!"
karena cicilan SUV terasa berat.
"Krisis!"
karena saham turun
dan tetangga membeli mobil yang lebih mahal.
Negeri di ambang kehancuran,
demikian status mereka.
Lalu sopir pribadi datang menjemput.
Sebagian lagi mahasiswa.
Katanya lapar.
Tetapi kartu kredit ayah
masih kenyang.
Katanya masa depan suram.
Tetapi uang kos
datang tepat tanggal satu.
Katanya rakyat menderita.
Dan rakyat yang dimaksud
sering kali
belum sempat diajak bicara.
Tetapi satu hal
sudah dipastikan:
Program Makan Bergizi Gratis
harus dihentikan.
Rakyat lapar?
Itu soal lain.
Mereka melihat inflasi tiga persen
seperti melihat kiamat.
Mereka melihat daya beli turun sedikit
seperti melihat meteorit.
Mereka menyebut segala sesuatu
dengan satu kata:
krisis.
Kata yang praktis.
Kata yang hemat tenaga berpikir.
Padahal di luar jendela
hutan terbakar.
Laut naik perlahan.
Karang memutih.
Spesies menghilang
tanpa konferensi pers.
Rudal-rudal nuklir
masih tidur
dengan satu mata terbuka.
Dan algoritma
sedang belajar
menggantikan keputusan manusia
lebih cepat
daripada manusia belajar
menggantikan prasangkanya.
Tetapi itu terlalu jauh.
Terlalu besar.
Terlalu rumit.
Lebih mudah mengeluh
karena harga brunch naik.
Lebih mudah mengumumkan keruntuhan bangsa
dari meja kafe berpendingin udara.
Lebih mudah menjadi nabi bencana
jika bencananya
hanya menyentuh dompet.
Indonesia krisis,
kata mereka.
Indonesia krisis,
ulang mereka.
Indonesia krisis,
lagi dan lagi.
Mungkin benar.
Tetapi bukan karena negeri ini
sedang runtuh.
Mungkin karena terlalu banyak orang
yang mengira
setiap berkurangnya kenyamanan
adalah tragedi sejarah.
Dan setiap gangguan kecil
pada gaya hidup mereka
adalah akhir peradaban.
Saya berlebihan? Tentu saja!
Sesuaikan diri dengan gaya zaman saja ….
(Jakarta, 17 Juni 2026)
Berthold Damshäuser, akrab dipanggil “Pak Trum”, lahir pada tahun 1957 di Wanne-Eickel, Jerman. Sejak 1986 hingga 2023, ia mengabdikan dirinya sebagai pengajar bahasa dan sastra Indonesia di Universitas Bonn. Ia adalah koeditor Orientierungen, jurnal bergengsi yang mengkaji kebudayaan Asia. Damshäuser dikenal luas sebagai penerjemah puisi—mengalihkan karya-karya Jerman ke dalam bahasa Indonesia dan sebaliknya—serta beberapa kali dipercaya menjadi penerjemah Presiden Suharto dalam kunjungan kenegaraan. Bersama Agus R. Sarjono, ia menyunting Seri Puisi Jerman yang diterbitkan sejak 2003. Pada 2010, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia menunjuknya sebagai Presidential Friend of Indonesia. Pada 2014 dan 2015, ia diundang menjadi anggota Komite Nasional Indonesia sebagai Tamu Kehormatan Pekan Raya Buku Frankfurt. Esai-esainya dalam bahasa Indonesia telah menghiasi halaman Majalah Tempo, Jurnal Sajak, dan berbagai media terkemuka. Karya-karya tulisnya dihimpun dalam buku Ini dan Itu Indonesia – Pandangan Seorang Jerman. Salah satu karya terbarunya, Eksegesis Pancasila: Membaca Ulang Lima Sila. Amatan Seorang Jerman, diterbitkan di Jakarta pada tahun 2025. Sejak 2023, ia menjadi anggota Persatuan Penulis Indonesia (Satupena). Ia menetap di Bonn, Jerman. ***