Pengkhianatan Mossad di Beirut: Kisah Tersembunyi di Balik Tragedi Tewasnya 241 Marinir Amerika
ORBITINDONESIA.COM - Pada musim panas 1983, di tengah kekacauan perang saudara Lebanon, seorang informan menyampaikan kabar mengejutkan kepada Mossad, dinas intelijen Israel yang terkenal dengan jaringan mata-matanya yang luas.
Informan itu melaporkan bahwa sekelompok Muslim Syiah sedang memodifikasi sebuah truk Mercedes berukuran besar.
Bukan modifikasi biasa, truk itu sedang diberi ruang-ruang tersembunyi yang sangat besar, jauh lebih besar dari yang biasanya digunakan. Ini hanya bisa berarti satu hal: targetnya bukan sembarang target. Targetnya adalah sesuatu yang besar.
Mossad segera berpikir. Di Beirut saat itu, hanya ada segelintir target yang sepadan dengan skala ancaman seperti ini. Dan salah satu yang paling logis adalah kompleks militer Amerika Serikat.
Marinir AS memang sedang bertugas di Lebanon sebagai bagian dari pasukan perdamaian internasional, mencoba meredam konflik yang telah memorak-porandakan negeri itu selama bertahun-tahun.
Informasi sepenting ini tidak bisa diputuskan sendiri oleh kantor Mossad di Beirut. Laporan itu naik ke Tel Aviv, langsung ke meja Admony, kepala Mossad saat itu. Di sinilah keputusan yang akan mengubah sejarah itu dibuat.
Admony memutuskan: Amerika tidak akan diberi tahu secara spesifik.
Bukan karena informasinya meragukan. Bukan karena mereka tidak yakin. Tapi karena ada prinsip dingin yang dipegang teguh: "Kita di sini bukan untuk melindungi orang Amerika. Mereka super power. Kirim saja informasi rutin".
Maka Amerika pun hanya menerima peringatan umum yang samar-samar. Sekadar bisikan bahwa "ada kemungkinan seseorang sedang merencanakan sesuatu." Tidak ada nama. Tidak ada deskripsi truk. Tidak ada detail apa pun yang bisa membuat penjaga keamanan benar-benar waspada.
Peringatan seperti itu sudah terlalu sering datang. Dalam enam bulan sebelumnya saja, sudah ada lebih dari seratus peringatan umum soal ancaman bom mobil. Satu peringatan lagi tidak akan membuat siapa pun bergerak lebih cepat.
Yang menyedihkan bahkan menyakitkan bagi AS adalah kenyataan bahwa semua instalasi dan personel Israel di kawasan itu justru mendapat peringatan yang sangat spesifik. Mereka tahu harus mencari truk seperti apa. Mereka tahu harus mewaspadai apa. Sementara sekutu mereka dibiarkan dalam kegelapan.
Fajar tanggal 23 Oktober 1983, Pukul 06.20 pagi.
Sebuah truk Mercedes besar perlahan mendekati bandara Beirut. Truk itu melintas dalam jarak pandang langsung penjaga-penjaga Israel di pangkalan mereka di dekat sana. Lalu melewati pos pemeriksaan tentara Lebanon. Lalu berbelok masuk ke tempat parkir.
Seorang penjaga Marinir AS melihat truk itu mulai melaju kencang. Ia melaporkannya dengan panik. Tapi tidak ada yang bisa dilakukan.
Truk itu menghantam gerbang besi. Menghancurkan pos penjagaan. Menembus dinding karung pasir. Masuk ke lobi gedung lalu meledak.
Ledakan dengan kekuatan yang begitu dahsyat hingga gedung Aviation Safety Building empat lantai markas Batalion Marinir Kedelapan hancur dan rata dengan tanah dalam hitungan detik.
Beberapa menit kemudian, truk kedua meledak di markas pasukan parasut Prancis di kawasan Bir Hasan, hanya dua mil dari sana. Gedung itu bergeser 30 kaki dari fondasinya. Lima puluh delapan tentara Prancis tewas seketika.
Tapi korban terbesar ada di pihak Amerika. 241 Marinir AS tewas pada hari itu, sebagian besar masih tidur di tempat peristirahatan mereka ketika bom meledak. Ini menjadi hari paling mematikan bagi militer Amerika sejak Perang Vietnam, melampaui tragedi ofensif Tet pada Januari 1968.
Di markas Mossad, kabar itu disambut dengan... kelegaan.
Bukan kesedihan. Bukan penyesalan. Lega karena bukan instalasi mereka yang hancur. Dalam pandangan para petinggi Mossad, ini hanyalah "insiden kecil." Mereka memang tahu ancaman itu, tapi tidak memberi tahu siapa pun dan alasannya sederhana: jika informasi bocor dan terlacak, informan mereka bisa terbunuh.
Sikap terhadap Amerika pun diungkapkan dengan terang-terangan di antara mereka: Mereka mau ikut campur urusan Lebanon, ya biar mereka tanggung sendiri akibatnya.
Hanya satu orang yang tidak bisa menerima sikap itu, dia adalah Victor Ostrovsky. Seorang agen Mossad yang kemudian hari menulis pengakuan sebagai bentuk pengakuan nuraninya.
Ostrovsky angkat bicara kepada atasannya, perwira penghubung Amy Yaar. Ia katakan bahwa para Marinir Amerika itu datang bukan untuk mencari masalah. Mereka datang dengan itikad baik untuk membantu menstabilkan Lebanon dari kekacauan yang sebagian juga diciptakan oleh kebijakan Israel sendiri. Mereka layak mendapat perlindungan, atau setidaknya, peringatan.
Tapi atasannya memotong keras: "Diam. Kamu bicara di luar kapasitasmu. Kita sudah memberi Amerika jauh lebih banyak dari yang mereka berikan kepada kita."
Ostrovsky tahu itu tidak benar. Ia tahu betul berapa banyak peralatan militer Israel yang berasal dari Amerika. Ia tahu betapa dalamnya utang budi Israel kepada AS. Tapi di dalam institusi itu, kebenaran seperti itu tidak disambut, ia hanya disambut dengan bentakan untuk diam.
(Sumber: Buku "By Way of Deception: The Making and Unmaking of a Mossad Officer" karya Victor Ostrovsky dan Claire Hoy.) ***