Deteksi Dini TBC Pekalongan: ACF Skrining Kontak Erat 1.350 Orang

ANTARA News Jateng

ANTARA News Jateng

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Deteksi dini TBC di Pekalongan kini dipercepat lewat program Active Case Finding (ACF) yang menyasar skrining kontak erat pasien. Pemkot Pekalongan menargetkan sekitar 1.350 orang diperiksa dari 140 pasien TBC yang sedang menjalani pengobatan.

Selama ini penemuan kasus TBC di Pekalongan cenderung pasif, menunggu warga yang bergejala datang ke fasilitas kesehatan. Pola ini membuat banyak kasus berpotensi terlambat ditemukan, sementara penularan bisa terus terjadi di rumah dan lingkungan sekitar.

Kepala Dinkes Kota Pekalongan Puji Winarti menegaskan pendekatan baru ini berangkat dari fakta sederhana: satu pasien tidak berdiri sendiri. “Dari kasus tersebut kami akan melakukan penelusuran kepada keluarga maupun masyarakat di sekitarnya,” katanya, dengan target skrining sekitar 1.350 orang.

ACF dijalankan setelah peluncuran pada Juli 2026 dan berlangsung hingga September 2026, melibatkan petugas puskesmas serta kader kesehatan. Pemkot juga menggandeng kader dari Mentari Sehat Indonesia untuk memperkuat penelusuran kasus di lapangan.

Logika ACF menempatkan “kontak erat” sebagai titik kendali, karena TBC menular lewat droplet saat penderita batuk atau bersin di ruang yang ventilasinya buruk. Dengan mendatangi lingkungan pasien terdiagnosis, petugas memotong rantai penularan lebih cepat dibanding menunggu gejala memburuk.

Target 1.350 skrining dari 140 pasien memberi gambaran skala kerja: rata-rata hampir 10 orang per pasien yang perlu ditelusuri. Angka ini masuk akal untuk keluarga inti, tetangga dekat, dan rekan aktivitas harian, tetapi menuntut disiplin pendataan yang rapi agar tidak ada kontak yang terlewat.

Puji Winarti mengingatkan gejala yang perlu diwaspadai seperti batuk lebih dari dua minggu, demam terutama pada malam hari, dan penurunan nafsu makan. Gejala ini sering dianggap “masuk angin berkepanjangan”, sehingga keterlambatan pemeriksaan menjadi pola yang berulang.

Ia juga menekankan faktor risiko yang mempercepat penularan, seperti sanitasi lingkungan yang kurang baik dan kontak dengan penderita yang belum menyelesaikan pengobatan. Di titik ini, ACF bukan sekadar kegiatan medis, melainkan intervensi sosial yang menyentuh perilaku, kepatuhan terapi, dan kualitas hunian.

Pengobatan TBC minimal enam bulan, dan pada kondisi tertentu bisa diperpanjang hingga satu tahun bahkan dua tahun sesuai keparahan. Durasi panjang ini menjelaskan mengapa putus obat menjadi ancaman serius, karena memperpanjang masa menular dan membuka peluang kasus yang lebih sulit ditangani.

Secara global, WHO menempatkan TBC sebagai salah satu penyakit menular mematikan, dan Indonesia selama beberapa tahun terakhir termasuk negara dengan beban TBC tinggi. Karena itu, langkah Pekalongan sejalan dengan tren kebijakan kesehatan publik yang menggeser fokus dari “mengobati yang datang” menjadi “mencari yang berisiko”.

ACF patut dibaca sebagai koreksi atas kebiasaan lama yang terlalu bergantung pada kesadaran individu, padahal TBC adalah masalah komunitas. Ketika negara menunggu warga datang, yang terjadi sering kali adalah warga menunggu sampai sakitnya parah.

Namun, ACF juga mengandung tantangan etika dan operasional yang tidak kecil, terutama soal stigma dan privasi. Kunjungan petugas ke sekitar rumah pasien bisa memicu gosip, sehingga pendampingan kader harus disertai komunikasi yang melindungi martabat pasien.

Keberhasilan ACF akan ditentukan oleh dua hal yang sering luput dari headline: kualitas skrining dan kesinambungan pengobatan. Menemukan kasus tanpa memastikan pasien menuntaskan terapi hanya memindahkan masalah dari “tidak terdeteksi” menjadi “tidak tuntas”.

Di sisi lain, program ini bisa menjadi pintu masuk memperbaiki isu yang lebih struktural seperti ventilasi rumah, kepadatan hunian, dan sanitasi. Jika ACF berhenti pada pemeriksaan semata, Pekalongan hanya memadamkan api di permukaan tanpa mengurangi bahan bakarnya.

Percepatan deteksi dini TBC lewat ACF di Pekalongan adalah langkah realistis untuk menekan penularan, karena menyasar kontak erat yang paling berisiko. Program ini menuntut ketelitian, empati, dan ketegasan memastikan terapi tuntas minimal enam bulan.

Pada akhirnya, TBC menguji cara kita memandang kesehatan: sebagai urusan pribadi atau tanggung jawab bersama. Jika satu batuk kronis bisa berarti ancaman bagi satu kampung, pertanyaannya sederhana—berapa lama lagi kita menunda pemeriksaan hanya karena takut dicap? (Orbit dari berbagai sumber, 6 Agustus 2026)