Order Kopi Kenangan di Gojek-Grab Meledak Gara-gara Haechan NCT

detikInet

detikInet

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Order Kopi Kenangan di Gojek dan Grab mendadak jadi “perang” digital, dengan antrean driver yang disebut bisa tembus satu jam. Pemicu utamanya adalah kolaborasi dan merchandise yang dikaitkan dengan Haechan NCT, yang membuat permintaan melonjak serentak.

Di media sosial X, warganet membagikan cerita kesulitan memesan dan kondisi gerai yang kewalahan. Seorang pengguna menulis, “rame poll sampe barista keteteran,” sementara yang lain mengaku “ngatri tadi 1 jam an.”

Keluhan juga muncul soal aplikasi yang melambat, bahkan outlet mendadak “tutup” di aplikasi karena pesanan menumpuk. Ada yang menulis, “ngedown kah server kopken,” dan dibalas bahwa aplikasi terasa “lemott.”

Fenomena ini bukan hal baru dalam ekonomi fandom yang bertemu sistem pesan-antar. Ketika brand menggandeng artis, permintaan bisa terkonsentrasi dalam jam yang sama, lalu menekan kapasitas barista, stok, dan alur antrean driver.

Lonjakan order seperti ini bekerja seperti “flash sale,” tetapi yang dijual bukan sekadar kopi, melainkan rasa eksklusif lewat merchandise. Akibatnya, konsumen tidak hanya mengejar minuman, melainkan mengejar kelangkaan yang diproduksi oleh waktu rilis dan kuota.

Dalam rantai layanan, beban paling nyata justru berpindah ke gerai dan driver online. Barista menghadapi puncak produksi, sementara driver menanggung waktu tunggu yang panjang, yang berarti peluang order lain hilang.

Petunjuk dampaknya terlihat dari testimoni warganet tentang antrean dan aplikasi yang tersendat. Meski tidak ada angka resmi yang dipublikasikan, narasi “ramai pol” dan “1 jam” menunjukkan terjadinya bottleneck pada jam sibuk kolaborasi.

Indonesia pernah mengalami pola serupa saat BTS Meal di McDonald’s pada Juni 2021. Saat itu, kerumunan dan antrean memicu pembatasan layanan, bahkan beberapa laporan menyebut driver terpaksa membatalkan pesanan karena waktu tunggu berjam-jam.

Perbandingan ini penting karena memperlihatkan pola yang berulang, yaitu promosi berbasis fandom memicu ledakan permintaan yang melampaui kapasitas operasional. Bedanya, kini tekanan terasa lebih “sunyi,” karena antrean banyak terjadi di balik layar aplikasi, tetapi tetap nyata di gerai.

Secara bisnis, kolaborasi seperti ini efektif untuk menaikkan trafik dan percakapan merek. Namun secara sistem, ia menciptakan biaya tersembunyi berupa kemacetan layanan, risiko penurunan kualitas, dan ketegangan antara target penjualan dan kesejahteraan pekerja lapangan.

Yang menarik, euforia fandom sering dibaca sebagai kemenangan pemasaran, tetapi jarang dihitung sebagai beban kerja yang dialihkan. Ketika server melambat dan outlet “menghilang” dari aplikasi, itu bukan sekadar masalah teknis, melainkan sinyal kapasitas yang dipaksa bekerja di luar batas.

Driver online berada di posisi paling rentan karena pendapatan mereka berbasis waktu dan jumlah trip. Menunggu satu jam untuk satu pesanan berarti mereka menanggung risiko ekonomi yang tidak selalu diganti oleh sistem insentif.

Brand dan platform seharusnya belajar dari kasus-kasus sebelumnya, termasuk BTS Meal, agar lonjakan permintaan tidak selalu berujung kekacauan. Pengaturan slot order, kuota per gerai, transparansi estimasi waktu, dan kompensasi waktu tunggu dapat menjadi standar minimal.

Di sisi lain, konsumen juga perlu melihat bahwa “war” bukan sekadar permainan, karena ada tenaga manusia yang menahan dampaknya. Antusiasme bisa tetap hidup tanpa harus membuat layanan publik digital berubah menjadi kemacetan kolektif.

Keramaian order Kopi Kenangan di Gojek dan Grab akibat Haechan NCT menunjukkan betapa kuatnya ekonomi fandom dalam menggerakkan transaksi. Namun ia juga mengingatkan bahwa di balik satu gelas kopi dan satu merchandise, ada sistem kerja yang bisa tersendat dan orang-orang yang menunggu.

Pertanyaannya, apakah kolaborasi berikutnya akan terus mengulang pola yang sama, atau justru mendorong standar baru yang lebih adil bagi barista dan driver. Jika promosi bisa dirancang untuk viral, semestinya perlindungan operasional juga bisa dirancang untuk manusia.

(Orbit dari berbagai sumber, 7 Agustus 2026)