Koboi yang Minta Dijemput Istri: Sisi Lain Purbaya yang Tak Pernah Masuk Berita Ekonomi
Oleh Andrian Saputra, kolumnis
ORBITINDONESIA.COM - Purbaya Yudhi Sadewa dikenal sebagai menteri yang blak-blakan. Ia bicara seperti koboi, katanya sendiri. Di rapat DPR, ia bisa menyindir anggota dewan dengan santai, lalu tertawa.
Di podium, ia menolak membaca teks pidato, memilih bicara lepas atau lebih sering, singkat. Tapi di balik semua itu, ada satu sosok yang jarang disorot, Ida Yulidina, istrinya.
Perempuan yang Menang di Atas Panggung, Lalu Memilih Turun
Tahun 1989, Ida Yulidina memenangi Wajah Femina, mengalahkan Diah Permatasari yang harus puas di posisi kedua. Wajahnya menghiasi sampul majalah, namanya disebut-sebut sebagai model pendatang baru yang menjanjikan. Di dunia yang gemar sorotan, ia punya tiket masuk ke panggung hiburan.
Tapi ia memilih turun. Di tahun yang sama, ia menikah dengan Purbaya seorang pria yang saat itu masih merintis karier. Ia meninggalkan sorotan, memilih menjadi istri, lalu ibu dari dua anak: Yuda Purboyo Sunu dan Yudo Achilles Sadewa.
Dari luar, hidup mereka sederhana. Purbaya pernah mengunggah foto mereka naik bajaj ke ITC Fatmawati dengan caption "SATURDATE".
Mereka juga terlihat antre tiket Pekan Raya Jakarta seperti pengunjung biasa. Ida membawa tas Joy Gryson Tribeca seharga Rp3,7 juta, bukan Hermès, bukan Chanel. Di kalangan istri pejabat, ini nyaris seperti memakai seragam pramuka di pesta dansa.
Kesederhanaan yang tidak dibuat-buat. Seperti rumah yang tidak perlu pagar tinggi karena tidak ada yang perlu disembunyikan.
Ada satu momen yang mengungkap dinamika mereka. Saat Purbaya berani menargetkan pertumbuhan ekonomi 6–7 persen di rapat dengan Komisi XI DPR, ia bercerita bahwa istrinya sendiri menyebutnya sombong.
"Istri saya bilang 'kamu sombong'," ujarnya sambil tertawa.
Tapi itu bukan ejekan. Itu cara Ida mengingatkan: jangan terlalu tinggi terbang, nanti sulit mendarat. Dan Purbaya mendengarkan. Ia tidak marah, tidak tersinggung. Ia justru menceritakannya di depan dewan, seolah berkata: "Lihat, bahkan istri saya mengingatkan saya."
Telepon dari Istana
Senin, 14 September 2026. Purbaya masih di ruang rapat Komite IV DPD. Lalu telepon dari Istana. Ia dipanggil. Beberapa jam kemudian, namanya tidak lagi tercatat sebagai Menteri Keuangan.
Di rumah, Ida menunggu. Ia melihat suaminya pulang, bukan dengan langkah koboi yang biasanya tegap, tapi dengan kecewa yang disembunyikan. Ida menulis di media sosial, dengan bahasa yang sederhana tapi menusuk:
"Emang negara kita tidak bisa diperbaiki, kebanyakan orang jahatnya daripada yang jujur."
Bukan kalimat panjang. Bukan pembelaan berapi-api. Hanya satu kalimat yang keluar dari hati seorang istri yang melihat suaminya jatuh dan tahu bahwa jatuhnya bukan karena salah, tapi karena mungkin terlalu jujur.
"Mohon maaf bapak sudah berusaha semaksimal mungkin, kalau masih mengecewakan. Pada akhirnya nanti kebenaran juga akan terungkap."
Ia juga mengungkap sesuatu yang lebih dalam. Dua bulan sebelum pencopotan, Purbaya gelisah. Ia ragu. Ia ingin memutasi "orang-orang mengerikan" tapi takut. Ida hanya berkata:
"Kerjakan saja menurut hati nurani kamu."
Seperti istri yang melihat suaminya berdiri di tepi jurang, dan memilih tidak menariknya, tapi mendorongnya untuk jujur pada dirinya sendiri.
Ada satu detail kecil yang membuat cerita ini terasa sangat manusiawi. Saat kabar pencopotan datang, Purbaya meminta dijemput di kantor. Bukan pulang sendiri. Bukan naik taksi. Ia minta istrinya datang.
"Barusan bapak minta dijemput di kantor, kasihan mungkin dia kecewa tapi nggak papa, semoga kuat."
Seorang menteri yang di depan publik bicara seperti koboi, di belakang panggung minta dijemput istrinya. Bukan karena tidak bisa pulang sendiri, tapi karena ia butuh seseorang yang tidak perlu ia jelaskan apa pun. Seseorang yang sudah tahu, tanpa bertanya, bahwa hari ini berat.
Ida datang. Ia menjemput suaminya. Ia tidak berbicara ke kamera, tidak memberi pernyataan panjang. Ia hanya ada di sana.
Suami Ida
Purbaya mungkin akan kembali ke rumah, memancing di belakang, melamun kenapa ia dipecat. Tapi ia tidak pulang ke rumah kosong. Ada Ida, yang sudah menunggunya sejak 1989. Ada dua anak yang mungkin sedang sibuk dengan dunia mereka sendiri, Yudo dengan trading-nya, Yuda dengan bisnis ikan nilanya.
Di depan publik, Purbaya adalah menteri yang berani menyebut Bea Cukai "sarang mafia" dan menolak membaca teks pidato. Di rumah, ia adalah suami yang minta dijemput saat sedih, dan istrinya menyebutnya "sombong" saat ia terlalu percaya diri.
Itulah sisi lain yang tidak pernah masuk berita ekonomi. Bahwa di balik setiap keputusan besar, ada manusia yang bisa kecewa, bisa gelisah, dan bisa butuh dipeluk tanpa perlu menjelaskan mengapa.
Dan mungkin, di antara semua jabatan yang pernah ia pegang, "suami Ida" adalah satu-satunya yang tidak pernah bisa dicopot oleh siapa pun.
Andrian Saputra
17 September 2026 ***