Net Foreign Sell 2026 Tembus Rp94 Triliun, IHSG Tertekan

Kompas.com

Kompas.com

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Net foreign sell 2026 menembus Rp 94,09 triliun di pasar reguler, sinyal keras bahwa dana asing masih keluar dari bursa. Di tengah arus ini, IHSG menghadapi bayang-bayang tekanan yang tidak bisa ditutupi sekadar euforia sesaat.

Data BEI yang dikutip melalui RTI (28/7/2026) menunjukkan jual bersih investor asing di seluruh pasar mencapai Rp 79,91 triliun secara year to date. Pada saat yang sama, pasar negosiasi dan tunai masih mencatat net foreign buy Rp 14,18 triliun.

Kontras ini penting karena publik sering menyederhanakan narasi menjadi “asing kabur” tanpa melihat kanal transaksi yang berbeda. Padahal, pergeseran antar-pasar bisa mengubah cara membaca arah sentimen terhadap IHSG.

Sepanjang 2026, nilai transaksi sudah menyentuh Rp 2.976,9 triliun, dan investor asing menyumbang 35,96 persen dari totalnya. Rinciannya, nilai beli asing Rp 1.030,6 triliun dan nilai jual Rp 1.110,5 triliun, menegaskan tekanan jual yang konsisten.

Investor domestik memegang 64,04 persen nilai transaksi, dengan beli Rp 1.946,3 triliun dan jual Rp 1.866,4 triliun. Dominasi domestik ini menjadi bantalan, tetapi juga bisa berarti pasar makin bergantung pada daya tahan uang lokal saat arus asing melemah.

Dari sisi volume, total saham yang berpindah tangan mencapai 5,3 triliun lembar sepanjang tahun ini. Asing berkontribusi 21,45 persen volume, sementara domestik menguasai 78,55 persen, memperlihatkan pusat gravitasi likuiditas ada di investor lokal.

Pada perdagangan Selasa pekan ini, asing kembali mencatat net foreign sell Rp 1,07 triliun di seluruh pasar. Rinciannya, pasar reguler Rp 788,57 miliar dan negosiasi serta tunai Rp 276,89 miliar, dengan total nilai transaksi harian Rp 10,9 triliun.

Asing menyumbang 35,01 persen dari transaksi hari itu, tetapi penjualannya Rp 4,4 triliun melampaui pembelian Rp 3,3 triliun. Pola ini mengirim pesan sederhana: ada kehati-hatian yang belum selesai, bukan sekadar aksi ambil untung biasa.

Net foreign sell yang besar bukan otomatis vonis buruk bagi IHSG, tetapi ia adalah termometer kepercayaan global pada risiko Indonesia. Ketika arus keluar berlangsung lama, pasar cenderung lebih rapuh terhadap berita negatif kecil, karena likuiditas “pembeli terakhir” mengecil.

Namun, dominasi domestik juga mengandung ironi: pasar terlihat kuat, tetapi bisa menjadi kuat yang rapuh jika hanya ditopang rotasi uang lokal. Jika investor domestik mendadak defensif, ruang penyangga menyempit, dan volatilitas mudah membesar.

Perbedaan data antara pasar reguler dan negosiasi-tunai mengingatkan bahwa strategi pelaku besar tidak selalu tercermin di papan utama. Bisa ada akumulasi selektif di luar reguler, tetapi tekanan harga tetap terasa karena pembentukan harga utama terjadi di pasar reguler.

Karena itu, pembacaan publik seharusnya bergeser dari “asing masuk atau keluar” menjadi “asing keluar dari mana, pada saham apa, dan di momentum apa.” Tanpa disiplin membaca detail, investor ritel mudah terjebak narasi harian yang bising, lalu mengambil keputusan emosional.

Angka Rp 94,09 triliun net foreign sell di pasar reguler adalah fakta yang tidak bisa dipoles, dan ia menjelaskan mengapa IHSG sering bergerak dengan beban psikologis. Tetapi data yang sama juga menunjukkan pasar tetap hidup karena domestik menjaga mayoritas transaksi dan volume.

Pertanyaannya kini bukan sekadar kapan asing kembali, melainkan apakah fondasi likuiditas lokal cukup kuat untuk menunggu dan menyaring saham berkualitas. Di tengah arus yang belum ramah, ketenangan membaca data mungkin lebih bernilai daripada keberanian yang lahir dari rumor. (Orbit dari berbagai sumber, 13 Agustus 2026)