"Di Hatiku, Aku Adalah Orang Palestina": Ketika Diego Maradona Membela Palestina

Diego Maradona, bintang sepak bola asal Argentina.

Diego Maradona, bintang sepak bola asal Argentina.

People & Lifestyle

ORBITINDONESIA.COM - Bagi sebagian besar orang, Diego Maradona akan selalu dikenang sebagai salah satu pesepak bola terbesar sepanjang sejarah. Namun, bagi banyak warga Palestina, ia bukan sekadar legenda sepak bola, melainkan juga tokoh internasional yang berani menyuarakan dukungan politik kepada perjuangan mereka ketika banyak figur publik memilih diam.

Artikel Al Jazeera (26 November 2020) mengisahkan bahwa setelah Maradona wafat akibat serangan jantung pada usia 60 tahun, ucapan belasungkawa tidak hanya datang dari dunia sepak bola.

Banyak warga Palestina dan para pendukung perjuangan Palestina mengenangnya sebagai sosok yang secara konsisten menunjukkan solidaritas selama bertahun-tahun.

Menurut artikel tersebut, Maradona dikenal memiliki pandangan politik yang tegas. Ia sering digambarkan sebagai figur anti-imperialisme dan dekat dengan sejumlah pemimpin Amerika Latin berhaluan kiri, seperti Hugo Chávez, Fidel Castro, dan Evo Morales.

Ia juga beberapa kali tampil mengenakan kaus yang mengkritik kebijakan Presiden AS saat itu, George W. Bush.

Dukungan Maradona terhadap Palestina bukan muncul sekali atau dua kali. Pada tahun 2012, ia menyebut dirinya sebagai "penggemar nomor satu rakyat Palestina".

Dalam pernyataannya, ia mengatakan bahwa dirinya menghormati dan bersimpati kepada rakyat Palestina serta mendukung mereka tanpa rasa takut.

Dua tahun kemudian, ketika terjadi operasi militer Israel di Jalur Gaza pada 2014, Maradona kembali mengeluarkan pernyataan keras. Ia menyebut tindakan Israel terhadap rakyat Palestina sebagai sesuatu yang "memalukan".

Pernyataan tersebut kembali memperkuat citranya sebagai salah satu figur olahraga dunia yang tidak ragu mengambil sikap dalam isu politik internasional.

Artikel itu juga mengingatkan bahwa pada 2015 sempat muncul laporan mengenai kemungkinan Maradona menjadi pelatih tim nasional Palestina dalam ajang Piala Asia AFC.

Walaupun rencana tersebut akhirnya tidak terwujud, kabar itu menunjukkan kedekatannya dengan komunitas sepak bola Palestina.

Puncak simbolisme dukungannya terjadi pada Juli 2018 di Moskow ketika ia bertemu dengan Presiden Palestina, Mahmoud Abbas. Dalam pertemuan singkat menjelang final Piala Dunia itu, Maradona memeluk Abbas dan mengucapkan kalimat yang kemudian menjadi sangat terkenal:

"In my heart, I am Palestinian."

Video pertemuan tersebut diunggah ke akun Instagram Maradona dan kemudian beredar luas di berbagai media internasional maupun media sosial. Kalimat inilah yang kemudian menjadi salah satu kutipan politik paling dikenal dari Maradona menjelang akhir hidupnya.

Artikel Al Jazeera juga menyinggung bahwa pada tahun yang sama Maradona mengkritik kebijakan luar negeri Amerika Serikat terhadap Suriah.

Sikap tersebut dipandang konsisten dengan pandangan politiknya yang selama bertahun-tahun sering mengkritik intervensi negara-negara besar terhadap negara lain.

Ketika Maradona meninggal dunia, berbagai tokoh Palestina menyampaikan penghormatan. Salah satunya adalah juru bicara Hamas, yang menyebut Maradona sebagai salah satu pesepak bola terbesar dunia sekaligus sosok yang dikenal karena dukungannya terhadap perjuangan Palestina.

(Satrio Arismunandar) ***