Serentak di 64 Wilayah, WIKA Turun Tangan Lawan Stunting Lewat Edukasi Gizi dan Aksi Nyata
ORBITINDONESIA.COM — Pagi itu, suasana posyandu di kawasan Pulo Gadung, Jakarta Timur, terasa lebih ramai dari biasanya. Para ibu datang membawa anak-anak mereka, bukan hanya untuk penimbangan rutin, tetapi juga untuk belajar sesuatu yang lebih penting: bagaimana memastikan tumbuh kembang anak tetap optimal sejak dini.
Di ruang sederhana itu, diskusi tentang makanan pendamping ASI (MPASI) berubah menjadi percakapan yang hangat—tentang harapan, tentang masa depan anak, dan tentang peran kecil yang bisa berdampak besar.
Kegiatan ini merupakan bagian dari gerakan WIKA Peduli Stunting yang diinisiasi oleh Wijaya Karya dalam rangka peringatan hari ulang tahun ke-64 perusahaan sekaligus momentum Hari Gizi Nasional.
Namun yang membuat program ini berbeda adalah skalanya.
Pada Rabu (21/02/2025), kegiatan ini tidak hanya berlangsung di satu titik. Secara serentak, seminar dan aksi sosial digelar di 64 wilayah kerja WIKA di seluruh Indonesia—sebuah gerakan kolektif yang menyasar langsung masyarakat.
Mengusung tema “MPASI Kaya Protein Hewani Cegah Stunting”, program ini berfokus pada edukasi gizi bagi para orang tua, khususnya ibu dengan anak usia dini.
Di Pulo Gadung, anak perusahaan WIKA, WIKA Realty, turut ambil bagian dengan menggandeng Posyandu Dahlia. Kolaborasi ini menghadirkan penyuluhan gizi sekaligus bantuan kesehatan bagi masyarakat sekitar.
Bagi banyak keluarga, informasi tentang gizi seimbang sering kali masih terbatas. Padahal, pemenuhan nutrisi pada masa awal kehidupan menjadi faktor kunci dalam mencegah stunting—kondisi gagal tumbuh yang masih menjadi tantangan di Indonesia.
Melalui pendekatan yang sederhana dan langsung menyentuh kebutuhan masyarakat, WIKA mencoba menjembatani kesenjangan tersebut.
Tidak hanya melalui seminar, tetapi juga dengan distribusi makanan bergizi serta edukasi praktis yang bisa langsung diterapkan di rumah.
Program ini dirancang bukan sebagai kegiatan sesaat, melainkan sebagai upaya jangka panjang. Tujuannya jelas: menurunkan prevalensi stunting sekaligus membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya gizi anak.
Di balik angka dan target, ada cerita-cerita kecil yang menjadi inti dari gerakan ini.
Tentang seorang ibu yang mulai memahami pentingnya protein hewani dalam MPASI. Tentang anak-anak yang mendapatkan asupan lebih baik. Tentang komunitas yang perlahan berubah karena pengetahuan yang dibagikan.
Bagi WIKA, tanggung jawab sosial tidak berhenti pada pembangunan infrastruktur fisik.
Lebih dari itu, ia adalah tentang membangun kualitas manusia—tentang memastikan generasi mendatang tumbuh sehat, kuat, dan siap menghadapi masa depan.
Di tengah berbagai tantangan kesehatan masyarakat, langkah seperti ini menjadi pengingat bahwa perubahan besar sering kali dimulai dari hal sederhana.
Dari satu posyandu, satu keluarga, dan satu keputusan untuk memberi yang terbaik bagi anak-anak Indonesia.***