Program KEJAR 2026 Bank Jakarta Dorong Inklusi Keuangan Pelajar

ORBITINDONESIA.COM – Program KEJAR 2026 (One Account One Student) Bank Jakarta bersama OJK menyasar inklusi keuangan pelajar dan budaya menabung sejak dini di SMAN 28 Jakarta. Dua siswa kelas XI menilai edukasi literasi keuangan ini relevan karena mengajarkan cara mengelola uang, bukan sekadar membuka rekening.

Literasi keuangan remaja sering tertinggal dibanding derasnya arus konsumsi digital yang membuat uang cepat keluar, tetapi sulit ditata. Karena itu, akses rekening saja tidak cukup jika tidak dibarengi kebiasaan dan pengetahuan mengelola uang.

KEJAR 2026 hadir sebagai kolaborasi pemerintah daerah, perbankan, dan regulator untuk memperluas akses layanan keuangan bagi siswa. Di atas kertas, ini menjawab dua kebutuhan sekaligus: inklusi keuangan dan pendidikan finansial yang lebih praktis.

Zahwa Azalea Reza, siswa kelas XI, menilai program ini membuat pelajar memahami pentingnya menabung dan mengatur uang sejak sekarang. Ia juga menekankan bahwa edukasi membuka wawasan tentang layanan perbankan, bukan hanya “taruh uang” di tabungan.

Musthafa Ahmad Hermana menyebut kegiatan KEJAR memberi pengalaman belajar yang interaktif dan relevan. Baginya, pelajar perlu memahami bahwa tabungan adalah instrumen untuk masa depan, bukan sekadar kewajiban sekolah.

Bank Jakarta mencatat per April 2026 mengelola lebih dari 2,4 juta rekening pelajar dengan total simpanan Rp1,81 triliun dari Tabungan Pelajar, SimPEL, dan KJP Plus. Angka ini menunjukkan skala besar, tetapi juga memunculkan pertanyaan kualitas: apakah rekening aktif dipakai dan apakah perilaku finansial siswa benar-benar berubah.

Bank Jakarta juga menyalurkan bantuan pendidikan seperti KJP Plus dan KJMU, sehingga rekening pelajar sering menjadi “pintu masuk” dana bantuan. Kondisi ini efektif memperluas akses, namun berisiko menjadikan rekening hanya alat penyaluran jika tidak diiringi pembelajaran penganggaran, tujuan menabung, dan kontrol belanja.

Penghargaan “best KEJAR implementation” kategori Bank Pembangunan Daerah pada 2025 memberi legitimasi atas eksekusi program. Namun penghargaan tidak otomatis menjadi bukti dampak jangka panjang, karena indikator perubahan perilaku biasanya baru terlihat setelah beberapa tahun.

KEJAR 2026 patut diapresiasi karena menempatkan remaja sebagai subjek utama inklusi keuangan, bukan sekadar target pembukaan rekening. Tetapi narasi sukses akan lebih kuat jika publik disuguhi metrik yang lebih tajam, seperti frekuensi menabung, rata-rata saldo aktif, serta capaian literasi sebelum dan sesudah program.

Di era dompet digital dan “paylater”, literasi keuangan harus menyentuh sisi paling rawan: impuls belanja, tekanan sosial, dan ilusi uang mudah. Jika modul hanya berhenti pada definisi tabungan dan produk bank, program berpotensi kalah cepat dari algoritma promosi konsumsi yang ditemui siswa setiap hari.

Program ini juga perlu menjaga batas etis antara edukasi dan pemasaran, agar sekolah tidak menjadi ruang promosi terselubung. OJK dan pemerintah daerah sebaiknya memastikan materi fokus pada keterampilan inti: anggaran sederhana, dana darurat, tujuan menabung, serta risiko utang.

KEJAR 2026 memperlihatkan bahwa inklusi keuangan pelajar bisa dikerjakan dalam skala besar, sekaligus menyasar perubahan kebiasaan. Tantangan berikutnya adalah memastikan rekening pelajar bukan sekadar angka, melainkan cermin disiplin finansial yang tumbuh.

Pada akhirnya, pertanyaan pentingnya sederhana: setelah program usai, apakah siswa masih menabung karena paham tujuan, atau hanya karena pernah diarahkan. Jika jawabannya yang pertama, maka KEJAR bukan hanya program, melainkan investasi sosial yang sunyi namun menentukan. (Orbit dari berbagai sumber, 9 Juli 2026)